Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 3


__ADS_3

Seperti biasa, Sean berjalan menyusuri koridor sambil menebar pesonanya. Menggoda para gadis adalah hobi sejak lama. Tapi walau begitu, tidak ada satupun gadis yang benar-benar ingin Sean jadikan sebagai pujaan hati. Memiliki banyak kekasih hanya sebatas penghibur baginya. Brengsek bukan? Ya, memang seperti itulah Sean.


"Yan! Lo mesti tau!" Teriak heboh Arka menghampiri Sean saat sudah masuk ke dalam kelas.


"Apaan?"


"Ada cewek dari IPA4 pindah ke sini. Gila, bening banget. Bodynya gak nahan." Arka histeris.


Sean menyeringai. Ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan. Ah, Sean benar-benar pecinta wanita cantik nan seksi.


"Beneran, San?" Tanya Sean pada Sandi.


Sandi hanya menggedikkan bahu tidak peduli. Dia tidak pernah mau ikut campur dalam hal-hal yang menurutnya tidak penting dalam segi apapun.


Sedangkan Arka sama seperti Sean, otaknya hanya dipenuhi gadis cantik dan seksi.


Meskipun seperti itu, ketiganya tetap memprioritaskan prestasi akademik dan non-akademik. Terbukti dengan mereka yang masuk ke kelas IPA1, kelas unggulan. Di dalamnya hanya terdapat siswa-siswi yang memiliki nilai raport 90 ke atas.


Guru pun datang menghentikan segala aktivitas para murid saat itu. Tidak lama, Zoya masuk ke dalam kelas dengan tergesa-gesa.


"Maaf, pak. Saya sedikit terlambat."


Pak Arif mengangguk mempersilahkan Zoya untuk duduk.


Beberapa langkah sudah berada di dalam kelas, mata Zoya dan Sean bertubrukan. Seketika Sean bisa menangkap tatapan kebencian dari manik mata indah milik Zoya. Lagi-lagi membuat Sean mengernyit heran. Satu yang diingatnya, bahwa gadis ini -Zoya- adalah orang yang sama saat menabraknya kemarin.


Sean sangat kagum bahkan lebih tepatnya dia merasa ada yang berbeda pada hatinya kali ini. Darahnya berdesir saat melihat Zoya. Dia tidak terlalu fokus dengan kecantikan Zoya saat insiden kemarin, karena fokusnya teralihkan oleh tatapan Zoya yang membuatnya harus berpikir keras.


Bidadari ini mah. Tapi kenapa sih tu cewek kayak benci banget sama gue? - Batin Sean.


Cukup lama mereka saling tatap dengan tatapan yang berbeda. Zoya menatap benci, sedangkan Sean menatap kagum sekaligus heran.


"Zoya. Kenapa kamu belum duduk?" Suara Pak Arif menginterupsi.


Sean dan Zoya segera mengalihkan arah pandang mereka masing-masing.


"Iya, pak. Maaf." Jawabnya membungkuk sopan.


Zoya segera duduk di samping Vania yang kebetulan hari ini sudah kembali masuk sekolah.


Sedangkan Sean, dia masih tetap mencuri pandang ke arah Zoya dikarenakan rasa penasaran terhadap gadis yang satu ini terus menggerogoti hatinya.


"Nah itu tuh cewek yang gue maksud tadi." Bisik Arka menoleh ke belakang, bangku Sean dan Sandi.


Sekali lagi Sean menyeringai. Sandi dan Arka melihatnya. Arka puas dengan reaksi Sean terhadap informasinya.


"Gue harap dia bukan target lo yang selanjutnya!" Sandi bersuara dengan tampang dan nada dinginnya namun pelan.


Sean dan Arka menoleh ke arah Sandi berbarengan. Mereka heran, ada angin apa Sandi mau ikut campur dengan pembicaraan antara keduanya? Selama ini Sandi selalu memilih diam.


"Emang kenapa..." Tanya Arka.


"Lo suka dia?" Sean memotong.


Sandi hanya menggedikkan bahu tak peduli. Sungguh Sandi selalu membuat mereka bingung. Dan entah mengapa ketiganya masih bersahabat baik dari mulai duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar hingga sekarang.


Akhirnya, mereka memilih kembali fokus ke depan untuk mendengar materi yang disampaikan Pak Arif.


°°°°°


"Cus kantin guys!" Seru Fia pada Vania dan Zoya.


"Huaaaa gue lapar banget! Hayu lah gas!" Antusias Vania langsung berdiri.

__ADS_1


"Zoy?" -Fia-


"Duluan aja, gue pasti nyusul kok!" Jawabnya tersenyum sambil membereskan alat tulis dan di simpan ke kolong meja.


Fia mengangguk tersenyum dan merangkul Vania untuk pergi ke surganya sekolah.


"Nyusul lho, Zoy!" Seru Vania riang.


"Siap! Pesenin batagor sama es jeruk ya!"


Fia dan Vania mengangguk.


Baru saja Zoya selesai membereskan urusan meja, seseorang tiba-tiba saja duduk di sebelah kursinya dengan senyuman tengil menggoda.


"Cantik! Lo yang nabrak gue kemarin, kan?"


Zoya hanya menatapnya malas. Hendak berdiri namun tangannya di tahan Sean hingga membuat Zoya kembali ke posisi sebelumya.


"Gue lapar."


"Sebentar aja! Gue cuma mau kenalan?"


"Yakin cuma?"


"Cuma buat sekarang aja sih." Jawab Sean menyengir tak jelas.


Kini yang semula Zoya menatap Sean malas berubah menjadi tatapan benci. Perubahannya sangat tiba-tiba, seolah Zoya tengah kerasukan.


"Minggir!" Titah Zoya tajam.


Seakan terhipnotis, Sean menurut saja. Setelah Zoya menghilang dari pandangannya, barulah Sean tersadar.


Arka dan Sandi yang sedari tadi menyaksikan hal itu segera menghampiri Sean.


"Wah wah wah. Itu cewek kenapa, Yan?"


"Lo pernah ketemu dia sebelumya?"


Sean mengangguk.


"Kemarin dia nabrak gue di koridor sampe minuman dia tumpah ke baju gue. Dan lo tau? Dia malah natap benci gue." Tiba-tiba saja Sean menjadi hilang mood saat Arka bertanya hal itu.


Arka tampak sedang berpikir, dan itu membuat Sean terkekeh. Mudah sekali mood Sean berubah-ubah. Lalu sekarang apa bedanya dia dan Zoya?


"Lo ngapain sok-sokan mikir, hah?"


"Yeh bangke. Gue sebagai sahabat yang baik mau bantu lo mikir. Malah ngatain."


Sean terkekeh kembali. "Nah tadi juga lo ngatain gue. Berarti lo sama gue sama aja dong."


"Kan lo duluan yang ngatain?"


"Terus kenapa lo ngatain balik? Lo lupa kalo kata Pak Husen membalas hal buruk itu gak baik!"


Arka meringis bingung sambil menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.


"Gue nyerah. Lo kalo urusan ngomong susah deh buat gue menang."


Sean tertawa puas.


Sandi yang sedari tadi sudah bosan dengan perdebatan kedua sahabatnya yang absurd, akhirnya memilih pergi ke kantin.


"Tuh kan Sandi-nya jadi pergi." Arka berucap.

__ADS_1


"Lo sih!"


"Kok gue sih bangke?"


Sean tak menjawab, dia yang sudah beranjak memilih meninggalkan Arka yang mencak-mencak sendiri.


"Kenapa gue jadi ditinggalin woy?" Teriak Arka.


"Hayati lelah, Tuhan!" Sambungnya dramatis dan segera menyusul Sean.


°°°°°


"Eh kayaknya mereka bertiga mau nyamperin meja kita deh!" Bisik Vania.


Sontak Fia dan Zoya melihat ke arah pandang Vania. Benar saja, ternyata yang sedang bejalan ke arah meja mereka adalah Sean, Sandi dan Arka.


Zoya yang kebetulan sudah menghabiskan makanan dan minumannya, langsung berdiri menatap benci kepada Sean yang sudah dekat. Zoya pun memilih melengos pergi. Tentu saja tiga pria dan dua sahabat barunya itu menjadi bingung.


"Zoy mau kemana?" Tanya Fia dan Vania bersamaan dengan suara yang cukup keras. Dikarenakan Zoya sudah lumayan jauh, jadi tidak ada jawaban darinya.


Melihat itu, Sean, Arka dan Sandi memutar arah ke meja lain.


Setelah pesanan makanan dan minuman mereka datang, Arka bersuara.


"Sebenernya dari tadi gue mikir. Lo ngerasa bikin kesalahan gak sama Zoya?"


"99,9% gue yakin gak pernah ada masalah sama dia. Ketemu juga baru kemarin."


"Lah 0,1% nya kemana?"


"0,1% nya karena tatapan dia yang keliahatannya beneran benci banget sama gue."


"Kenapa gak lo tanya langsung aja sama orangnya?"


"Bener juga ya. Tumben lo pinter?"


"Kalo gue bege gak mungkinlah masuk IPA1. Pasti gue masuknya... "


"Jangan cari tau apapun yang berhubungan sama dia!" Potong Sandi.


Sean dan Arka kembali menatap heran Sandi.


"Gue pikir-pikir dari tadi lo kayak yang terus belain Zoya." Ucap Arka.


"Kalo lo suka.."


"Gak ada yang namanya suka." Tegas Sandi memotong ucapan Sean.


***


**Hari ini aku melihatmu lagi, aku senang.


Tapi ada yang jauh lebih menyenangkan.


Kamu tau?


Karena aku bisa memandangmu dari jarak dekat mulai sekarang.


Sungguh bahagiaku saat ini seperti Juliet yang bertemu kembali dengan Romeo-nya.


Ah, kamu memang Romeo-ku**.


Secarik kertas itu sudah berada di atas meja Sean. Sean celingukan, berusaha mencari tau siapa yang menulisnya.

__ADS_1


Ada kemungkinan orang yang memberinya surat ini adalah orang yang juga mengiriminya pesan singkat semalam, pikir Sean.


Romeo-ku?


__ADS_2