Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 5


__ADS_3

"


Seperti kisah Pangeran Adam yang dikutuk menjadi si buruk rupa karena kesombongannya.


Kamu pun sama.


Tapi apakah kamu akan mendapat penyelamat sebagaimana Pangeran Adam yang bebas dari kutukan atas bantuan Putri Belle?


Peringatan pertama, jangan sombong!


"


Pesan yang tertera di ponsel Sean menyadarkannya dari kehisterisan akibat kejadian beberapa saat yang lalu.


Hati yang bercampur aduk antara terkejut dan senang seketika berubah menegang. Pesan itu lagi. Membuatnya kembali frustasi.


"Ni orang gak ada kerjaan banget!" Sean berdecak kesal dan memilih pergi ke parkiran menyusul kedua sahabatnya yang sudah menunggu sejak tadi.


"Dari mana aja sih lo? Lumutan kita nunggu." Kesal Arka.


"Cerita di rumah. Pusing gue."


Tanpa basa-basi lagi mereka bertiga menaiki motor sport hitam masing-masing dan melaju meninggalkan kawasan sekolah dengan kecepatan di atas rata-rata.


Sesudah mereka sampai di kediaman Sean, kembali ponsel Sean berbunyi menandakan pesan masuk.


Kamu yang menemukan clue itu?


Aku harap kamu tidak mencoba mencari tau.


Itu sangat berbahaya untukmu.


Dua pesan berisi peringatan atau bisa disebut juga ancaman dalam satu hari ini. Sebenarnya apa maksud dari semua isi pesan dan surat itu?


Dan mengenai clue? Kenapa dia tau?


Sean memasukkan ponsel ke saku celana dan masuk ke dalam rumah bersama Arka dan Sandi.


"Mulai, Yan!" Titah Arka merebahkan diri di ranjang milik Sean.


Sean menyerahkan ponselnya menunjukkan pesan-pesan tadi. Tidak lupa dia juga membuka laci dan menyodorkan clue yang dia dapatkan kemarin kepada mereka berdua.


Arka segera bangkit dari rebahan nya, dan Sandi yang semula duduk di sofa dekat jendela kamar langsung beranjak pindah duduk di ranjang yang Arka duduki.


"Semua kosa kata sama. Gue yakin ini semua pengirimnya adalah orang yang sama."


Sandi mengangguk menyetujui ungkapan Arka.


"Gue gak ngerti pesan yang hari ini ada sama surat yang ada bulu angsanya." Ucap Sandi.


"Untuk masalah surat yang ada bulu angsa, itu gue dapat waktu lihat mayat Risa. Tepatnya clue dari pembunuh yang gue rasa niatnya mau ngasih tau alasan kenapa dia bunuh Risa."


"Ini dari orang yang bunuh Risa?" Ucap Arka melotot mengangkat kertas yang dipegangnya.

__ADS_1


Sean mengangguk.


"Kalo semua yang lo dapat dari kemarin dan clue itu pengirimnya sama, berarti dia ada maksud mau bunuh lo juga!" Heboh Arka.


"Kenapa?" Sandi terheran.


Sedangkan Sean meneguk salivanya susah payah.


"Kalian lihat di pesan terakhir ini! Yang pertama, dia bilang Pangeran Adam dikutuk karena sombong, dan lo juga. Bisa aja lo itu salah satu dari yang ada di list target dia. Dan yang kedua, dia tau lo yang bawa clue, seakan dia tau apa yang bakal terjadi ke depannya dia ancam lo buat gak ikut campur."


"Jadi, maksud lo pembunuh itu udah susun rencana biar Sean masuk ke dalam permainannya?"


Arka mengangguk mantap.


"Bentar deh, kata lo tadi dia gak mau gue ikut campur, terus kenapa dia juga mau gue buat masuk ke permainannya?"


Arka tampak berpikir, "Mungkin itu cuma pengecoh biar lo semakin penasaran terus semakin terjebak."


Sean mengangguk-angguk mengerti.


"Tumben otak lo maju?" Sandi mengejek.


"Otak gue emang maju. Kalo mundur ntar lo malah nanya 'Ka, naha mundur? ' dan gue gak suka kayak gitu."


"Unfaedah banget gue tanya itu."


"Woy! Ah elah ngapain malah bahas maju mundur?"


Sandi yang tidak mau berdebat hanya mendelik saja kepada Arka.


"Kalo yang lo bilang tadi dia jebak gue biar masuk ke permainannya, emang gue salah apa sama dia?"


Sandi mengangguk karena itulah yang dipikirkannya sejak tadi.


"Nah itu tuh yang gue bingung. Mantan lo bukan, Aldi mana mungkin orang jelas-jelas bahasanya perempuan, terus apa salah lo?"


"Lah bege! Ngapain lo nanya balik?"


"Iya yah?" Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah bingung.


Sean hanya bisa menarik nafas dalam. Memang harus memiliki kesabaran extra dalam menghadapi sahabatnya yang satu ini. Padahal baru saja dalam hatinya memuji Arka yang mendadak pintar, tapi keseriusannya dalam berpikir hanya sebentar saja. Selanjutnya hanya akan membuat Sean naik darah.


Malam harinya selesai makan malam bersama keluarga, Sean kembali ke kamar untuk berpikir mengenai pesan-pesan yang dia dapatkan dua hari ini.


Yang Arka katakan tadi sore mungkin benar jika dilihat dari isi pesan-pesan itu. Tapi yang lagi-lagi membuatnya bingung, apa kesalahannya?


Sean merebahkan diri di atas ranjangnya dengan kedua tangan dijadikan sebagai bantal.


Banyak berpikir membuatnya tiba-tiba teringat kejadian tadi siang saat pulang sekolah di kelas. Kejadian yang masih terekam jelas dimemorinya. Jika selama ini Sean yang akan menggoda para gadis, tapi sekarang Sean lah yang justru tergoda.


Jantungnya seperti akan melompat saat bibir Zoya menyapu lembut bibirnya. Anggap saja Sean berlebihan, tapi memang seperti itu yang dia rasakan. Ada sesuatu yang aneh pada perasaannya saat jarak mereka sangat dekat.


Tanpa sadar Sean tersenyum sendiri dan hal itu disaksikan oleh seseorang yang melihatnya dari ambang pintu kamar.

__ADS_1


"Masih betah senyum-senyum sendiri?"


Suara itu membuyarkan lamunannya. Sean gelagapan dan segera bangun dari posisi tidurnya.


"Bunda?"


"Iya ini bunda. Mikirin apa sih?" Ranti -Bunda Sean- duduk di samping anaknya.


"Anu bunda, itu.. Aduh Sean kenapa ya?" Ucapnya meringis malu.


Bunda tertawa pelan lalu mengusap kepala anaknya. "Kamu jatuh cinta, hm? Cerita dong sama bunda!"


"Sean.. Sean gak tau bunda. Gak ngerti juga gimana perasaan Sean."


"Laki-laki itu harus pintar memahami, apalagi memahami diri sendiri yang paling utama."


Sean menghela nafas berat. Ranti membelai kepala anaknya dengan penuh sayang.


°°°°°


Pagi ini Sean sampai di sekolah saat beberapa menit lagi bel akan berbunyi. Semalam tidurnya kurang nyenyak karena terus memikirkan banyak hal yang tidak pernah diduganya. Terlihat sekarang keadaan wajahnya yang sedikit lebih berantakan dari hari-hari sebelumnya.


Saat menapakkan kaki ke dalam kelas, tidak sengaja manik matanya bertemu dengan manik mata cokelat milik gadis yang kemarin berhasil membuat jantungnya ketar-ketir.


Sean menelan saliva dengan susah. Beberapa detik selanjutnya dia tersadar dan menormalkan kegugupannya.


Sedangkan di kursinya, Zoya menyeringai melihat ekspresi Sean. Dia mulai berpikir untuk mencoba menjaili pria itu.


Melihat kegugupan yang amat jelas tercetak di wajah dan tingkahnya, membuat Zoya merasa puas.


Sandi dan Arka melihat keadaan sahabatnya yang menurut mereka tidak biasa, merasa heran. Apa yang menyebabkan Sean seperti ini.


Sandi menaikkan sebelah alisnya seolah bertanya 'ada apa?'.


"Muka lo kusut banget, Yan?" Tanya Arka menghadapkan tubuhnya ke meja belakang. Karena memang mejanya berada di depan meja Sandi dan Sean.


"Gue gak bisa tidur."


"Lah biasanya juga kalo tidur lo kayak mayat?"


"Gue kepikiran terus sama kucing garong, rawww!" Dengan suara menahan kantuk.


"Bukannya rawww suara harimau ya?"


Sean mendesak kesal. "Pokoknya kucing garong." Tegasnya melirik ke arah Zoya yang berada di samping barisan mejanya, bermaksud memberi sindiran kepada gadis itu.


Zoya yang merasa tersindir lantas menyeringai menatap Sean. Dikedipkannya sebelah mata menggoda Sean.


Melihat itu Sean bergidik ngeri. Bukan karena mengingat kejadian kemarin, atau tampang Zoya. Sean akui Zoya adalah gadis yang sangat cantik, mungkin yang tercantik di sekolah. Jadi bukan itu alasan membuatnya merinding.


Tapi keanehan sikap Zoya yang menurutnya plin-plan. Sebelum-sebelumnya gadis itu menatap Sean penuh benci bahkan dendam, dan sekarang atau lebih tepatnya mulai kemarin Zoya seakan menyukainya.


Wanita memang sulit dimengerti.

__ADS_1


__ADS_2