Dongeng Di SMA

Dongeng Di SMA
Episode 22


__ADS_3

"Jadi?" Tanya Vania.


Sesuai rencana tadi siang, saat ini mereka berenam tangah berkumpul di salah satu caffe terdekat dengan sekolah setelah selesai latihan drama tentunya.


Sean membetulkan posisi duduknya yang semula bersandar menjadi tegak.


"Sebelumnya, kalian janji gak bakal bocorin ini kan?" Tanya Sean serius kepada ketiga gadis yang duduk di depannya.


Mereka atau lebih rincinya Fia, Vania dan Zoya mengangguk serentak. Tidak sabar menantikan berita yang akan mereka dengar Sean.


"Gue nemuin clue di tempat kejadian, baik kematian Risa ataupun Dion."


"Jadi clue yang lo temuin tadi siang di TKP kematian Rafa itu yang ketiga?" Tanya Vania lagi.


Sean mengangguk membenarkan lalu menyesap mocacino yang di pesannya sebelum membahas perihal clue.


"Tapi kenapa bisa di loker lo, Yan?" Tanya Fia kali ini.


"Itu inti yang bakal kita bahas!" Jawab Arka.


"So?"


"Pembunuh itu sengaja mau jebak Sean buat masuk ke permainan dia. Mungkin gak lama lagi kita juga bakal ikut ketarik."


Ketiga gadis tersebut mengernyit isyarat tidak mengerti karena memang dari awal mereka tidak tau begitu jelas apa sumber masalah ini ada.


"Permainan? Apa sih maksdunya? Terus apa hubungan Sean sama pembunuh itu sampe mikir dia sengaja ngejebak Sean?" Vania menatap Arka dan Sean bergantian meminta penjelasan.


"Atau dia ada dendam sama lo?" Fia bertanya penuh selidik.


"Mungkin. Gue sendiri gak tau apa salah gue."


"Tapi ini ada hubungannya sama Raka." Sandi bersuara.


"Abang lo yang udah meninggal itu?" Tatapan Fia beralih kepada Sean dan sedikit menggebrak meja menahan keterkejutannya.


Sean mengangguk. "Dari ketiga clue yang gue dapat, itu semua saling berkaitan. Dan peran utama yang jadi alasan pembunuh itu jalanin misinya karena gak terima sama kematian Raka."


"Clue yang lainnya mana? Lo bawa?"


Sean menggeleng. "Tapi gue inget isinya."


"Pertama, clue dikematian Risa. Dalam surat itu isinya tentang Odile yang rebut Pangerannya Odette. Kedua, clue dikematian Dion. Isinya tentang Pangeran Kodok yang khianati sahabatnya sendiri demi Odile yang sebenernya Odile itu licik. Terus sekarang yang ketiga, clue dikematian Rafa. Alice adiknya Odette meninggal karena Charles yang katanya kembaran Pangeran Kodok."

__ADS_1


"Odette, Pangeran, Odile, Pangeran Kodok, Alice, Charles?" Vania mengabsen peran-peran yang ada di dalam semua clue. Dia menopang dagunya di atas meja menggunakan tangan kanan.


"Kok ceritanya ngaco ya?"


"Aduh, Fi! Itu yang kedua kalinya lo nanya pake pertanyaan yang sama." Pekik tertahan Vania. Dia tidak suka jika ada seseorang yang selalu mengulang pertanyaan yang sebelumnya sudah terjawab.


Fia meringis sambil menyengir polos. "Ya maaf kan gue heran aja itu ceritanya nyimpang sana sini."


Vania kembali serius menanggapi masalah pembunuhan yang sudah terjadi tiga kali berturut-turut di sekolah.


"Berarti pembunuh itu memposisikan dirinya sendiri sebagai Putri Odette? Bener gak?"


"Tepat! Dugaan kita bertiga juga gitu." Jawab Arka.


"Biar kita bisa tau dalangnya, Sean harus menang dalam permainan." Ujar Sandi.


"Nentuin menang atau enggaknya gimana? Apa Sean juga harus bunuh seseorang?"


Vania menggeram, kedua tangannya terangkat ingin sekali menambah Fia yang kelewat apa ya Vania bigung bagaimana mendeskripsikan kemampuan Fia dalam berpikir.


"Lo diam aja deh ah. Gondok gue dengarnya!"


"Ck. Sensi banget sih lo, Van. Gue kan cuma nanya." Fia mencebikkan bibirnya kesal.


Mereka tampak berpikir. Lalu Fia menoleh ke samping kiri.


"Kok lo diam terus, Zoy? Ngelamunin apa?"


Mereka yang berada di satu meja itu ikut melihat Zoya yang terlihat sedikit gelagapan karena pertanyaan yang terlontar dari mulut Fia.


"Gu-gue dengar kok. Gue nyimak. Gue juga lagi mikir jalan keluarnya." Zoya berusaha menyembunyikan kegugupannya. Tapi usahanya sia-sia, wajah dan gerakannya sangat ketara menunjukkan rasa gugup yang entah karena apa. Apakah karena pertanyaan Fia atau karena lamunannya yang buyar akibat pertanyaan itu.


Sadar dengan tatapan mereka yang penuh curiga, Zoya menegapkan punggungnya dan berdehem.


"Kenapa jadi ke gue? Gue lagi mikir gimana caranya biar Sean menang."


"Gue rasa gue nemu ide." Sandi mengalihkan mereka agar kembali ke pembahasan inti.


"Apa?" Serentak mereka berlima berantusias.


"Kita harus cari tau siapa yang jadi tokoh Alice."


"Tapi dia udah meninggal." Ucap Sean.

__ADS_1


"Ah iya. Di surat itu kan katanya Alice pergi ke dimensi lain selamanya. Berarti Alice meninggal." Vania memperjelas maksud Sean.


"Kita bisa cari tau siapa diantara mantan Rafa yang udah meninggal. Otomatis kita bakal tau siapa Alice sekaligus siapa Odette. Besok kita tanya ke temen dekatnya."


Mengangguk paham mereka mengerti ide yang yang Sandi cetuskan. Dalam hatinya, Sean bertekad ingin menuntaskan masalah ini dan mengetahui dalangnya. Terlebih lagi dia ingin tau alasan apa sebenernya yang membuat pembunuh itu menjebaknya.


°°°°°


"San, kita searah. Gue bareng lo ya?" Tanya Vania lebih terkesan seprti sebuah permohonan.


Sandi mengangguk santai menaiki motornya dan memakai helm. Lalu Vania naik ke atas jok penumpang.


"Gue duluan guys. Bye!" Pamitnya. Begitu juga Sandi berpamitan dengan sebuah anggukan.


"Gue...masih ada yang mau dilurusin sama Fia." Arka mengusap tengkuknya gugup.


"Lurusin apa? Anu lo bengkok sampe harus dilurusin sama Fia?" Pertanyaan ambigu Sean menghadirkan pukulan yang cukup keras di bahunya dari Zoya.


Sean meringis, "Kenapa digeplak sih? Tenaga lo kayak kuli juga ya?"


"Lagian lo ngomong gak disaring."


Arka dan Fia salah tingkah, suasana diatara keduanya terasa canggung sejak kejadian di tepi lapang tadi sore dan sekarang ditambah dengan pertanyaan Sean yang sangat absurd.


"Udah ah anterin gue! Udah mau jam sembilan."


"Tumben lo minta duluan?" Tanya Sean menaik turunkan alisnya menggoda Zoya.


"Kan lo yang jemput gue tadi pagi? Jadi pulang harus lo juga yang anter! Tanggung jawab dong!" Sedikit berteriak Zoya berjalan kesal mendekati motor Sean yang terparkir di depan caffe.


"Oh jadi sekarang lo minta gue tanggung jawab? Emang sekarang udah berapa bulan?"


Zoya menatap tajam Sean yang sudah berada tepat dihadapannya. "Apanya yang udah berapa bulan, hm?" Sangarnya.


Sean melihat perut rata Zoya yang terbalut baju kaus putih yang dia gunakan sewaktu latihan tadi dan menunjuknya dengan dagu.


Spontan mata Zoya mengikuti arah pandang Sean dan tanpa diduga dia memberi bogeman kepada perut Sean yang terasa keras.


"Arrghhh!" Sean memegangi perutnya, dia terbatuk-batuk karena tidak siap menerima pukulan itu.


"Lo gila?" Tanyanya.


Zoya bersedekap dada sedikit mengangkat dagunya. "Mau tambah?"

__ADS_1


Secepatnya Sean menggelengkan kepala. Cukup sudah, dalam waktu lima belas menit dirinya sudah dia kali mendapat pukulan Zoya. Ini sungguh-sungguh ngilu.


__ADS_2