Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 18


__ADS_3

"Dia siapa, Zoy?" Tanya Vania.


Zoya menoleh ke arah pandang Dia dan Vania, "Oh itu, dia Dino."


Vania berdehem beberapa kali sambil tersenyum bermaksud meledek, "Ganteng sih, imut-imut juga. Tapi Sean mau lo kemanain?"


"Ck, kok jadi Sean? Lagian kita cuma temenan."


"Temenan tapi rangkul-rangkulan."


"Wajar dong. Tanda gue sama dia udah sepakat damai."


"Iya deh iya gue mah ngalah. Udah yuk langsung ke rumah gue aja, panas ni gak kuat!"


°°°°°


Tidak hanya Zoya dan kedua sahabatnya yang tengah berkumpul saat ini. Sean beserta Sandi dan Arka pun sedang berkumpul di rumah Sean, karena di rumahnya selalu sepi jika hari masih terang disebabkan kedua orang tuanya bekerja di perusahaan yang sama, milik Satria -Ayah Sean-. Tidak hanya itu, diantara mereka bertiga, di rumah Sean-lah yang selalu terdapat banyak cemilan.


Arka dan Sandi sedang asik dengan play station, sedangkan Sean sibuk dengan suatu hal yang tengah mengganggu pikirannya.


Mengingat pesan tadi pagi bahwa orang tersebut akan menyapanya, Sean bingung. Karena di sekolah  banyak gadis yang menyapanya, tapi dia yakin orang itu adalah diantaranya.


Apa Zoya? -Pikirnya.


Tidak lama setelah itu, Sean menggeleng. Tidak mungkin. Di hari-hari lalu jelas Zoya membencinya dan untuk pagi tadi dia menyapanya karena kemarin sore gadis itu berjanji akan berdamai dan menganggapnya teman.


Kebingungan itu tiba-tiba beralih begitu saja menjadi bayangan wajah Zoya yang untuk pertama kalinya tersenyum tulus pada Sean. Cantik sekali gadis itu, mengingatnya membuat sesuatu bergelyar aneh di di dalam dadanya.


Sedari tadi, sambil bermain game Arka sesekali memperhatikan raut wajah Sean yang berubah-ubah. Dari mulai tampak bingung sampai senyum - senyum sendiri.


"Yan!" Panggil Arka.


Tersadar dari pikiran-pikirannya, spontan Sean menjawab panggilan Arka dengan bergumam.


"Ada yang kosong, tapi bukan kotak!"


Sean mengangkat alis sebelah memikirkan apa yang tepat jawaban dari pertanyaan Arka.


"Hati?" Sandi bersuara.


"Ciahh.. Keliatan banget jonesnya, lo! Bukannya ada neng Zoya?" Arka terkekeh.


"Bukan Zoya, tapi Vania." Ucap Sean terselip nada tidak suka.


Sandi tidak merespon, dia hanya menampilkan wajah kakinya seperti biasa sambil menikmati game-nya bersama Arka.


"Udah deh. Menurut lo apa, Yan?" Tanya Arka lagi masih tersisa suara kekehan kecilnya.


Terlanjur bad mood saat mendengar ucapan asal dari Arka tentang Zoya dan Sandi, maka Sean pun tampak malas merespon pertanyaan Arka.


"Apaan? Nyerah gue!"

__ADS_1


"Ada yang kosong tapi bukan kotak. Ya otak lo lah, Yan!" Ucapnya tertawa.


Krik krik.


Selera humor Arka sunggu sangat jauh di bawah rendah. Sean tidak mengerti ngidam apa ibunya Arka saat mengandung?


"Dompet lo, kosong!" Kesal Sean.


Arka langsung memberhentikan tawanya. "Gak lucu ya?"


"Gak bisa ngelawak mending diam aja deh!"


"Yeuuu, kan tadi maksud gue mau nyindir lo yang sebentar - sebentar mikir keras banget, terus habis itu senyum-senyum gaje."


Senyuman Sean kembali terukir di wajahnya. "Gue rasa, gue mulai ada feel sama Zoya."


Sandi menoleh ke arah Sean.


"Maksud lo apaan?"


"Gak ada maksud. Gue cuma bilang, kalo gue mulai ada hati sama dia."


"Pantes aja rangkul-rangkul di kantin." Ucap Arka.


"Lo jangan main-main sama Zoya."


"Ini ni yang jadi tanda tanya besar yang gue mau tau jawabannya langsung dari lo. Apa sih yang bikin lo sentimen kalo gue bahas cewek itu?"


"Dan gue gak bilang mau jadiin Zoya mainan. Gue suka sama dia dalam artian mau milikin seutuhnya, bukan sekedar jadi boneka."


Sandi mendengus. "Oke. Tapi kalo sampe lo macam-macam, gue bakal habisin lo sekalipun kita sahabatan."


Sean mengangguk mantap, "Oke."


Arka merasa panas hingga merinding melihat perdebatan Sandi dan Sean. Mendengar Sandi yang banyak berbicara bahkan menentang sesuatu yang berkaitan dengan gadis itu sangat menyeramkan bagi Arka, terlebih lagi yang ditentang Sandi adalah Sean. Siapapun mengetahuinya, jika Sean bukanlah orang yang suka ditentang.


°°°°°


"Lo masih mau mingkem aja ni, Fi?" Tanya Zoya sambil duduk di samping Fia yang berada di atas ranjang Vania.


"Sebenernya gue bakal baik-baik aja kalo seandainya Arka gak kayak gitu pas di taman belakang." Fia mulai berucap.


"Kayak gitu gimana? Jangan ambigu deh, Fi!" Vania yang baru keluar dari walk in closet selesai berganti pakaian.


"Ya gila aja, bukannya minta maaf ini malah ngatain lagi."


"Ck. Lo sih gue bilangin juga, lupain dia! Gak perlu ngemis-ngemis cinta lagi sama cowok gak tau diri kayak Arka."


Tampak wajah Fia semakin murung.


"Bentaran! Maksud dari kata 'lagi' tu gimana ya?" Zoya mengernyit.

__ADS_1


Vania menepuk dahinya pelan, "Gue lupa kalo lo belum tau tentang Fia sama Arka."


Vania menatap Fia meminta persetujuan untuk menceritakannya kepada Zoya, lalu Fia mengangguk sedikit ragu.


"Jadi, Fia sama Arka pernah jadian waktu kelas sembilan. Tapi karena kesalahpahaman mereka akhirnya putus, terus Fia masih belum nerima." Jelas Vania.


"Mau gimana gue terima coba? Lo bayangin aja Zoy, gue diputusin gara-gara pelukan sama cowok... "


"Ya iyalah dodol! Pasti cemburu lah." Zoya memotong penjelasan Fia.


"Jangan dipotong dulu, elah! Gak bakal ada acara pelukan kalo cowok itu gak nolong gue yang hampir ketiban kardus. Mana lagi isinya barang-barang yang berat banget. Arka datang pas banget waktu gue pelukan, jadinya ya salah paham."


"Lo gak jelasin ke dia?"


"Mau gimana jelasin kalo setiap gue mau ngomong dia ngehindar terus?"


"Gue pikir selama ini lo nempelin Arka terus karena obsesi aja."


"Bukan obsesi! Gue masih cinta banget sama dia, Zoy!" Fia mulai merengek dengan suaranya yang melengking.


"Kenapa gak lo aja yang jelasin, Van?"


"Gue mau jelasin tapi mungkin karena Arka tau gue dekat sama Fia, jadi dia gak mau dengar."


"Ke temen-temennya gitu?"


"Gak bisa, gue takut kena amuk Arka. Kayaknya Sandi sama Sean gak tau kalo dia sama Fia pernah pacaran."


"Lah?"


"Gue backstreet sama Arka." Jawab Fia.


Zoya mengangguk-angguk mengerti.


"Padahal menurut gue, kenapa mesti sampe putus? Kan masih bisa diomongin baik-baik?"


"Karena cowok yang peluk gue itu, Rafa. Musuh bebuyutan Sean, Arka, sama Sandi."


Rafa?


Zoya tampak tercengang, "Pantesan. Ah kok bisa malah cowok itu yang nolongin lo ya?"


Fia menggedikkan bahu dan Vania mengusap lengan Fia menyalurkan semangat agar dia tidak meneruskan kesedihannya.


°°°°°


Besok gue jemput


Pesan dari nomor tak dikenal. Dilihatnya foto profil juga nama yang tertera di ponselnya.


~Abang Sean Tertampan~

__ADS_1


__ADS_2