
" Kita langsung nyamperin orangnya aja," Erel berujar emosi saat sudah kembali ke mobil.
Melihat temannya tak bisa mengendalikan diri Rokky kembali berusaha menenangkan Erel dengan menepuk Pelan Pundak cowok itu.
" Enak aja tenang ini udah Nggak bisa dianggap sepele Atas dasar apa dia nyelakain Aurora,"
" Lo keras kepala banget sih, Rel Emang lo mau musuh lo lihat lo jadi banci kayak gini hah,"
" Tenang dulu deh ini sebenarnya ada apa," Desi kebingungan.
" Jadi gini, kita udah tau siapa yang nyuruh Preman buat nyelakain Aurora," Rokky menjelaskan.
" Siapa " tanya Desi dan Nessa bersamaan.
Gani menghela napas Panjang sebelum menjawab
" Amel "
__ADS_1
" Hah ? Perasaan Amel Nggak ada masalah apa-apa sama Aurora kok bisa dia nyuruh Preman-preman itu buat celakain Aurora," Nessa bingung mendengar fakta bahwa Amel-lah dalang di balik celakanya Aurora
" Makanya kita harus secepat mungkin nemuin dia.” Erel tampak menahan dendam.
" Tunggu dulu Amel yang dimaksud itu Amel yang suka sama lo, kan," Gani seolah teringat sesuatu.
" Hah ! Emang Amel suka sama gue Kok gue baru tau," Sekarang justru Erel bingung.
" Makanya jadi Orang itu jangan kayak es batu Semua orang juga tau kali kalau Amel demen sama lo.”
" Udah deh jangan nerka-nerka Mending kita Pulang terus bobok cantik Ini udah malem lho Besok kita sekolah Mana gue belum buat PR lagi Mending kita lanjutin besok aja," saran Nessa yang tampak mengantuk.
" Bener juga kata Nessa Mending sekarang kita Pulang Des, ayo cepetan Pulang, gue udah sesek nih Atau Perlu gue buka baju di sini,"
" iya-iya " Desi Pun mulai menghidupkan mobil dan melaju dengan cepat.
...•••••...
__ADS_1
Angin malam terasa sangat dingin tetapi lelaki itu masih tetap diam di balkon rumahnya. Dengan ditemani secangkir kopi Panas dan juga angin yang sedari tadi menerpa rambutnya Erel memainkan gitar kesayangannya
Sudah lama ia tak memainkan gitar tersebut Padahal Pensi sudah dekat Bahkan, Erel sudah jarang berlatih untuk Pensi. Sekarang Pikirannya hanya satu, menyelamatkan gadisnya dari ancaman dikeluarkan dari sekolah Kasus skorsing itu menempatkan Aurora Pada Posisi sulit. Kepala sekolah mengancam akan mengeluarkan Kiara dan Dimas jika sekali lagi terlibat kasus dengan Preman
Erel mulai fokus Pada gitarnya. Ia memetik satu demi satu senar gitar sambil bernyanyi. Suara lelaki itu sangatlah bagus. Namun, ia merasa tidak sempurna jika tidak ada Aurora Gadis itu telah mengubah segalanya dari kebiasaannya yang sangat buruk menjadi lebih baik.
Kini Erel tidak Pernah membantah ucapan guru dan juga balapan liar karena terlalu sibuk dengan sebuah misi. Misi yang akan ia tuntaskan secepat mungkin. Erel sudah berjanji untuk menjaga apa yang bisa membuatnya Erel bahagia dan dia akan melawan siapa saja yang ingin menyakiti sumber kebahagiannya itu
Erel menyeruput kopi Panasnya. Erel yang hanya memakai kaus Polos Pun mulai merasa kedinginan karena angin malam yang berembus. Jika dulu ia Pasti akan dimarahi kakaknya karena diam di balkon di malam hari tapi sekarang tidak lagi. Dunia terasa sangat cepat berubah. Semua kebahagiannya telah hilang. Kakaknya ibunya, bahkan ayahnya semuanya lenyap begitu saja seperti embusan angin.
Jam menunjukkan Pukul setengah dua belas. Lelaki itu Pun memutuskan untuk masuk kamar dan tidur karena besok ada hal yang sangat ia tunggu sejak tadi.
Lihat aja nanti gadis kecil, lo bakal merasakan amarah seorang Erel batin Erel sebelum tidur.
Lelaki itu tersenyum karena besok dia akan menghukum gadis yang telah mencelakai Aurora, tentunya dengan cara yang sesuai untuk Para gadis
...•••••...
__ADS_1