Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 17


__ADS_3

Setibanya jam istirahat, Fia masih membisu. Berbagai macam cara sudah Vania dan Zoya lakukan untuk membujuknya, tapi Fia tetap enggan bersuara. Padahal Vania sudah cukup lama mengenalnya dan dia tau bahwa Fia bukan tipe orang yang mudah tersinggung.


"Fi, udah dong jangan diam terus! Jangan diambil hati, Arka kan emang gitu orangnya!"


"Mending ke kantin. Gue yang traktir deh!"


"Nah, Fi! Kapan lagi coba makan gratisan? Mumpung Zoya suka rela traktiran."


Fia menggelengkan kepalanya, Zoya dan Vania hanya bisa menghela nafas pasrah. Mungkin Fia butuh waktu sendiri untuk saat ini.


"Ya udah, tapi janji ya nanti pulang sekolah kita main di rumah gue?" Vania mengusap bahu Fia.


Sejenak Fia tampak berpikir dan tidak lama setelahnya dia mengangguk. Mendapat persetujuan Fia, mereka ber-tos ria. Lalu Vania dan Zoya berpamitan keluar kelas menuju kantin.


°°°°°


Sisi lain di tempat yang berbeda, Sean sedang mencak-mencak karena baginya sikap Arka sungguh keterlaluan. Jika memang tidak suka bukan berarti bisa mengeluarkan perkataan yang menyakiti perasaan seseorang, bukan? Dan bahkan apa yang baru saja Arka ceritakan perihal tadi pagi di taman belakang sekolah saat dirinya mengejar Fia, itu sangat diluar batas.


"Tapi lo gak mesti ngomong kayak gitu lah, Ka!"


"Kenapa gue mesti gak bisa?"


Sean mendengus frustasi, "Karena Fia itu cewek, bro!"


"Terus kelakuan lo selama ini yang gandeng cewek sana sini, apa itu namanya nggak nyakitin hati mereka?"


"Kenapa jadi bahas tentang gue?"


Arka tersenyum sinis, "Gak usah sok ceramahin gue kalo diri lo sendiri juga ngelakuin hal yang sama, bahkan lebih dari kesalahan yang udah gue lakuin."


"Gue sama sekali gak nyakitin siapapun. Mereka yang siap berbagi dan gue terima karena udah ada kesepakatan sama cewek - cewek gue sebelum jadian."


"Udahlah, gak usah lo nyangkal dengan bawa urusan gue. Di sini kita cuma bahas tentang lo yang seenaknya nyakitin hati anak orang cuma karena masa lalu kalian."


Sontak Sandi yang sedang rebahan pada salah satu bangku di rooftop langsung bangkit, duduk. Arka jelas sangat terkejut karena Sean mengetahui sesuatu yang sudah lama berusaha dia sembunyikan.


"Kenapa? Kaget?"


"Lo? Ngomong apaan sih?" Sangkalnya.


"Tunggu, Yan! Maksud lo dari masa lalu kalian itu masa lalu siapa sama siapa?" Tanya Sandi menatap bergantian Sean dan Arka.


"Tanya aja sama sahabat lo yang ini!"


"Ka?" Sandi meminta jawaban.


"Lo apaan deh, Yan! Asal bunyi aja."

__ADS_1


Sean mengangkat bahu tak perduli.


"Gue gak sebodoh itu, Ka. Gue peka sama lingkungan sekitar, terutama kalo gue ngerasa ada hal yang janggal dari sikap seseorang baik itu elo ataupun Sandi. Gue diam-diam cari tau."


"Oh, jadi lo mau ikut campur privasi gue?"


"Gue bukan ikut campur, gue cuma mastiin masalah yang dihadapi gak bakal bikin lo tertekan. Lo sama Sandi udah gue anggap sodara biar lo tau. Lagi pula kalo emang masalah itu bisa lo tangani sendiri, toh gue gak pernah ikut andil."


Setelah itu, sejenak keheningan tersesat diantara mereka.


Sean tidak ingin mencampuri privasi siapapun. Tapi untuk masalah Arka yang berlaku kasar terhadap Fia, menurutnya sangat berlebihan.


Baiklah, Sean memang terkenal sebagai pria yang tidak cukup dengan satu gadis. Tapi dia tidak sebanci itu menyakiti gadis yang jelas-jelas tidak bersalah. Dia bersama para kekasihnya memang sudah menyepakati untuk tidak menuntut saat berbagi. Jadi, itu tidak termasuk menyakiti, bukan?


Jika perlakuan Arka beralasan karena masa lalu yang tidak indah, tapi bukan berarti harus diluapkan begitu saja, apalagi di depan banyak orang.


Sean tidak habis pikir dengan jalan pemikiran Arka yang selalu bertindak semaunya tanpa memikirkan konsekuensi dari perbuatannya itu.


"Pertanyaan gue belum dijawab." Ucap Sandi.


"Ck. Jangan bahas sekarang!" Jawab Arka.


Sean sudah memutar tubuhnya hendak meninggalkan mereka. Tapi langkahnya terhenti karena teringat satu hal.


"Dan lo, San! Jangan lo kira gue bakal lupa buat tagih penjelasan dari lo!"


°°°°°


"Van, lo kan bawa mobil, jadi sekalian bareng Fia. Gue bawa motor soalnya."


Vania mengangguk setuju.


"Duluan aja ke parkirannya, gue nyari kunci lupa naro!" Titah Zoya sambil berjalan dan mengorek isi tasnya.


"Gue yakin naro kunci di tas ini." Ucapnya bermonolog.


Tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang berdehem, Zoya pun menoleh ke depan. Dilihatnya pria tersebut tersenyum dan menunjukkan benda yang tengah dicarinya sedari tadi.


"Kok bisa di lo?"


Pria itu tersenyum, sangat manis. Terdapat lesung pipit di sebelah pipinya. Tampan dan menggemaskan.


"Barusan gue gak sengaja lihat ini jatuh dari tas lo." Jawabnya sambil menyodorkan kunci motor milik Zoya yang berada di genggamannya.


Zoya menerima kunci tersebut dan membalas senyum. "Makasih banget lho!"


Pria itu mengangguk dan kembali mengulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


"Gue Aldino. Panggil Dino aja!"


"A-ah, iya gue Zoya!" Menyambut uluran tangan Dino.


"Mmm.. Ke parkiran, kan? Gue barengan deh."


Zoya hanya mengangguk. Suasana menjadi kikuk saat itu. Keduanya berjalan beriringan masih dalam keadaan diam.


"Lo kelas XI?"


"Iya. XI-IPA1."


"Wow. Lo hebat ya berarti?!" Penyataannya dengan nada seperti pertanyaan.


"Cuma kebetulan nilai raport gue tinggi."


"Merendah banget. Gue suka."


Zoya menoleh dan mengangkat sebelah alisnya.


"Ya maksudnya, gue suka sama orang yang gak nyombongin kemampuannya." Jelas Dino.


"Oh (mengangguk) Lo kelas mana?"


"XI-IPS2. Kehalang 5 kelas dari kelas lo."


Belum sempat Zoya berucap lagi, seseorang memegang tangannya dari belakang. Dino ikut menoleh melihat Zoya yang tiba-tiba tersentak berbalik ke belakang.


"Kenapa belum balik?"


"Ini juga mau pulang, lo gak lihat itu motor gue diparkir di sana?" Tunjuk Zoya ke arah motor sport hitam miliknya.


Sean menyugarkan rambutnya yang sedikit basah karena keringat, lalu tatapannya beralih kepada Dino. Dari tatapannya, Zoya mengerti bahwa Sean mempertanyakan pria yang berada di samping kanannya.


"Ini Dino. Tadi dia yang nemuin kunci motor gue."


"No, ini Sean temen gue, sekelas juga sih."


Dino mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan Sean. Tapi yang dilakukan Sean justru membuat Zoya tercengang dan merasa bersalah terhadap Dino yang kini mengernyit bingung.


Sean langsung berbalik arah dan meninggalkan mereka berdua tanpa balas menjabat tangan Dino. Pria yang sudah lengkap memakai kostum futsal itu membuat Zoya kesal.


"Duh, maaf banget ya." Ucapnya mengusap tengkuk sendiri merasa tidak enak dengan sikap Sean tadi.


Dino tersenyum memaklumi, "Noprob, gue tau kok image dia."


Zoya menghela nafas lega. Untung saja Dino bukan tipe orang yang memperumit keadaan.

__ADS_1


Tolong ingatkan Zoya untuk memberi bogeman di pipi mulusnya Sean. Pria itu sudah membuatnya malu.


__ADS_2