
Hujan semalam membuat pagi terasa lebih segar dengan bau khas petrichor. Zoya keluar rumah dan menghirup udara menikmati kesejukan sambil menutup matanya. Tidak berapa lama kemudian, terdengar deru motor yang berhenti tepat di halaman rumah. Zoya membuka matanya, kedua sudut bibirnya terangkat keatas menampilkan senyuman manis nan tulus lalu berjalan menghampiri pria yang duduk di atas motor juga membalas senyum padanya.
"Pagi honey!" Sapanya.
"Pagi kembali fakboy!"
"Kok gitu panggilannya?" Histeris nya dengan wajah ditekuk.
Zoya tetap sumringah, "Bodo amat!" Ucapnya sambil menaiki jok belakang motor Sean.
Setelah duduknya nyaman, dia menepuk-nepuk pelan pundak Sean. "Ayo mamang berangkat!"
Sean mendengus, "Untung sayang!" Gumamnya yang tidak begitu jelas didengar Zoya.
"Hm? Lo ngomong apa barusan, gue gak jelas dengarnya?"
"Ha-hah? Emang gue ngomong apa?" Sean balik bertanya dengan tergagap.
Zoya menepuk sekali bahu Sean cukup keras, "Malah balik nanya!"
Sean meringis karena tepukan itu lebih dapat disebut dengan pukulan.
Ngapain gugup segala sih gue? Biasanya juga rayu cewek sana-sini. -Batin Sean menggerutu.
"Jam 06.41. Mau sampe kapan kita di sini terus?"
Karena perasaan-perasaan aneh itu muncul di hari yang masih pagi seperti ini membuat Sean lupa jika sekarang mereka hampir telat, mengingat jarak tempuh perjalanan dari rumah Zoya ke sekolah membutuhkan waktu sekitar 15 menit.
Sean segera memakai helm dan menghidupkan mesin motornya.
"Pegangan, Zoy! Gue mau ngebut."
Tidak Sean duga, Zoya memeluk perutnya tanpa rasa canggung. Justru Sean-lah yang ketar-ketir berusaha mengontrol degup jantung yang terasa seperti akan melompat dari tempatnya.
Berdehem pelan, menetralkan perasaannya. Lalu mereka meninggalkan halaman rumah Zoya.
°°°°°
Di tengah perjalanan, keduanya bertemu dengan Arka dan Sandi yang juga mengendarai motor mereka masing-masing. Hingga sampai di kawasan sekolah, tepat di pintu gerbang terlihat Fia dan Vania turun dari mobil Vania yang dibawa sopirnya.
Mereka segera ke parkiran karena melihat Zoya dan Sean yang datang ke sekolah bersamaan ditambah lagi Zoya memeluk perut Sean dari belakang dengan senang hati.
Ketiga motor tersebut parkir bersebelahan. Setelah membuka helm dan turun dari motor Arka bersiul menggoda pasangan yang dia ketahui selalu bertengkar kini datang bersamaan.
"Kayaknya tadi malam bukan cuma hujan air."
__ADS_1
"Hujan emang air, kan?" Tanya Zoya.
"Beda. Kalo di rumah Sean, hujannya hujan bunga. Tuh lo liat aja wajahnya berbunga-bunga gitu!"
Zoya menoleh ke samping dimana tempat Sean berdiri. Ternyata benar bukan hanya berbunga-bunga, justru Zoya melihat Sean sedang salah tingkah saat ini dikarenakan ucapan Arka.
Zoya terkekeh kecil, "Gue kira cowok kayak lo gak bisa salting."
Sean hanya tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya.
Tawa Arka berderai, sungguh hal yang langka baginya melihat Sean yang tampak malu karena seorang gadis.
"Zoy, lo beneran peluk-peluk Sean tadi?" Tanya Vania yang baru sampai di dekat Zoya dengan raut wajah tak percaya. Fia juga berada di sebelahnya.
Zoya memutar bola matanya malas, menurutnya respon Vania sangat berlebihan.
"Yang lo lihat kek gimana emangnya?"
Vania tercengang ternyata itu bukan halusinasi. "Oh my God! Gue udah duga sih ya dari kemarin-kemarin. Soalnya benci sama cinta itu emang beda tipis."
Zoya mendelik, "Lebay lo! Damai bukan berarti cinta."
"Damai bukan berarti peluk-pelukan!" Timpal Vania dengan nada mengikuti Zoya.
Ada rasa sesak yang Sean rasakan saat mendengar ucapan Zoya yang menyatakan bahwa Damai bukan berarti cinta. Entahlah Sean tidak mengerti mengapa hatinya menjadi sensitif seperti ini. Jika dipikirkan kembali, apa yang Zoya katakan memang benar. Mungkin ini karena dirinya mulai berharap lebih atas perasaan Zoya untuknya.
Perkataan Vania terpotong karena Sandi yang tiba-tiba membekap mulutnya. Vania menepuk-nepuk tangan Sandi agar pria itu melepaskan tangannya. Sungguh saat ini Vania kesulitan bernafas karena telapak tangan Sandi yang cukup besar itu mampu menutupi hidungnya juga.
Sandi menarik tangannya melepaskan bekapan dari mulut Vania, tapi dia menggantinya dengan rangkulan dibahu gadis berambut hitam sepunggung itu dan membawanya pergi dari parkiran menuju kelas meninggalkan mereka yang ternganga melihat sikap Sandi.
"Akhir-akhir ini gue sering dikasih kejutan!" Ucap Arka.
Belum berbunyi, mereka pun berjalan menuju kelas mereka bersamaan.
°°°°°
Jam istirahat kedua, mereka berenam duduk di satu meja yang sama di kantin yang sudah sangat ramai. Sambil menunggu pesanan, mereka isi kekosongan dengan candaan Arka. Hingga sampai tawa yang terdengar asik itu pun hilang seketika karena ucapan Sean.
"Dari tadi gue perhatiin lo diam terus, Fi?"
Mereka menoleh menatap Fia yang tergugup.
"Gak juga. Gue emang lagi males aja."
Sean mengangguk-angguk.
__ADS_1
"Gini ya. Kayaknya gue yang mesti ngomongin ini."
Belum sempat Sean melanjutkan ucapannya, makanan yang mereka pesan datang di bawa oleh Bi Minah. Setelah mengucapkan terimakasih, Sean meminum es teh nya terlebih dahulu.
"Sebenarnya, gue tau kalo Arka salah paham sama lo."
Vania, Zoya dan Fia langsung menatap terkejut. Mereka tidak mengira jika sebetulnya Sean mengetahui masalah Fia dengan Arka.
Sedangkan Sandi dan Arka menautkan alisnya isyarat tak mengerti.
"San, kemarin lo nanya omongan gue yang bilang 'masa lalu kalian' kan? Maksudnya, masa lalu Arka sama Fia."
Sandi menoleh kepada Arka, "Kok lo gak pernah cerita, Ka?"
Arka gelagapan, mengelap kedua bibirnya yang terasa kering sambil sesekali melirik ke arah Fia.
"Waktu lo lihat Fia pelukan sama Rafa di gudang, itu cuma salah paham! Lo gak lihat kejadiannya dari awal."
"Lo tau dari mana itu cuma salah paham? Oh, atau dia yang kasih tau?" Sinis Arka.
"Ck. Bukan. Gue lihat langsung kejadiannya."
"Kalo lihat kenapa lo gak nolongin gue?" Pekik Fia dengan suara tertahan.
Sean mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya.
° Flashback on °
"Sean! Tolong kamu panggilkan Fia dan Rafa di gudang. Jam hukuman sudah selesai dan sampaikan kepada mereka agar tidak terlambat lagi!"
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi!" Sean mengangguk patuh dan keluar dari ruang guru.
Baru saja sampai di pintu gudang, Sean melihat tumpukan kardus yang bergerak akan jatuh. Dia melihat ke bawahnya ternyata ada Fia di sana.
Hendak ingin menarik Fia, tapi terlambat. Rafa yang lebih dahulu menarik tangan Fia an membawanya ke dalam pelukan berasama dengan suara kardus yang berisi buku-buku itu jatuh.
Setelahnya, Arka datang. Sean dapat melihat raut murka di wajah Arka.
"Jadi ini yang lo lakuin di belakang gue?" Tanya Arka marah.
Fia dan Rafa terkejut langsung melepas pelukan juga melangkah mundur memberi jarak.
"Kamu.. Kamu salah paham, Ka! Aku bisa jelas.."
"Cukup! Gue gak mau dengar apapun dari mulut lo. Dan kita selesai."
__ADS_1
Spontan air mata Fia meluncur dan berusaha mengejar Arka. Keberadaan Sean saat itu tidak di sadari Arka dan Fia. Tapi Rafa, dia menyadarinya ketika Fia sudah keluar dari gudang untuk mengejar Arka.
° Flashback off °