
Pagi tiba terasa begitu cepat, sinar matahari yang menerobos celah-celah gorden menyilaukan mata seorang pria yang masih bergelung dalam selimut hingga dengan berat hati dia membuka matanya.
Tangannya meraba-raba ke bawah bantal mencari benda pipih persegi panjang berwarna hitam. Dilihatnya jam, ternyata masih pukul 05.41. Mengapa matahari sudah secerah ini? Itulah pikirnya. Lalu meletakkan kembali benda tersebut kali ini di sampingnya.
Bangkit dari tidur dan mengucek mata, sejenak dia masih mengumpulkan sebagian nyawanya yang masih berkeliaran entah kemana.
Ting...
Suara notifikasi pesan mengalihkan lamunannya.
"
Mentari tersenyum menyambut pagi.
Aku pun tak sabar ingin menyambutmu pagi ini.
Sampai bertemu nanti:)
"
Pesan itu membuat ragu pada asumsinya sendiri di hari lalu. Tentang pembunuh dan pengirim pesan ini yang dia pikir adalah orang yang sama. Lalu mengapa sekarang isi pesan tersebut memberitahukan bahwa pengirim akan menyambutnya? Memikirkan hal demikian membuat nyawa Sean terkumpul sepenuhnya dengan cepat. Segera dia bergegas untuk bersiap-siap berangkat ke sekolah karena rasa penasarannya akan sosok yang ingin sekali dia ketahui sejak beberapa hari ini.
°°°°°
Sesampainya di sekolah setelah memarkirkan motornya yang tadi malam sudah dia ambil dari bengkel, lalu berjalan sambil menebar pesonanya kepada setiap para gadis di sana.
Seperti biasa, gadis-gadis yang berada di sepanjang koridor menyapanya begitu manis. Tentu saja Sean balas dengan tak kalah manis hingga membuat mereka menjerit senang.
"Pagi!" Sapa seseorang dengan riang di ambang pintu kelas.
Mengerutkan kening sejenak karena heran, tapi pada akhirnya Sean pun membalas sapaan itu.
"Pagi kembali!" Tidak lupa dengan senyuman mautnya.
"Lo beneran Zoya, kan?" Sambungnya dengan pertanyaan kepada gadis yang menyapa tadi.
Zoya mengangguk semangat. Sikapnya hari ini begitu berbeda, seperti bukan Zoya yang Sean kenal sebelumnya. Ada apa dengan gadis itu? Mengapa dia jadi seperti ini? Apa dia baru saja salah meminum obatnya? Atau kepalanya terhantuk tembok? Pertanyaan-pertanyaan yang terkesan berlebihan itu memang nyata adanya dalam benak Sean.
"Apaan sih?" Tanya Zoya kesal sambil menepis tangan Sean yang berada di dahinya.
"Ya aneh aja, kemarin-kemarin kan jutek terus?".
__ADS_1
"Lo maunya gimana sih? Kemarin juga lo yang minta kita temenan terus gue jangan jutek lagi."
Ah, Sean melupakan ucapannya sendiri. Dia menepuk dahinya dan menampilkan cengiran lebar, Zoya memutar bolat matanya malas.
"Agak aneh aja gitu. Oya temen-temen lo mana?"
"Kantin, belum pada sarapan. Ini baru aja gue mau nyusul."
"Ya udah kita barengan, kali aja Sandi sama Arka juga ada di sana."
Sean menyimpan tas di mejanya, lalu kembali pada Zoya yang menunggu di depan kelas. Tanpa segan dan canggung, Sean merangkul bahu Zoya.
"Gak mesti rangkul-rangkulan juga!" Sambil berusaha melepas rangkulan tersebut. Zoya tidak mau menjadi bahan perhatian murid lainnya, dia sangat tidak nyaman terlebih ketika melihat pandangan mereka yang jelas menatapnya benci.
"Udahlah gak usah pikirin mereka!" Ucap Sean karena menyadari ketidaknyamanan Zoya.
Masih tidak melepaskan rangkulannya, Sean berjalan santai sambil tersenyum sedangkan Zoya terus saja menggerutu sepanjang jalan menuju kantin.
"Weh. Ada yang udah rangkul-rangkulan aja nih!" Celetuk Arka ketika mereka sampai.
Sandi, Fia dan Vania yang kebetulan satu meja dengannya langsung menoleh ke arah Sean dan Zoya. Tentu saja meresa heran atau lebih tepatnya terkejut. Karena pasalnya mereka tau bahkan sangat tau jika Zoya itu diibaratkan hatersnya Sean. Dan sekarang apa yang mereka lihat? Zoya merasa tidak keberatan dengan keberadaan lengan Sean yang merangkulnya? Oke, berarti ada banyak hal cerita yang mereka lewatkan tentang dua sejoli ini.
"Please deh! Ini tu sebenarnya ada apa? Lo kenapa bisa adem-adem aja dirangkul dia? Bukannya kemarin-kemarin bete banget kalo bahas tentang Sean apalagi dia ada di deket lo?" Rentetan pertanyaan dari Fia dalam sekali tarikan nafas dan suaranya yang sungguh memekakan telinga. Lihat, penghuni kantin saat ini bisa dikatakan ramai walaupun masih pagi. Mereka menatap heran dan ada pula yang menatap kesal karena suara Fia yang menganggu.
Termasuk Sandi, Arka, Sean, Ziya dan Vania mereka menutup telinganya sambil meringis.
"Lo! Kebiasaan banget suaranya ya ampun!" Amuk Vania.
"Resek banget sih lo jadi cewek! Muak gue lama-lama." Sarkas Arka.
Fia yang sebelumnya menyengir lebar saat mendengar protes Vania berubah muram, cengirannya luntur begitu saja, matanya berkaca-kaca. Dia tidak menyangka dengan perkataan Arka, pria yang selama ini dipujanya tega berbicara seperti itu.
Mereka yang berada di satu meja itu langsung menatap iba Fia yang sudah meneteskan air matanya. Vania yang berada di seberangnya mengusap punggung Fia untuk menenangkan. Bukannya tenang, Fia justru beranjak pergi keluar kantin dengan berlari kecil dan terlihat sesekali mengusap pipinya yang basah.
Mereka langsung menoleh ke arah Arka dan menatap pria itu dengan tajam kecuali Sandi tentunya, dia selalu bersikap tenang. Sedangkan Arka terlihat santai mengunyah makanannya tanpa memperdulikan Fia.
Beberapa detik selanjutnya, Arka menatap satu persatu orang-orang yang berada satu maja dengannya.
"Apa?" Tanyanya tanpa beban.
"Kejar!" Perintah Vania pada Arka.
__ADS_1
"Ngapain?"
"Gue bilang kejar!"
"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue?"
"Kejar!" Kini Sandi ikut bersuara.
BRAKK!!
Sandi menggebrak meja cukup keras, siapapun yang ada di sana merasa terkejut.
"Lo tuli?" Tanyanya dengan suara yang meninggi. Mau tidak mau Arka beranjak untuk menyusul Fia yang sebelumnya dia mendengus kasar atas semua ini.
"Arka bener-bener ya? Rasanya gue pengen bejek-bejek dia terus gue lempar ke laut api. Gak bisa sedikit aja hargain perasaan Fia." Vania menyuarakan rasa kesalnya. Jika saja bukan di tempat ramai, sudah dia pastikan telapak tangannya bertindak untuk menampar pipi Arka.
°°°°°
Arka melihat gadis itu duduk di salah satu bangku taman belakang sekolah, ia tengah berusaha menghentikan tangisnya. Menghela nafas pelan, Arka mendekat dan duduk di sebelah Fia lalu berdehem agar gadis tersebut menyadari kehadirannya.
Fia menoleh dan kembali membuang pandangannya ke arah lain. Tidak ada yang membuka suara, keduanya terjebak dalam keheningan.
"Cengeng banget sih lo! Baru gitu aja udah mewek." Cibir Arka yang langsung mendapat tatapan sengit dari Fia.
"Apa? Mau protes? Emang bener kan lo itu cengeng? Lemah!"
Kesabaran Fia terkuras sudah. Bukannya meminta maaf tapi justru pria ini mengajaknya bertengkar. Menggeram kesal, Fia berdiri dan,
Plak
Dia menampar Arka sangat keras.
"Selama ini gue sabar sama perlakuan lo yang seenaknya. Gue gak minta lo balas perasaan gue. Gue cuma minta lo ngehargain sedikit aja!" Lantang Fia sambil terengah-engah menahan emosinya yang meluap.
Arka tersenyum meremehkan, "Berapa duit sih buat ngehargain lo, hah?"
Fia mengernyitkan dahi menggeleng kepalanya, tidak mengerti dengan pemikiran Arka. Tanpa berkata-kata lagi, dia memilih pergi.
Tidak ada rasa bersalah yang tergambar di wajah Arka, pria itu tampak santai-santai saja.
Oh benar-benar.
__ADS_1