
Tiga hari berlalu setelah pembunuh berantai itu menyatakan permainan usai dan dialah pemenangnya. Dia berhasil membunuh target terakhir dan Sean gagal memahami setiap clue yang ada sehingga membuat dirinya harus menggigit jari penuh penyesalan.
Mereka berenam menjadi lebih akrab atau bahkan mungkin bisa dikatakan bersahabat, walaupun ada percikan-percikan cinta di dalamnya. Seringkali mereka menghabiskan waktu bersama dan sudah melupakan tentang permainan itu. Kebersamaan membuat mereka terasa seperti keluarga kedua setelah orang-orang rumah.
"Halo sayang!" Sapa dengan senyum manja seorang gadis yang mengambil tempat kosong sebelah Sean lalu merangkul lengannya.
"Lepas, Nya! Ini di kantin." Titah Sean dengan suara pelan sambil berusaha melepaskan rangkulan Anya.
"Gak mau. Aku tuh kangen kamu, gak peduli ya walaupun ini di kantin."
Sean pasrah. Melarang Anya untuk mendekatinya hanya akan membuat suasana menjadi lebih buruk.
"Kalo Zoya lihat ini, cemburu gak ya?" Bisik Arka pada Sandi.
Sandi mengangkat bahunya tidak tau dan kembali fokus pada makanannya.
"Eh, Zoy! Yakin kita mau duduk di sana? Ada Anya tuh!"
"Terus apa masalahnya sih, Van?"
"Maksud Vania lo gak bakal panas gitu?" Fia memperjelas pertanyaan.
Tersenyum sinis, Zoya mengibaskan sebelah tangannya. "Gak lah!"
"Tapi kan.."
Kalimat Fia terpotong saat mendengar suara deheman dari belakang mereka. Secara bersamaan ketiganya menoleh.
"Oh to the my to the God. Ganteng banget sih!" Pekik Fia tertahan.
Pria itu terkekeh kecil merasa geli mendengar ucapan Fia tadi.
"Lo diam deh, Fi. Malu-maluin aja." Ucap Vania menyenggol sikut Fia, gadis itu hanya menyengir tak bersalah.
"Gue pinjam teman kalian sebentar, boleh?"
Zoya mengernyit bermaksud bertanya apa yang akan dilakukan Dino.
"Ooh Zoya?" Tanya Fia sumringah.
Dino mengangguk.
"Boleh dong pastinya. Zoya mana ada yang marah, kan dia jomblo." Ucap Vania menarik tangan Zoya untuk berdiri di sebelah Dino.
"Noh bawa aja sepuasnya, tapi jangan sampai luka sedikitpun!" Sambungnya.
"Gak mungkin kan, No? Lo kan cowok baik-baik?" Bela Fia.
"Genit banget sih lo udah punya Arka juga."
"Suka-suka gue dong. Lagian gue gak ada apa-apa sama dia." Balas sewot Fia.
"Udah stop! Apaan sih jadi pada berantem? Gue bareng Dino dulu, kalian duluan aja."
"Ini nih cewek satu centil banget."
Fia yang tersindir pun mendeliki pada Vania dan berdecak kesal.
__ADS_1
"Ya udah, gue ajak Zoya sekarang." Pamit Dino menggandeng tangan Zoya.
Setelahnya, Fia dan Vania mengambil tempat kosong di meja Sean dengan yang lainnya. Sampai saat pesanan datang, mereka berdua fokus dengan makanannya tanpa bersuara. Seperti memang tidak ada selain mereka berdua di sana. Jelas itu membuat Sean, Arka dan Sandi menatap keduanya bingung.
"Tumben kalian diam aja dari tadi? Biasanya nyerocos gak ada rem."
Vania menatap Sean, lalu menunjuk Anya dengan lirikannya.
"Nya, mending lo ke kelas deh!" Ucap Sean saat mengerti maksud Vania.
Anya mencebik bibirnya. "Gak mau! Aku pengennya di sini sama kamu." Jawabnya manja.
"Bisa gak sekali ini aja nurut?"
Bibir Anya mengerucut, terpaksa dia melepaskan rangkumannya pada lengan Sean.
"Tapi janji ntar malam kita dinner?"
Sean menutup matanya sebentar menahan kesal. Gadis ini benar-benar tidak kehabisan akal untuk terus dekat dengannya, pikir Sean.
"Oke. Nanti malam kita dinner. Puas?"
Anya mengangguk senang. "Kalo gitu aku ke kelas duluan."
Setelah dirasa Anya sudah tak terlihat, pandangan Sean beralih kepada Vania dan Fia.
"Zoya mana?"
Tidak ada yang menjawab. Kedua gadis itu sibuk memakan makanannya seolah pertanyaan Sean terlalu pelan untuk didengar.
Fia menyenggol lengan Vania dengan sikut, tapi Vania mengangkat bahu acuh tanpa mendongak. Dia tidak mau peduli pada Sean.
"Oke kalo gitu gue bakal cari sendiri."
"Gak usah!" Serah Vania memberhentikan pergerakan Sean yang hendak beranjak.
"Kenapa emangnya?"
"Zoya lagi sama pacarnya, jadi lo jangan ganggu dia."
Arka dan Sandi terkejut mendengar penuturan Vania, terlebih lagi Sean.
"Pacar? Lo bercanda?"
"Ngapain gue bercanda?"
"Udah deh lo dengar apa kata Vania!" Sambung Fia.
"Jangan ikut-ikutan, Fi!" Seru Arka lembut.
"Suka-suka gue dong. Emang lo siapa berani larang gue?" Sewot Fia menatap sinis.
Arka tidak menyangka Fia akan berbicara sesinis itu padanya. Begitu juga mereka yang melihat.
Karena bingung harus menjawab apa, Arka terdiam. Status saat ini memang tidak ada apa-apa diantara mereka, dan Arka sangat tidak suka mengingatnya.
"Lo ikut gue!" Titah Arka menarik tangan Fia tanpa izin.
__ADS_1
"San. Gue ada perlu sama lo."
Sandi melirik Vania lalu kepada Sean bermaksud untuk pamit melalui matanya. Setelah itu, Sandi kembali mengalihkan pandangannya pada Vania lalu mengangguk.
Sean mendengus kesal. Sekarang dirinya ditinggal sendiri. Sebenarnya ada apa dengan Fia dan Vania yang terlihat kesal padanya? Sean tidak mengerti. Lalu Vania mengatakan Zoya sedang bersama kekasihnya? Benarkah? Entah mengapa Sean merasa di dalam dadanya bergemuruh saat membayang Zoya dengan pria lain.
Tidak berselang lama, dia memilih meninggalkan kantin untuk mencari Zoya dan memastikan gadis itu tidak memiliki kekasih seperti yang sudah Vania katakan.
Sean berjalan ke arah kelas, tapi tidak ada Zoya di sana. Lalu ke taman belakang sekolah, ternyata di sana pun tidak ada. Saat hendak membawa langkahnya menuju perpustakaan, Sean berhenti. Dia melihat gadis yang dicarinya itu sedang tertawa lepas bersama pria lain.
Mendadak hatinya semakin panas. Sean mengepalkan kedua tangannya menatap tajam dua sejoli yang terlihat seperti dunia milik mereka.
Sean mendekat untuk melihat siapa pria yang bersama Zoya.
Dino?
Dino kekasih Zoya?
Benarkah?
Saat ini Sean ingin sekali mengamuk. Oh dia sungguh tidak tau apa yang terjadi dengan dirinya? Dia hanya suka, bukan cinta. Tapi mengapa rasanya ingin membunuh pria itu?
°°°°°
Tawa mereka berdua perlahan mereda. Zoya memegangi perutnya yang terasa sakit akibat terlalu banyak tertawa.
"Gue balik ke kelas deh. Kayaknya sebentar lagi bel."
Dino mengangguk dan tersenyum. "Oke. Nanti malam jangan lupa gue jemput jam tujuh."
Zoya mengacungkan jempolnya menyetujui. "See you!"
"See you!"
Saat membalikkan tubuhnya, Zoya terkejut. Apa yang Sean lakukan di sini? Pikir Zoya.
"Lo lagi apa di sini?" Zoya menghampiri.
Alih-alih menjawab, Sean justru menatap tajam manik mata Zoya. Setelahnya, dia menarik tangan gadis itu dan membawanya ke lorong yang tidak begitu ramai.
"Kenapa sih, Yan?"
"Ngapain lo sama dia?"
Zoya mengernyit. "Emang kenapa?"
"Lo pacaran sama dia?"
Zoya semakin tidak mengerti dengan Sean yang tiba-tiba saja bertanya seperti itu.
"Jawab!" Bisik Sean menekan suaranya.
"Ada apa sih sebenernya? Lagian kalo pun gue pacaran sama Dino, apa masalahnya sama lo?"
Sean terdiam. Ya, benar. Sean baru teringat akan hal itu. Jika memang Zoya berhubungan dengan Dino, apa masalah dengannya?
Sepertinya pulang sekolah dia harus segera pergi ke dokter untuk memeriksa kepalanya.
__ADS_1