
Seantero sekolah gempar dengan adanya mayat Risa yang ditemukan di depan loker pria.
Pihak kepolisian sudah melihat kamera pengintai namun rekaman dari mulai Risa menyimpan sesuatu di salah satu loker pria hingga Risa sudah terkapar dan bersimbah darah.
Sean yang saat itu menjadi dugaan tersangka pun bebas karena polisi sudah melihat bukti bahwa Sean baru datang ke TKP setelah Risa menjadi mayat yang mengenaskan.
Garis polisi masih melintang membatasi TKP untuk melakukan penyelidikan.
Yang membingungkan adalah mengapa bisa pembunuh itu mengutak-atik kamera pengintai dengan waktu yang terhitung sangat cepat.
Dugaan dari kepolisian, pembunuh Risa adalah orang yang juga merupakan warga sekolah ini, serta besar kemungkinan memiliki dendam yang mendalam.
Para guru segera menenangkan siswa-siswi dengan cara tetap melanjutkan pembelajaran. Sedangkan kepala sekolah dan guru konseling sedang membicarakan kasus pembunuhan Risa bersama pihak kepolisian. Tidak hanya itu, Sean dan Cecil diminta polisi untuk memberi keterangan juga sebagai saksi.
"Gue gak nyangka ada yang setega itu bunuh kak Risa."
"Kali aja itu pembunuh iri sama kecantikan Kak Risa."
"Menurut gue si Risa pantes sih mati kek gitu, emang cantik tapi sombongnya gak ketulungan."
"Udahlah lagian orangnya udah gak ada, ngapain digosipin?"
Begitulah kira-kira perbincangan siswa-siswi kelas XI-IPA1 Tunas Bangsa tentang kejadian hari ini.
Keriuhan itu seketika terhenti ketika Bu Dara selaku wali kelas masuk membawa seorang gadis yang berseragam sama seperti mereka, rambut dicepol dua terlihat pantas, wajah sangat cantik ditambah imut yang membuat siapa saja melihatnya tidak akan merasa bosan, kulit putih terawat, dan tubuh ideal tinggi semampai. Fisik yang tampak sempurna.
"Selamat siang semua!" Sapa Bu Dara.
"Siang, Bu!" Sahut mereka serempak.
Kelas kembali riuh, kagum melihat sosok gadis teramat cantik yang sekarang berada di hadapan mereka.
"Perhatian semua! Hari ini ibu bersama seorang siswi dari kelas XI-IPA4. Karena dia mendapat nilai rata-rata yang sangat bagus di raport, jadi kepala sekolah memindahkannya ke kelas ini."
"Silahkan perkenalan!" Lanjutnya kepada gadis itu.
"Hai. Nama saya Zoya Hazela, cukup panggil Zoya. Semoga kita semua bisa berteman baik."
"Hai, Zoya!" Seru mereka serempak, Zoya tersenyum geli.
Mereka bertanya ini-itu kepada Zoya. Bertanya username media sosial, alamat rumah, status, dan banyak lagi menyebabkan kelas lagi-lagi riuh kembali.
"Sepertinya mereka menerima kamu dengan baik. Silahkan duduk di bangku yang kosong!"
Zoya mengangguk sopan dan berjalan menuju bangku pojok belakang, sebab bangku itulah satu-satunya yang kosong.
Kring...
__ADS_1
Bel pulang sudah berbunyi. Diantara kebahagian seluruh siswa-siswi tentunya.
"Hai!" Sapa seseorang tersenyum.
"Oh. Hai!" Zoya ikut tersenyum.
Orang itu mengulurkan tangan kanannya. "Gue Fia. Tadi gak sempet kenalan, soalnya lo udah diributin sama anak kelas. Gue harap kita bisa jadi temen deket."
"Zoya. Gue juga." Jawabnya menjabat tangan Fia.
"Mmm.. Sebenernya lo gak duduk sendiri. Kursi sebelah ditempati Vania, tapi katanya dia lagi izin acara keluarga."
Zoya hanya mengangguk sambil membereskan alat-alat tulisnya dimasukkan ke dalam ransel.
Fia dan Zoya jalan menuju gerbang depan dan diiringi perbincangan keduanya untuk lebih saling mengenal. Fia juga menceritakan banyak hal tentangnya dan Vania.
"Lo bawa kendaraan, dijemput, atau naik angkutan? Kalo naik angkutan mending bareng gue aja. Gue bawa mobil kok."
"Gue bawa motor, lo duluan aja. Btw makasih lho udah nawarin nebeng."
"Halah sama gue mah nyantai, sekarang kan lo sahabat gue. Ya udah gue duluan."
"Take care!"
Fia hanya mengacungkan jempol tangan kanan tanda meng'iya'kan.
Tidak lama setelahnya, Zoya tersenyum penuh arti lalu beranjak ke tempat parkir untuk pulang menaiki motor sport hitam kesayangannya.
°°°°°
Aku tidak melihatmu sejak siang.
Jadi terasa rindu.
Pesan singkat dengan nomor tersembunyi. Sean mengernyit, bagaimana bisa pesan tanpa nomor?
"Siapa?" Sean membalas pesan.
Tapi pesan tidak dapat terkirim. Mencoba mengirim ulang dan hasilnya tetap sama. Lagi, membuat Sean semakin bingung.
Orang yang mengirimkan pesan pasti selalu memperhatikannya tanpa dia sadari. Mungkin dari tempat jauh ataupun dekat namun tidak menampakkan.
Entah ada apa sebenarnya dengan hari ini. Banyak sekali hal-hal yang menurutnya ganjil terjadi. Dari mulai gadis yang menabraknya menatap penuh benci tapi tidak lama berubah sendu, kematian Risa yang sangat mengenaskan, dan sekarang pesan tanpa nomor.
Ah, mengingat kematian Risa. Sean hampir terlupa akan surat dan bulu angsa putih yang sempat diambilnya tadi.
Isi surat menyebutkan tokoh dari cerita dongeng yang pernah ditontonnya bersama Dian, -adik sepupunya-.
__ADS_1
Tapi alur sedikit berbeda dan begitu juga ending yang bertolak belakang. Mengapa pembunuh tadi menulis clue berisi dongeng? Apa dia ingin menjadi seperti Grimm? Apa karena dia berfantasi terlalu tinggi yang pada akhirnya mengimplementasikan dengan cara ini?
Sedikit yang Sean tau, cerita ini tidak sama dengan yang diciptakan oleh Grimm Brothers. Atau bahkan pencipta-pencipta dongeng lainnya.
Sean teringat saat polisi mewawancarai Cecil di sekolah. Dia sangat tau bahwa Cecil adalah sahabat dekat Risa sejak lama.
°Flashback on °
"Apa kamu sempat bersama korban sebelum hal ini terjadi?" Tanya salah satu polisi.
"Iya, pak. Saya sempat bersama Risa sebelumnya. Saat itu Risa terkena rajia yang membuat roknya harus digunting oleh anggota OSIS. Karena dia tidak memiliki seragam lagi, saya meminjamkan cadangan rok abu saya pada Risa. Setelah keluar dari toilet, kami berpisah karena Risa ke loker pria tanpa mau saya temani." Jelas Cecil.
"Anda tau apa yang korban lakukan di tempat loker pria? Dan mengapa dia tidak mau ditemani?"
"Risa mau menyimpan cokelat di loker Sean, pak. Sudah lama dia menyukai Sean tapi tidak berani menunjukkannya langsung. Risa juga melakukan sendiri, karena dia bilang ingin berjuang tanpa siapapun ikut campur."
"Sudah berapa lama dia melakukannya?"
"Seingat saya dari mulai Sean masuk ke sekolah ini."
Mereka yang berada di sana mendengarkan secara seksama keterangan dari Cecil selaku sahabat Risa.
Polisi mengangguk pelan.
"Apa ada lagi yang kamu tau dan lihat? Orang yang juga bersama Risa sebelum kejadian itu? Atau sesuatu yang menurut kamu mencurigakan?"
Sejenak Cecil terdiam, dia tampak sedang mengingat-ngingat.
"Oh ada, pak! Waktu mau menghampiri Risa di depan lokernya, dari jauh saya melihat dia sedang bersama seseorang yang menggunakan hoodie hitam. Saya tidak tau wajah dia karena terhalang kupluknya. Dan yang pasti dia seorang gadis sebab memakai rok abu selutut."
"Lalu saat kamu menghampiri Risa, apa gadis itu masih ada di dekat kalian?"
"Nah, justru itu yang aneh. Waktu saya melihat jam tangan terus saya lihat lagi gadis itu sudah tidak ada. Padahal saya yakin sekali, kalau saya melihat jam tangan cuma sebentar. Dan waktu saya tanya Risa 'kenapa?' dia terlihat seperti orang linglung, atau lebih tepatnya sedikit ketakutan."
"Anda sahabatnya, benar?"
Cecil mengangguk pasti.
"Lalu mengapa tidak kamu tanyakan apa yang terjadi kepada Risa saat itu?"
"Saya sudah bertanya, tapi Risa mengalihkan pembicaraan. Pikir saya waktu itu Risa pasti akan bercerita ke saya kalau dia sudah sedikit merasa tenang. Makanya saya tidak bertanya ulang."
°Flashback off °
Gadis? Memakai hoodie hitam berkupluk? Rok abu seragam sekolah? Hilang dengan hitungan waktu yang cukup singkat? Bagaimana bisa? Seorang jelmaan atau manusia yang memiliki supernatural?
Dan mengapa Risa bersikap seperti seorang yang baru saja mengenal jatuh cinta dan belum pernah berhubungan dengan pria?
__ADS_1
Sean sangat tau, Risa adalah gadis cantik bahkan dijuluki Queen Bee, terkenal ceria dan agresif. Risa sama seperti dirinya, jika Sean terkenal seorang playboy maka Risa tekenal seorang playgirl. Tapi kenapa jika memang Risa menyukainya tidak langsung mendekat saja? Menurutnya Risa bukan tipe gadis yang mau menjadi secret admirer.
Sean mengusap wajah frustasi. Dia meletakkan clue itu di dalam laci dan menguncinya. Akhirnya Sean memilih tidur untuk menenangkan pikiran, sungguh ini adalah hari yang melelahkan baginya.