Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 13


__ADS_3

Kring..


Bel pulang berbunyi, keributan siswa-siswi pun terdengar nyaring. Mereka berdesak-desakan agar dapat lebih dahulu keluar dari kelas, padahal itu justru semakin memperlambat gerak dan sangat membuang tenaga.


Tapi beda halnya dengan keadaan kelas XI-IPA1. Mereka tidak terburu-buru beranjak dari kelas karena mendengar arahan dari ketua kelasnya.


"Guys! Minta perhatiannya sebentar, gue mau pengumuman dulu tentang acara yang bakal diselenggarakan pihak OSIS!" Interupsi Ridho -Ketua kelas-.


"Jadi, sekitar dua minggu lagi bakal ada acara HUT SMA Tunas Bangsa. Di acara itu pihak OSIS ngadain perlombaan antar kelas, yang boleh jadi peserta cuma kelas sepuluh sama kelas sebelas. Karena kelas dua belas sebentar lagi ujian jadi harus fokus." Sambungnya.


"Lombanya apaan aja, Do?" Tanya salah satu siswa.


"Oh iya. Dis, gue minta tolong catat ya mata lombanya!" Pinta Ridho pada Disti selalu sekretaris kelas.


Disti mengangguk dan kembali mengeluarkan buku beserta pulpennya.


"Satu, bidang olahraga. Basket, futsal, sama voli. Dan yang ke dua, bidang seni. Dance modern sama nyanyi. Semua perlombaan pesertanya boleh putra-putri."


"Cuma dua bidang aja?" Tanya Arka.


"Buat lomba sih cuma dua bidang. Tapi tadi kata Bu Ayna, kelas kita harus ada yang pentas drama."


"Nah iya itu baru seru!" Setuju Fia sumringah.


"Kita bikin drama bawang merah bawang putih aja!" Antusias Vania.


"Bu Ayna udah nentuin judulnya, kelas kita bakal pentasin drama Putri Tidur. Skenarionya juga udah dia kasih." Ucap Ridho sambil mengeluarkan lembaran-lembaran kertas dari tasnya.


"San." Ridho memberikan kertas tersebut kepada Sandi.


Sandi mengernyit heran, "Kenapa ke gue?"

__ADS_1


"Kata Bu Ayna juga yang jadi tokoh utamanya lo sama Zoya."


Sontak ucapan Ridho membuat murid kelas XI-IPA1 terkejut. Pasalnya mengapa bisa Bu Ayna memilih Sandi dengan Zoya? Untuk Zoya okelah dia memang sangat cocok memerankan Putri Tidur, cantik, warna kulitnya lebih putih dibanding siswi lainnya yang ada di kelas tersebut. Tapi Sandi? Bagaimana ya menjelaskannya? Sandi itu tampan, tapi yang mereka tau Sandi bukan tipe orang yang mau diikut sertakan dalam acara seperti ini, juga sifatnya yang tidak terlalu pandai dalam berkomunikasi itu tidak cocok untuk menjadi sandingan Putri Tidur.


Sedangkan Sandi dan Zoya bersikap santai, sepertinya mereka tidak terbebani oleh titah dari wali kelas. Tapi jangan tanya lagi bagaimana reaksi Sean dan Vania. Tercetak jelas raut wajah mereka memperlihatkan ketidaksetujuannya atas pilihan Bu Ayna.


"San! Gue aja ya yang jadi tokoh utama?" Tawar Sean pada Sandi dengan tatapan memohon.


"Eh apaan sih? Nggak ya pokoknya biar aja Sandi!" Sergah Zoya.


"Zoy! Benar kata Sean, mending lo sama dia. Kalian cocok banget kok. Ya ya ya?" Jika Vania sudah menampilkan puppy eyes-nya, Zoya hanya bisa menghela nafas pasrah lalu mengangguk lesu. Melihat Zoya setuju dan Sandi tidak berkomentar, baik Sean maupun Vania langsung memasang wajah sumringah.


°°°°°


Vania sudah pulang bersama dengan sopir jemputannya, sedangkan Fia masih memaksa beradu mulut dengan Arka karena pria itu dipaksa untuk memboncenginya pulang.


Baru saja Zoya hendak melajukan motornya, tiba-tiba tangan seseorang menahan lengan kiri Zoya. Dan orang itu tidak lain adalah pria aneh yang sangat sangat sangat menyebalkan.


"Terus? Masalah buat gue?"


"Yah, gak peka."


Zoya sudah mencium bau-bau modus sekarang ini. Isi otak orang seperti Sean ya tidak akan jauh dari berbagai macam tipuan dengan nantinya memberi harapan lalu meninggalkan. Hm, Zoya sudah hafal betul.


"Gue nebeng ya?" Tanyanya tapi sambil menaiki jok belakang motor Zoya tanpa menunggu jawaban dari pemiliknya.


Nah, kan? benar saja tebakannya. Zoya memang harus menambah stok kesabarannya untuk menghadapi sikap-sikap Sean selanjutnya. Karena jangankan berbicara, hanya melihat sosokmya saja sudah membuat emosi Zoya naik drastis sampai ke ubun-ubun.


"Hayu atuh Teteh capcus!" Serunya menepuk-nepuk pelan bahu Zoya.


Akhirnya mau tidak mau Zoya melajukan motornya yang sebelum itu dia menggeram terlebih dahulu memendam amarahnya.

__ADS_1


°°°°°


Terkadang untuk melihat keindahan dari suatu hal tidak selalunya memerlukan jarak yang dekat. Seperti hamparan bintang-bintang di angkasa, keindahannya lebih dapat dinikmati jika dilihat dari jarak yang jauh di bawah sini.


Pesan tanpa nomor, lagi. Sebenarnya motif pengirimnya itu apa? Sean sungguh tidak mengerti. Satu sisi orang ini menjebak Sean masuk ke dalam permainannya yang juga seperti ingin menghabisi hidup Sean, tapi sisi lain seolah dia pemuja rahasia yang sangat setia.


Sean melempar pelan ponselnya ke samping, lalu merebahkan diri di atas ranjang. Dia melenguh karena tubuhnya yang terasa kaku. Oh ini benar-benar hari yang sangat melelahkan bagi Sean. Terkhusus hukuman dari Pak Arif berhasil membuat seluruh badannya kini terasa pegal.


° Flasback on °


"Apa yang harus gue lakuin saat gue kangen dia kayak sekarang?" Tanya Zoya masih menangis tanpa isakan dalam pelukan Sean.


"Jujur gue gak tau harus jawab apa. Karena gue juga ngerasain hal yang sama, gue juga kangen sama Raka. Kakak satu-satunya yang gue punya, yang sering ngalah cuma biar gue bahagia. Terbukti dari pengorbanan dia donorin jantungnya ke gue."


"Tapi kenapa harus jantung dia? Padahal waktu itu orang tua kalian mau berusaha cari pendonor jantung ke Singapur."


"Kalo aja waktu itu gue tau, gue pasti nolak, Zoy! Sayangnya semua fakta baru gue tau kemarin dan lo tau itu." Jawab Sean sambil melerai pelukan dan menatap mata Zoya lekat.


"Tapi gue... gue masih belum bisa terima semua ini." Zoya menunduk dengan air mata terus mengalir di pipinya.


Sean mengangkat pelan dagu Zoya agar mereka saling berpandangan, "Tatap gue, Zoy! Dengerin gue!"


Zoya mengangguk.


"Gue minta maaf banget sama lo, karena udah jadi penyebab lo gak bisa lihat dia lagi. Tapi sebagai gantinya, setiap lo kangen Raka lo bisa pinjam dada gue buat dengerin jantung dia."


Zoya memeluk Sean erat, sangat erat. Sean yang sempat terkejut karena gerakan spontan Zoya pun langsung mengusap lembut punggung gadis itu.


° Flashback off °


Sean memegang dadanya yang bergemuruh. Ada perasaan yang membuncah kala mengingat setiap kejadian yang terjadi bersama Zoya. Dan entah mengapa Sean bisa begitu merasa kesal saat Bu Ayna memilih Sandi untuk menjadi pendamping Zoya dalam acara pentas drama. Ada apa dengan hatinya saat ini? Apakah Sean yang dikenal sebagai playboy-nya Tunas Bangsa akan pensiun dari gelarnya karena seorang Zoya?

__ADS_1


Memikirkan hal itu membuat Sean terkekeh geli. Menggeleng pelan lalu memejamkan matanya hingga tak sadar dia tenggelam ke alam mimpinya.


__ADS_2