Dua P'Lanet

Dua P'Lanet
Flain


__ADS_3

"Geinta,Saminda dan Word telah kalah sekarang giliran ku"


"Aku tunggu kehadiran kalian"smirk.


"Oukuma beristirahatlah biar aku yang berjaga" kata Chan menepuk bahu Oukuma.


Oukuma mengganguk dan mengistirahatkan tubuhnya.


Waktu yang berlalu mereka bergiliran berjaga hingga pagi tiba.


"Apa sudah membaik?".tanya Chan.


"Aku rasa " Arata.


"Apa sebaiknya kita beristrirahat hingga dua hari lagi?" tawar Chan.


"Apa tidak apa?"tanya Oukuma.


"Jika musuh tahu bagaimana Chan jika kita disini?" tanya Razky.


"Aku sudah menghalangi mereka untuk mencari keberadaan kita dengan hadiah raja Erthan waktu itu,kau ingat batu kristal berwarna biru?"


"Aku menggunakannya selain menghalangi musuh mencari keberadaan juga bisa memberitahukan pada kita musuh dalam jarak dekat atau tidak" jelas Oukuma.


Raz mengganguk.


"Untuk waktu istrirahat mungkin kita perpanjang saja batu itu juga bertahan selama dua hari dan akan terisi selama 3-4 hari" jelas Oukuma.


Raz dan Chan mengganguk.


"Baiklah kita perpanjang sesuai batu itu menahannya" saran Chan pada yang lain.


Saka,Oukuma dan yang lain mengganguk setuju.


"Aku juga harus mengumpulkan beberapa misil dan batu untuk ketapel serta membuat bubuk cabai" Arata berdiri dan mengeluarkan barang yang ia butuhkan.


"Apa mau aku bantu?"tawar Kirana pada Arata.


"Tidak perlu aku juga masih bisa" Arata menatap Kir dengan tangan masih menumbuk.


"Tidak apa, bagian mana yang aku kerjakan?"tanya Kir.


"Hmm, yang ini saja" Arata menyodorkan sebuah bunga kering pada Kir.


"Ini beracun" kata Kir melihat bunga yang ia kenal beracun.


"Hum aku mengeringkannya untuk dijadikan bubuk untuk jaga-jaga saja Kir" kata Arata.


"Ou... iya sudah biar aku jadikan bubuk" Kir mencari alat tumbuk dan menghancurkan bunga kering menjadi bubuk beracun.


"Bagaimana jika kita membuat semprotan lada? " tawar Kirana.


Arata berpikir perkataan Kirana yang kemudian ia mengganguk setuju mungkin itu akan berguna.


Kirana dan Arata membuat beberapa alat dan bahan untuk bisa menjadi senjata cadangan mereka ketika tersudut.


3 hari berada di tempat itu kondisi mereka mulai stabil begitu juga dengan Chi yang jauh lebih baik ketika ia sempat mengalami demam.


"Aku menemukan sesuatu di tempat itu,katanya di depan ada beberapa kastil yang berdiri dan ditempati bawahan Damutsu" kata Chan mengingat informasi yang ia dapat.


"Seperti yang dikatakan Saminda ada beberapa titik bukan?" kata Kir menatap Jon's,Chan dan Saka.


Mereka bertiga mengganguk.


"Di depan rintangan yang kita hadapi bukan kecil dan mudah melainkan besar dan sulit dihadapi" kata Chan.


Kir mengganguk.

__ADS_1


"Hmm rupanya kalian telah muncul".


"Aku jadi penasaran dengan kemampuan kalian" smirk.


"Para makhluk itu harus berusaha keras".


"Itu dia kastilnya" tunjuk Chan yang sudah berdiri didepan kastil yang tampak tidak berpenghuni.


"Suasananya dingin" Raz mengusap lengan nya merasa kesejukan.


"Pengguna es" gumam Saka menatap kearah kastil.


"Ayo kita masuk" Chan.


"Hati-hati" Jon's.


"Waspada"Saka.


"Hum".


"Kenapa dingin sekali semakin masuk?" tanya Raz merasa kedinginan.


"Tubuhku menggigil" Arata.


"Ekh,apa sebenarnya yang ada di depan?" tanya Jon's.


"Hati-hati ada orang didepan" kata Saka merasa hawa seseorang.


Prok


Prok


"Bagus anak muda kau tidak merasa kedinginan" puji orang berambut biru sambil menampilkan senyum.


"Kau!" geram Chan melihat orang yang ada dihadapannya.


"Ou... apa aku mengenalmu?"tanya priamu.


Melihat Chandra yang tidak menyukainya membuatnya teringat sesosok yang memiliki kemiripan dengan Chandra.


"Ouh... kau sekarang besar rupanya,apa kau ingin balas dendam?" tanya pria itu.


"E..."


"Hmmm baiklah mati kita selesaikan ini aku tak ingin buang waktu untuk melihat kemampuan kalian" pria itu tersenyum dan kemudian menyerang disusul dengan Teferor yang muncul dan menyerang.


"Ku bekukan kalian!hahaha".ucap pria itu tak lain Flain yang tertawa puas.


"Bola api" Jon's.


"Hahaha pengguna api di sini?" tawa Flain.


"E...terlalu kuat untuku" Jon's.


"Razky menghindar" Chan menegur Raz yang hampir terkena serangan.


"Kekuatanku serasa sia-sia"Keiha yang melihat kedua tangannya.


"Tanaman ku membeku sangat sulit untuk menahannya jika terus menerus membekukan apa lagi para makhluk itu apa yang harus ku lakukan T_T" Keiha yang merasa frustasi dengan yang dipikirkannya.


"Misil ku" Arata yang melihat misilnya membeku.


"Tidak bermanfaat jika menggunakan senjata seperti ini untuk menyerang" Namiha merasa frustasi.


"Air ku T_T".


"Hei kenapa kalian seperti itu?" Raz yang berujar ketika melihat rekannya lesuh.

__ADS_1


"Raises".


Saka mengeluarkan kekuatan dari dalam diri dan mengumpulkan seakan seperti sharegan namun terbuat dari energi yang dingin.


"Pengguna es?" gumam Flain melihat kekuatan Saka diakhiri senyuman.


Swush...


Saka mengarahkan kekuatan pada Flain yang tertangkis dengan rapi.


"Sedikit menyenangkan tapi maaf kau masih belum bisa menyaingiku".


Bugh


"Akh"


"Ka!" pekik Chan melihat Saka yang terkena pukulan Flain hingga membentur tembok.


Perlahan tubuh Saka diselimuti es yang perlahan membuatnya membeku.


"Uhuk".


bersamaan dengan membekunya tubuh secara perlahan Saka terbatuk darah membuat yang lain khawatir.


Trang


Chan dengan tergesa membasmi Trafeor dan makhluk es ciptaan Flain untuk sampai ke Saka yang perlahan mulai membeku.


"Ka!" teriak Chandra.


Di suatu tempat yang dingin pemandangan kota yang sebagian tertutup salju sebuah bertengger di sebuah atap bangunan.


"Kwak!".


Menelaah dari ribuan kilometer melihat situasi jauh siburung berwarna biru beraura dingin terbang dilangit meninggalkan tempat tenggeran.


warga desa melihat si burung terbang kelangit menatap hingga si burung melesat cepat melewati waktu.


"Aku rasa ada masalah dengan pangeran".


"Aku juga berpikir begutu Rais telah pergi kemungkinan dia menyusul pengeran,aku harap semuanya akan baik-baik saja".


Drp


Drp


Drp langkah gemuruh memasuki ruangan.


"Lapor burung Rais telah pergi,kemungkinan perginya burung penjaga membuktikan adanya sesuatu dengan pangeran utusan kerajaan Fei" seorang prajurit melapor pada paman Fei.


Mendengar burung penjaga pergi membuat orang dalam ruangan terkejut dan ada rasa cemas pada mereka.


"Bagaimana ini utusan kerajaan,penasehat Li?".


"Apa yang harus kita lakukan?".


"Tidak mungkin kita bisa kelokasi pangeran sedangkan kita tidak tahu lokasi pangeran".


Riuh suasana dalam ruangan semakin terasa semua orang bingung dan khawatir bersamaan.


"Untuk saat ini kita serahkan pangeran pada Chan dan temannya serta Rais yang bertugas melindungi pangeran dan sekarang kita berfokus pada kerajaan dan rakyat untuk saat ini,serahkan pada sang pencipta" Fei yang berkata pada orang-orang dalam ruangan yang mana mendapat persetujuan.


"Keuk" Saka yang berusaha mengerakan tubuh yang semakin membeku.


"Ka" lirih Chan melihat tubuh temannya mulai membeku.


"Bertahanlah".

__ADS_1


"Percuma kalian seperti itu dia tidak akan bertahan lama dengan pukulanku itu bisa membuatnya membeku seperti patung es".


"Ada apa dengan anak ini kenapa proses membeku tidak secepat biasanya,ditambah energi apa ini?" benak Flain merasakan sesuatu yang menganjal.


__ADS_2