
Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu. Fia dan Vania bergegas menuju kantin dengan tidak sabar karena cacing-cacing diperut sudah mendemo meminta makan. Zoya sendiri memilih menghabiskan waktu di perpustakaan untuk membaca novel, kebetulan pihak sekolah menyediakannya.
"Temen baru kalian kemana?"
Fia menatap tajam pada Sean saat mendengar pertanyaan itu, "Lo gak ada niat modusin dia, kan?" Tangannya menunjuk wajah Sean.
"Lo tau gue banget ya?" Sambil terkekeh pelan.
"Gue gak mau tau lo gak boleh sakitin temen gue! Eh sahabat maksudnya."
"Nyakitin apa sih? Gue cuma mau temenan aja, gak lebih."
"Udahlah, Fi! Lagian kalo Sean sama Zoya bakal jadi couple goals." Sumringah Vania.
"Aduh Vania!!! Lo mau nanti Zoya sakit hati gara-gara dibaperin terus ditinggalin Sean pas lagi sayang-sayangnya?"
"Lo pikir gue sejahat itu?" Kesal Sean.
"Iya. Lo itu cowok terbrengsek dan seantero sekolah pada tau."
"Lo.." Geramnya mendengar penuturan Fia.
"Apa? Gak terima gue ngomong gitu? Emang bener kan lo tu brengsek?"
"Fi udah ah! Malu banyak orang." Ucap Vania melerai. "Lo nanya Zoya, kan? Dia di perpus. Sekarang lo bisa pergi."
Sean mendengus kasar dan kembali ke tempat Arka dan Sandi duduk, meja mereka tidak terlalu jauh dari tempat dia berdiri sekarang.
Dia meminum minuman yang sudah dipesan oleh Arka sampai tandas. Terlihat seperti orang yang sudah berpuasa dua hari penuh.
"Eh mau kemana, Yan?" Tanya Arka saat melihat Sean pergi.
"Perpus" Jawabnya setengah berteriak karena jarak mereka sudah lumayan jauh.
"Lah tumben banget dia ke perpus?"
Sandi hanya menggedikkan bahu, walau sebenarnya dia pun merasa heran pada tingkah Sean.
"Mau baca buku gombalan maut, dia. Gegara Zoya ketus terus."
°°°°°
Nikmat Tuhan-mu yang manakah yang kamu dustakan? -Batin Sean sambil sumringah kala menemukan orang yang dicarinya sejak tadi.
"Berenti!" Interupsi Zoya tiba-tiba.
Sean terkejut karena bagaimana gadis itu tau jika yang datang adalah dirinya? Padahal Sean berjalan dengan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara dan dapat menjaili Zoya, tapi sekarang justru dia yang dikejutkan. Padahal saat ini Zoya memakai headset juga terlihat sangat fokus membaca buku. Bagaimana bisa?
__ADS_1
"O-oke. Gue gak maju." Sambil mengangkat kedua tangan seolah dia seorang penjahat yang tengah dikepung banyak polisi.
Zoya menghela nafas jera menutup buku dan melepas headsetnya. Lalu dia berjalan menuju rak untuk menyimpan kembali buku yang dipegangnya.
Melihat hal tersebut Sean ikut berjalan membuntuti Zoya. Sungguh, kejadian kemarin membuatnya tergila-gila hingga tak memperdulikan segala sikap ketus Zoya padanya. Mungkin jika itu adalah gadis lain, Sean mana mau seperti ini. Hanya akan merendahkan harga diri sebagai playboy tertampan di sekolah.
"Lo tuli?" Sarkas Zoya tanpa aba-aba membalikkan tubuhnya membuat jarak wajah mereka begitu dekat karena tinggi badan keduanya yang hanya terpaut beberapa cm saja.
Berselang dua detik, segera Zoya melangkah mundur untuk memberi jarak. Tapi tubuhnya kehilangan keseimbangan dan dengan sigap Sean menarik tubuh Zoya ke dalam dekapannya.
Deg
"Jantung ini" lirih Zoya dalam hati sambil memejamkan mata. Mencoba mencari apa yang selama ini telah hilang darinya.
Tanpa sadar air mata mengalir begitu saja. Sesuatu memenuhi rongga dada hingga terasa sangat menyesakkan.
Rasa ini -batin Zoya lagi.
"Sssst.. Ada aku!" bisik Sean sambil mengusap kepala belakang Zoya dengan penuh kasih sayang.
Mendengar bisikan itu, membuat hatinya semakin terasa nyeri. Seperti terjebak diantara rasa rindu, kecewa, putus asa, dan entahlah Zoya pun tidak mengerti.
Merasakan pelukan Zoya yang mengerat, membuat jantung Sean berpacu kencang. Seolah kupu-kupu berterbangan di dalam perutnya. Kedua sudut bibirnya terangkat menggambarkan betapa bahagia perasaannya saat ini karena dapat menjadi sandaran bagi gadis yang mungkin mulai menempati hatinya.
Perlahan Zoya melerai pelukan mereka dan menatap mata Sean dengan sendu. Juga perlahan wajah Sean mendekat hingga hembusan nafasnya menyapu lembut permukaan wajah Zoya, dan semakin dekat mengikis kembali jarak diantara keduanya.
"Anggap gak pernah ada kejadian ini!" Tegasnya dengan wajah menahan amarah.
Zoya mengambil langkah keluar dari perpustakaan mengabaikan Sean yang tengah membeku di sana.
Benar-benar membuat Sean tertegun. Senyuman yang semula mengembang seketika hilang, jantung yang bergemuruh karena bahagia berganti dengan sesuatu yang terasa perih di dalam.
Tak berapa lama kemudian Sean dapat kembali menguasai dirinya. Senyuman miris tercetak jelas, dan dia sadar satu-satunya yang harus disalahkan adalah hatinya sendiri karena begitu lemah.
°°°°°
"Kenapa lo, Yan?" Tanya Arka duduk di kursi sebelah Sean.
"Zoya?" Tanya Sandi.
Melihat keterdiaman Sean, membuat Arka sangat gemas. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga Sean yang terkenal pecicilan dan anti galau justru sekarang terlihat seperti orang yang putus asa?
"Wahai Tuan Sean Rafardhan yang terhormat, coba ceritakan kepada kami apakah yang membuat gerangan terlihat gundah seperti ini? Cinta ditolak? Korban PHP? atau apaan?"
"Bacot banget lo!" Sinis Sandi yang duduk di hadap mereka.
"Yeee kan gue sebagai sohib niatnya mau bantu."
__ADS_1
"Yan, lo kenapa dah?" Tanya Sandi.
Sean menghela nafas kasar, lalu mulai menceritakan kejadian di perpustakaan tadi.
Sandi berdecak, entahlah air mukanya tidak dapat dibaca. Tanpa permisi dia pergi keluar kelas dengan langkah besar.
"Lah, mau kemana tu?" Tanya Arka heran.
Sean mengangkat bahu isyarat bahwa dirinya pun tidak tau.
"Gue mau beli minum!" Pamitnya pada Arka.
"Eh dikit lagi jam pelajaran Bu Dara masuk!"
"Bilang aja gue ke UKS!"
°°°°°
Dari jarak yang jauh tapi masih cukup jelas, Sean dapat melihat bahwa Sandi menarik pergelangan tangan Zoya membawa langkahnya ke arah taman belakang sekolah.
Curiga. Satu hal yang ada di benak Sean. Untuk itu dia mengikuti arah perginya Zoya dan Sandi.
"Maksud lo apaan, hah?" Sarkas Zoya menghentakkan tangannya hingga terlepas dari cekalan Sandi.
"Lo tanya maksud gue apa? Seharusnya gue yang tanya apa maksud lo sama semua ini?"
"Semua ini apaan sih?"
"Gue tau lo pintar, jadi lo tau arti dari kalimat gue."
Zoya berdecak.
"Gak.usah.ikut.campur!" Ucapnya penuh penekanan.
"Udahlah, Zoy! Gue mohon stop! Sampe kapan lo bakal kayak gini?"
"Lo gak pernah ngerti betapa hancurnya gue setelah kejadian itu!" Lantangnya Zoya dengan suara yang sedikit lebih keras.
"Gue ngerti.. "
"Gak! Lo gak ngerti!" Potong nya sambil terduduk menahan suara isakan tangisnya.
Sandi berjongkok meraih tubuh Zoya dan mendekapnya. Seketika tangis Zoya pecah, dia membalas pelukan itu.
"Gue kacau, Ndi! Gue kangen dia tapi gue gak bisa apa-apa!"
Sandi hendak menjawab, tapi matanya tak sengaja menangkap Sean yang membeku dengan tatapan tak terbaca.
__ADS_1