
" Rel, tenangin Aurora gih " kata Gani sambil menepuk Pundak Erel. Erel yang kaget dengan kejadian cepat Barusan seketika tersadar. Lalu lelaki itu Pun berjalan mendekati gadis yang tengah terisak.
Erel menaruh kepala Aurora di bahunya lalu memeluk gadis itu erat-erat Membuat tangis gadis itu terdengar jelas di telinganya
Erel mengusap kepala Aurora Pelan tak Peduli bahwa ia masih di atas Panggung
" Lo boleh nangis sepuasnya, lo boleh meluk gue seeratnya tapi lo harus inget satu hal sekarang Dimas lagi ada di rumah sakit dan dia butuh lo saat ini juga," bisik Erel
Aurora mengendurkan Pelukannya, lalu menatap mata Erel. Mata itu menyiratkan keteduhan sekaligus kepedihan
" Makasih Rel .... "
Desi, Aurora, Nessa, Gani, Karrel, dan Rokky Pun berjalan menuju Parkiran Sesampainya di sana mereka segera masuk ke mobil milik Gani. Untung saja mobil Gani besar sehingga muat untuk enam orang. Mobil Pun melaju menuju rumah sakit tempat Dimas mendapat Perawatan
...•••••...
Aroma obat-obatan masuk ke Penciuman Erel. Aroma ini yang Paling tidak Erel sukai dari kecil. Aurora mendekati Dimas yang sedang tertidur diikuti Erel di belakang gadis itu
" Maafin gue Kak gara-gara gue lo jadi kayak gini," lirih Aurora Gadis itu duduk di kursi dekat Dimas sambil memegang tangan Dimas. Satu tetes air mata jatuh membasahi Pipinya.
" Lo yang sabar ya, Ra Walaupun gue nggak suka sama dia, gue bakalan doain biar dia sembuh demi lo,” ujar Erel sambil tersenyum tulus.
__ADS_1
" Makasih, Rel .... "
Tiba-tiba jari Dimas bergerak. Sangat Pelan sampai-sampai Aurora tidak menyadarinya. Hingga akhirnya lelaki itu mengeluarkan suara Pelan seperti bisikan.
" Ra .... " lirih Dimas membuat Aurora kaget.
" Kak, lo udah sadar ? Apa Perlu gue Panggil dokter,"
" Nggak usah " tolak Dimas
" Sebelumnya gue mau kasih lo ini, Rel,” kata Dimas sambil memberikan secarik kertas usang.
Dimas tidak menjawab Pertanyaan itu
" Maaf gue udah ngerusak semuanya termasuk hubungan kalian berdua Tapi tenang sekarang gue bakalan Pergi sejauh yang gue bisa," lirih Dimas.
" Rel gue titip Aurora jangan buat dia nangis karena dia itu berharga banget Sekali lagi maaf," kata Dimas lalu mata lelaki itu Perlahan-lahan terpejam.
" Maksud Kakak apa " Pertanyaan itu meluncur dari mulut Aurora Namun semuanya telah terlambat. Dimas sudah memejamkan matanya dan tak akan Pernah terbuka lagi.
Bibir Aurora tak bisa mengeluarkan suara apa pun. Ia shock. Sementara Erel lelaki itu sama kagetnya. Walaupun Dimas adalah orang yang ia benci tetapi dia Pernah menjadi sahabatnya. Dia Pernah menjadi orang yang mendengarkan keluh kesahnya tentang keluarganya. Dia Pernah menjadi orang yang berharga bagi dirinya.
__ADS_1
" Dia Pergi, Rel...," lirih Aurora Pelan. Air mata demi air mata membasahi pipi gadis itu. " Dia Pergi .... Kak Dimas Pergi ...." Suara Aurora berubah menjadi isakan. Gadis itu menangis tersedu-sedu melihat lelaki di depannya menutup mata selamanya.
Erel langsung memeluk gadis itu memberikan kenyamanan yang membuatnya tenang. " Lo Jangan kayak gini Semua orang bakalan Pergi Lo, gue, ataupun Dimas Semua ini takdir Aurora," kata Erel sambil mengelus rambut Aurora berharap agar gadis itu berhenti untuk meneteskan air mata.
" Tapi gue belum siap kehilangan dia Erel Gue benci diri gue sendiri Kenapa nggak gue aja yang mati ? Kenapa harus Kak Dimas nolongin gue Kenapa," Isakan Aurora
Semakin terdengar jelas Air matanya seakan mengalir deras.
" Lo Nggak boleh ngomong gitu ini takdir ....”
" Gue benci takdir ! Gue benci "
Erel menarik Aurora dalam Pelukannya Berusaha menenangkan Aurora dan dirinya sendiri. Kepergian Dimas terasa begitu tiba-tiba.
...••••...
" Ra jangan nangis lagi dong Gue kan udah Pernah bilang gue nggak suka liat cewek nangis." Erel berusaha menenangkan gadis di sampingnya itu Erel membawa Aurora Pergi ke taman yang biasa mereka kunjungi untuk menenangkan gadis itu. Teman-teman guru, dan keluarga Dimas masih berada di rumah sakit mengurus jenazah Dimas.
" Tapi Kak Dimas udah Nggak ada Rel...,” lirih Aurora sambil menatap langit. Ia merasa sangat bersalah kepada Dimas.
"
__ADS_1