
Srakk
"S**t! Apaan lagi sih, hah?" Umpat Zoya ketika tubuhnya terjerembab di lantai toilet karena ulah Anya.
"Lo yang apaan! Lo gak paham juga sama peringatan gue? Kenapa masih kecentilan di depan Sean?" Bentak Anya memburu.
"Kurang belaian banget ya lo? Gue perhatiin pacar dia yang lain santai-santai aja tuh." Sinisnya sambil berdiri dan menepuk-nepuk rok yang terlihat kotor, beruntung lantai masih kering.
"Karena lo gak pantes buat Sean."
"Terus? Lo ngerasa pantes?" Terkekeh kecil meremehkan. Gadis yang ada dihadapannya ini memang terlalu percaya diri.
"Iyalah. Secara gitu gue populer di sekolah ini." Angkuhnya mengibaskan rambut.
"Sampah."
"Apa lo bilang? Lo ngatain gue sampah?"
Zoya berdecak, "Emang gue bilang sampahnya itu lo?" Tanya balik Zoya berjalan meninggalkan gadis yang memakai lipstik berwarna mencolok itu.
"Sadar diri juga." Gumamnya pelan tapi masih terdengar oleh Anya.
Belum sempat dia membalasnya dengan kata-kata kasar, Zoya sudah hilang dari pandangannya.
Lagi-lagi, Anya bisa mengumpat sendiri.
°°°°°
Suasana kelas tidak begitu ramai karena ini jam istirahat, hanya ada beberapa orang saja di sini. Zoya, Fia dan Vania tidak pergi ke kantin karena Vania membawa makanan yang cukup banyak dari rumah.
"Enak banget pastelnya, Van." Ucap Fia sambil menikmati makanan tersebut.
"Jelaslah. Apalagi makanannya gratis, ya kan?" Jawab Zoya.
"Betul banget itu. Menurut gue makanan yang gratis enaknya nambah daripada beli sendiri."
"Yeuu.. ya iyalah dodol, itu mah pasti."
Vania tersenyum geli. Dia memberikan apel merah pada Zoya. Baru saja Zoya hendak menggigit buah segar itu, Fia menahan tangan kanan Zoya membuatnya heran termasuk Vania yang melihatnya.
"Apaan sih, Fi?"
"Jangan dimakan, Zoy! Lo kan Putri Salju, bisa aja apel itu ada racunnya. Yang ada nanti lo tamat." Wajah Fia sangat serius, seolah Zoya adalah Putri Salju sungguhan.
"Heh. Terus maksud lo gue nenek sihirnya?" Tanya Vania tidak terima.
"Iya. Lo tu pantes banget ambil peran itu, kerjaan dandan mulu. Pas kan sama nenek sihir yang ada di cerita Putri Salju yang ngelakuin apapun biar jadi paling cantik?"
__ADS_1
"Gue suka dandan ya wajar dong, cewek itu harus selalu tampil cantik dimanapun dan kapanpun. Lagian yang penting waktunya sekolah gue gak pake tebal-tebal." Bangganya paa diri sendiri.
Perdebatan kecil tersebut membuat hati Zoya menghangat. Dia sangat merindukan suasana seperti ini, bercanda ria dengan sahabat lalu dibumbui dengan perdebatan-perdebatan kecil yang sama sekali tidak bermanfaat.
"Mau tebal atau tipis, yang namanya murid belum pantas dandan ke sekolah."
"Suka-suka gue dong, kok lo yang sewot? Nih ya gue kasih tau, harusnya mulai sekarang lo belajar biar bisa dandan kalo mau Arka kepincut."
"Bodo amat. Gue bakal buktiin kalo gue bisa bikin Arka jatuh cinta tanpa harus gue ribet dandan."
"Ooooyaa?" Ejek Vania.
"Iyalah. Inget aja omongan gue!"
"Gue perhatiin, kayaknya tipe Arka bukan yang cebol kayak lo."
"Ah gak seru lo mah ngejek mulu!" Fia berpura-pura memasang wajah merajuk.
Zoya menggeleng pelan sambil masih memakan apelnya, entah kapan perdebatan mereka akan selesai. Sedangkan Vania terkekeh, Fia itu akan kalah dalam perdebatan jika lawannya sudah mengikuti sertakan fisiknya.
"Btw tentang Putri Salju, lo jadinya sama Sean kan, Zoy?" Tanya Vania.
Zoya menggedikkan bahu, "Gak tau. Males sih, tapi daripada berantem sama lo ya udahlah."
"Uuuuu. Makasih tayang." Ucap Vania senang dan memeluk Zoya.
Zoya hanya memutar bola mata, malas sekali jika sudah mengingat pria itu.
°°°°°
Setelah bel pulang berbunyi, siswa-siswi kelas XI-IPA1 berkumpul di aula untuk memulai latihan karena mereka hanya memiliki waktu yang sedikit sampai tibanya acara. Walaupun mereka ragu hasilnya akan maksimal, tetapi setidaknya tidak terlalu memalukan jika di pentas nanti.
Latihan berlangsung dari pukul dua siang hingga tak terasa hari semakin sore. Sekarang jam sudah menunjukkan pukul lima sore.
Setelah saling berpamitan pulang, Zoya menuju ke tempat parkir. Ketika menaiki motornya dan hendak memakai helm, dia merasa beban di belakang bertambah. Zoya menoleh, lalu menghela nafas jera.
"Lo ngapain lagi sih? Ya ampun seneng banget bikin gue emosi."
Sean menyengir, "Gue nebeng lagi, soalnya motor gue di bengkel baru bisa di ambil besok."
Sudahlah, pria ini memang selalu memiliki banyak alasan. Berdebat dengannya hanya akan membuat Zoya cepat meregang nyawa karena darah tinggi.
Di tengah perjalanan, Sean memeluk perut Zoya sedang kepalanya dia sandarkan di bahu gadis tersebut.
Zoya menepi dan mematikan mesin motornya. Dengan sedikit kasar dia menggedikkan bahu kirinya yang terasa berat membuat Sean menjauhkan kepalanya.
"Kok berenti? Udah sampe?" Tanya Sean sambil celingukan. Ketika tersadar ini masih jauh dari tempat tujuan, Sean kembali bersuara.
__ADS_1
"Lah kenapa berenti di sini?"
Zoya menepuk-nepuk cepat tangan Sean yang masih bertengger di perutnya. Spontan Sean melepaskannya dan lagi menyengir tanpa dosa.
"Maafkeun atuh, teteh. Ya ampun meuni galak pisan." (Maafin dong, kakak. Ya ampun galak banget.) Ucap Sean melihat Zoya yang sudah membuka helmnya dan mendelik sinis.
"Gak usah modus!"
"Gue tuh ngantuk, cape, lapar. Jadi gak sengaja ketiduran. Bukan modus, tapi..iya sih dikit." Sean terkikik.
Lalu dia turun dari jok belakang. "Turun!" Perintahnya.
"Apaan sih lo nyuruh-nyuruh gue sembarangan?" Yang benar saja dia memerintah Zoya seenaknya.
"Gue aja yang nyetir, mau makan dulu gak kuat lapar."
Zoya berpikir sebentar. Ada benarnya juga, sekarang Zoya pun memang merasa sangat lapar. Zoya turun dengan wajah yang masih mempertahan egonya.
"Cepet, Zoy!"
"Iya, elah cerewet!"
Setelah Zoya menaiki jok belakang, Sean menarik kedua tangan Zoya untuk memeluknya.
"Gue bilang gak usah modus!" Ujar Zoya sedikit meninggikan suara hendak melepas pelukannya tapi tangan Sean menahan pergerakan itu.
"Jangan bebal deh. Gue mau ngebut, kalo celaka gue juga yang disalahin."
"Alasan."
"Mulai sekarang lo juga harus kurangin sensiannya ke gue, acara drama sebentar lagi."
"Apa hubungannya?" Zoya berdecak malas.
"Ya kan buat ngambil feel di drama itu kita juga harus berhubungan baik di kehidupan nyata."
"Ya ya ya. Terserah. Udah gak usah banyak ngomong, jalan sekarang!" Putus Zoya.
Selanjutnya Sean melajukan motor menuju rumah makan terdekat untuk mengisi perutnya yang sedari tadi sudah keroncongan.
Entah sadar atau tidak, Zoya perlahan menyandarkan kepalanya di bahu Sean.
Sean yang merasakan hal itu pun sempat bingung, dia melihat kaca spion. Benarkah yang tengah ia lihat itu adalah Zoya?
Zoya tersenyum saat kini sedang memeluk dan bersandar di bahunya?
Jika iya, Sean merasa benar-benar bahagia. Dia ikut tersenyum sumringah dan menambah kecepatan motor tersebut.
__ADS_1