
Air mata mengalir deras dari kelopak mata Sean. Sungguh sangat marah pada dirinya sendiri karena menjadi penyebab kematian kakaknya yang begitu disayangi. Orang yang selalu mengalah dalam hal apapun hanya agar Sean bahagia.
°°°°°
Sean membuka pintu rumah dengan tergesa-gesa.
"Bunda!" Panggil Sean kepada Ranti.
"Salam dulu, Sean! Gak baik nyelonong gitu aja."
Wanita paruh baya itu berjalan dari arah dapur menuju ruang tengah menghampiri putranya.
Grep
Tanpa aba-aba Sean memeluk Ranti dengan erat dan terisak menangis. Jelas saja hal itu membuat Ranti terheran, tapi tidak mau banyak bertanya dahulu dia mengusap punggung Sean penuh sayang.
"Kenapa bunda gak pernah jujur sama Sean?" Tanyanya dengan suara parau.
Ranti tertegun, dia tau akan arah pembicaraan Sean. Karena Ranti sama sekali tidak pernah berbohong kepada Sean terkecuali satu hal, yaitu kematian Raka.
Ya Allah aku harus jawab apa? -Batinnya waswas.
Sambil mengurai pelukan, Sean menatap Ranti lekat menuntut jawaban.
"Bunda, Sean mohon jujur! Sean udah tau semuanya."
Ranti nyang semula tertunduk pun mengangkat kepalanya manatap Sean penuh rasa terkejut. Darimana Sean tau? Tidak ada yang tau tentang ini.
"Benar Sean penyebab kematian Raka?"
Tidak kuasa menahan air mata, Ranti ikut terisak. Kepingan-kepingan ingatan mengenai Raka terputar kembali seperti sebuah kaset film. Kepalanya mulai terasa berdenyut, dia memijat pelipisnya sambil meringis.
"Bunda!" Sean menahan bahu Ranti yang sedikit hilang keseimbangan, lalu memapahnya untuk duduk di sofa.
Inilah yang Sean hindari sejak dulu. Ranti akan seperti ini jika diingatkan tentang kematian Raka. Tapi untuk sekarang Sean benar-benar ingin tau cerita lengkapnya, dia tidak mau dibayang-bayangi rasa bersalah karena menyebabkan Raka meninggal.
Cukup selama dua tahun ini dia diam dan berpura-pura tidak penasaran akan dibalik semua kejadian itu.
Ranti mengangkat telapak tangan kanannya memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.
Setelah dirasa cukup tenang, Ranti mengusap bahu Sean.
"Apa aja yang udah kamu tau?"
"Sean tau.. Sean.. Sean penyebab Raka meninggal. Raka kasih jantungnya ke Sean." Ucapnya kembali tersedu.
Ranti mengangguk mengerti.
"Kamu harus janji, setelah tau cerita lengkapnya kamu gak bakal benci Bunda sama Ayah."
Sean memalingkan wajahnya, bingung apakah dia harus berjanji? Hatinya tidak dapat berbohong jika sebenarnya merasa kecewa karena Ranti dan Satria tidak menceritakan ini dari dulu.
__ADS_1
"Sean?"
Kemudian Sean mengangguk sedikit tidak yakin.
Menghela nafas pelan Ranti pun mulai menceritakan kejadian sebelum hingga meninggalnya Raka.
°Flashback on °
"Raka! Dengerin mama kali ini aja!"
Raka yang saat itu sedang bersantai di ranjang rumah sakit dengan buku yang dia pegang, berpura-pura fokus membaca.
"Raka! Lihat mamah!" Tegas Ranti sedikit lebih meninggikan suaranya.
Raka menghela nafas jengah menyimpan bukunya di atas nakas lalu menoleh ke arah Ranti.
"Keputusan Raka gak bisa diganggu gugat, mah!"
"Mamah gak setuju, Raka! Kita masih bisa cari jalan keluar biar Sean tetap hidup dan bebas dari penyakitnya."
"Gak ada jalan keluar lagi. Cepat atau lambat Sean tetap bakal kehilangan nyawanya, Mah"
"Papa punya banyak uang buat bayar dokter handal luar negeri biar Sean sembuh, kamu harus yakin itu."
"Raka mohon, Mah! Lagian hidup Raka juga udah gak bisa dipertahankan. Gara-gara kecelakaan itu kepala Raka cedera."
"Mamah yakin kamu masih bisa diobati, kamu sama Sean bisa sembuh."
"Cedera di kepala itu fatal, Mah. Kalaupun Raka bertahan, Raka bakal tersiksa seumur hidup karena nahan sakit. Sedangkan Sean bisa sembuh kalo ada yang donor jantung. Tapi kata dokter belum ada pendonor buat Sean. Makanya lebih baik Raka yang donor."
Bingung dan putus asa. Itu yang dia rasakan. Ranti tidak mau kehilangan kedua putranya.
"Mah! Walaupun nanti Raka meninggal, seenggaknya sebagian tubuh Raka ada di Sean. Itu sama aja Raka juga hidup."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jawab Raka dan Ranti bersamaan.
Satria yang melihat Ranti menangis pun berjalan cepat menghampiri. Dia duduk di sebelah Ranti dan memeluk tubuh wanita yang sangat dicicintanya itu.
"Pah! Bilang sama Raka, kita gak setuju." Titahnya meraung.
Satria menoleh ke arah Raka.
"Maaf, Pah. Keputusan Raka udah bulat. Raka udah pikirin ini baik-baik."
Mendengar penuturan Raka, Satria menengadah menahan air mata. Tapi tetap saja setetes air mata mengalir dan dengan cepat dia hapus dengan jemarinya.
"Mungkin ini emang yang terbaik buat semuanya, Mah!" Pasrah Satria.
Ranti terdiam,tak ada lagi raungannya. Dia melepas pelukan dan menatap tak percaya. Bagaimana bisa suaminya itu setuju?
__ADS_1
"Mas?" Ranti menggeleng kecewa.
Kembali Satria menarik Ranti ke dalam pelukannya. Lagi-lagi tangis Ranti pecah dan raungannya semakin keras.
Betapa hancur hatinya sebagai seorang ibu saat harus memilih diantara kedua putranya.
Pada akhirnya, Sean yang saat itu tengah berada dalam keadaan koma pun menjalani operasi jantung yang Raka donorkan.
Bahagia sekaligus hancur Satria dan Ranti rasakan. Bahagia karena Sean dapat sembuh dan hidup bebas dari penyakitnya, tapi hancur sehancur-hancurnya karena harus merelakan Raka pergi selamanya.
Ranti mengusap papan nisan yang bertuliskan Raka Rafardhan bin Satria Rafardhan sambil menangis pilu. Satria berusaha menguatkan dirinya agar dapat menenangkan Ranti.
°Flashback off °
°°°°°
"Ini dari Raka." Ranti menyodorkan sebuah kotak kecil berbentuk persegi terbuat dari kayu berwana coklat.
Sean yang tengah melamun pun tersadar, lalu mengambil alih kotak itu.
"Titipan Raka dua tahun yang lalu. Harusnya mama kasih itu setelah kamu punya gadis yang benar-benar kamu cinta. Bukan hanya mainan kamu seperti yang selama ini. Karena itu pesan dari Raka."
Sean masih terus menatap kotak yang dia pegang tanpa membalas ucapan Ranti.
Setelah mengusap lembut kepala Sean, Ranti memilih pergi.
Sean berjalan cepat menuju kamar lalu membuka kotak tersebut karena penasaran.
Ternyata kalung dengan liontin berbentuk setetes air. Sangat indah. Dia yakin gadis manapun pasti senang jika diberi kalung ini. Tak sengaja matanya melihat ada lipatan kertas di dalam kotak kalungnya.
Ting
Suara pemberitahuan pesan masuk pada ponsel Sean. Ah, ternyata pesan dari seseorang tanpa nomor.
Sebelum membaca pesan itu, Sean memasukkan kembali kertas dan kalungnya ke dalam kotak lalu dia simpan ke dalam laci.
"
Burung putih yang sangat indah.
Namun sayang sayapnya sedang terluka cukup parah.
Dan itu membuatnya tak mampu terbang bebas.
Entah sementara atau selamanya.
"
"Burung putih? Apa gue?" Tanya Sean pada dirinya sendiri.
Oh, Sean jadi teringat sesuatu. Segera dia memeriksa kantung celananya. Kertas yang Sean temukan di tempat Dion meninggal.
__ADS_1
Sekali lagi Sean membaca tulisan di kertas tersebut. Lalu berusaha mencerna maksud dari isinya.
"Pangeran kodok itu kayaknya Dion. Terus Odile?" Sean bermonolog mengarahkan pandangannya ke atas mencoba mengingat sesuatu.