Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 24


__ADS_3

Dering beker digital berbunyi sangat nyaring. Menggeram kesal dengan masih menutup matanya, Sean mengambil benda persegi panjang berwarna hitam dan berukuran 7 × 15 cm itu. Setelah dimatikan, dilihatnya sudah jam 05.35. Saat meletakkan beker tersebut, terasa ada sesuatu yang tidak biasa berada di atas bantalnya. Karena rasa penasarannya terpaksa dia harus membuka mata untuk melihat benda apa yang tidak sengaja tersentuk olehnya.


Kertas putih yang terlipat rapi. Sean mengernyit, mencoba mengingat-ingat apakah dirinya yang meletakkan kertas ini semalam sebelum tidur. Tetapi Sean ingat betul, dia hanya memegang ponselnya saja.


Dia bangkit duduk, membuka lipatan kertas tersebut dan membacanya.


"


Aku menemuimu semalam.


Saat terlelap kamu terlihat lugu seperti bayi, membuatku semakin menyukaimu.


Ups. Apakah baru saja aku membocorkan rahasiaku sendiri?


Oh tidak-tidak. Tentu kamu sudah mengetahuinya, bukan? Dan itu bukan lagi sebuah rahasia.


Lalu, dalam hatimu bertanya-tanya.


Mengapa aku menyukaimu sedangkan diwaktu bersamaan mengajakmu bermain?


Sederhana saja, aku menyukaimu karena kamu mau ku ajak bermain dalam permainan yang aku ciptakan.


Aku senang memiliki teman sepertimu.


"


Secara tidak langsung orang tersebut mengakui bahwa dirinya tidak hanya pendongeng yang menjebak Sean masuk ke dalam permainannya, tapi dia juga yang selama ini mengirimi pesan dan surat seperti seorang pengagum.


Sean mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamarnya. Terakhir dia melihat jendela, tirainya sudah sedikit terbuka. Dengan gerak cepat, dia melompat dari kasur untuk memastikan apakah jendelanya terkunci atau tidak?


Klek


Terbuka?


Pantas saja orang itu bisa menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Sean keluar melalui jendela itu dan melihat ke bawah balkon. Tidak ada tali ataupun tangga.


Sean berpikir, dia tau pasti orang itu adalah gadis. Tapi dengan beraninya malam-malam menyelinap ke dalam kamar pria yang entah bagaimana caranya dia masuk.


°°°°°


Hari Selasa, hari yang sama saat Sean syok menemukan mayat Risa pekan lalu. Dalam satu minggu pembunuh itu berhasil menghabisi tiga nyawa. Jika saja itu bukan kesalahan, Sean akan menjadi salah satu pengagumnya.


"Gue ada berita!" Pekik histeris Vania dari ambang pintu, baru saja dia datang. Berlari kecil menghampiri Sean, Arka, Sandi, Zoya dan Fia.


"Penting gak?" Tanya Zoya.


"Ini berita penting ting ting ting banget!"


"Cepatan deh, Van! Bertele-tele." Titah Sean tidak sabar.


"Di kelasnya Rafa ada yang masuk rumah sakit jiwa." Histerisnya.

__ADS_1


"Hah?" Mereka berlima serentak.


"Siapa? Kok bisa?" Tanya Fia tak kalah heboh.


"Kalo gak salah, tadi gue dengar namanya Ferdian. Menurut informasi yang gue dapat dari teman sekelasnya, tadi malam sekitaran jam sepuluh sehabis pulang dari caffe, Ferdi disiksa abis-abisan sama orang!"


Vania melepaskan ransel dari punggungnya lalu meletakkan benda berwarna biru muda tersebut di kursinya.


"Dan lo semua tau siapa pelakunya?"


"Orang yang sama, yang udah bunuh tiga murid di sini?"


Vania mengangguk cepat. "Katanya Ferdi dicekok obat makanya bisa jadi gila."


Sean mengepalkan kedua tangannya, terlihat dari buku-buku jarinya yang menegang.


Ferdi berasal dari kelas yang sama dengan Rafa. Sean memutar otak, dia menyimpulkan bahwa bisa jadi Ferdi adalah teman dekat Rafa sehingga membuat pembunuh itu menghancurkan rencana Sean yang berniat ingin mencari tau tentang mantan Rafa dari orang-orang terdekatnya.


Sial!  Dia sudah kalah start. Pembunuh itu memang tidak bisa diremehkan dalam menjalan misinya. Jika sudah begini, bagaimana Sean bisa mencari bukti untuk membongkar siapa dalang dibalik semua ini?


°°°°°


"Sesuai rencana, sekarang kita ke rumah sakit. Mungkin aja Ferdi udah agak tenang." Ucap Sean setelah mereka berenam sampai di parkiran.


"Kalo ternyata Ferdi masih gak sadar gimana?" Tanya Arka.


"Itu urusan nanti."


Vania menatap Fia dan Arka secara bergantian dan penuh selidik. Ada yang tidak beres diantara mereka. Tapi bukankah kemarin mereka sudah beik-baik saja?


Tidak mau berdebat karena menurutnya itu adalah privasi Fia dan Arka, maka Vania lebih memilih mengangguk menyetujui ucapan Fia tadi.


Arka menatap Fia yang langsung menunduk saat menyadari dirinya sedang Arka perhatikan. Menghela nafas pelan, Arka pasrah. Dia tidak bisa bertanya apapun pada Fia saat ini.


°°°°°


Mereka sampai di halaman gedung bercat hijau muda. Tanpa basa-basi mereka segera memasuki gedung tersebut setelah memarkirkan kendaraan terlebih dahulu.


"Sus! Ruangan pasien bernama Ferdian Prayoga dimana?"


"Korban pil PCC dan kekerasan semalam?"


Sean mengangguk.


"Mari saya antar."


Mereka jalan menyusuri lorong rumah sakit yang begitu ramai oleh pasien. Ada yang tengah tertawa dengan boneka yang berada dipangkuannya, ada juga yang berlari dari kejaran suster yang hendak menyuapinya makan, pada bangku-bangku dekat dinding ada yang berteriak sambil melompat-lompat.


"Ini pasien bernama Ferdian Prayoga."


Terlihat pemuda yang sedang duduk bersandar pada dinding, tersirat keputus asaan.

__ADS_1


"Terima kasih, Sus!"


Suster itu mengangguk dan tersenyum, "Sama-sama. Kalau begitu saya permisi."


Mereka mengambil langkah mendekati jeruji besi tempat Ferdi di tangani.


"Kok gue merinding ya?" Tanya Fia setengah berbisik sambil mengusap-usap tengkuknya.


Arka epat berada di samping Fia, dia menggenggam hangat sebelah tangan gadis yang tengah merasa ketakutan itu.


Fia menoleh ke bawah saat merasakan seseorang menggenggam tangannya, lalu beralih menatap orang tersebut.


Sebetulnya dia ingin melepaskannya, tapi Arka justru mempererat genggaman itu. Akhirnya, Fia hanya menghela nafas pasrah. Tidak mungkin berisik di tempat seperti ini.


"Lo yakin mau nanya dia sekarang?" Tanya Sandi akhirnya bersuara.


"Kita coba dulu."


"Tapi kalo dia ngamuk?"


"Berarti besok kita datang lagi." Jawab Vania.


"Gak. Hari ini kita harus ada hasil. Pembunuh itu udah start duluan di misi ini. Kita gak boleh kecolongan lagi."


"Tapi.." Kalimat Vania terpotong.


"Sssst!" Sean mengangkat jari telunjuk kanan ke dekat mulutnya. Sean berdehem pelan yang ternyata suaranya dapat Ferdi dengar.


Ferdi mendongak, menatap kosong ke arah mereka bertiga. Beberapa detik selanjutnya dia berjalan cepat sambil berteriak histeris. Dia mengeluarkan kedua tangannya hendak menggapai mereka. Spontan keenamnya mundur.


Tapi Zoya terlambat, tangannya tergapai oleh Ferdi. Kedua cepolan rambutnya berantakan karena ditarik-tarik. Zoya berteriak kesakitan. Terasa seperti rambutnya hendak lepas dari kepala saat itu juga.


Dengan panik Vania memukuli tangan Ferdi. Sandi bergerak cepat memegang erat tangan Ferdi dan Sean membuka jari-jarinya yang menggengam dan menarik-narik rambut Zoya.


Fia dan Vania segera memeluk Zoya yang terengah berusaha mengatur nafasnya.


"Ferdi belum terkendali. Sebaiknya kita pergi dari sini."


Mereka mengangguk hendak beranjak pergi. Tapi teriakan Ferdi membuat mereka mengurungkan niat.


"Penjahat! Penjahat! Aarggh! Hancurkan dia!" Teriaknya dengan artikulasi yang tidak begitu jelas. Mungkin pengaruh obat.


Pandangan mereka mengikuti tangan Ferdi yang menunjuk kepada...


Zoya?


Zoya tengah merapikan rambutnya hingga tergerai bebas. Menyadari situasi menjadi hening, dia mendongak dan melihat tatapan mereka yang tidak terbaca.


Lalu Zoya mengalihkan tatapannya ke arah Ferdi. Dimana tangan pria itu menunjuknya. Zoya mengangkat tangan, juga ikut menunjuk dirinya sendiri.


"Gue?"

__ADS_1


__ADS_2