
***Kerajaan Royal Land***
Raut wajah Angel terlihat jelas tidak nyaman.
"Ada apa?" Tanya Alexander curiga melihat perubahan mimik wajah Angel.
Angel melihat ke arah Alexander. Dia berusaha membuat hatinya tenang kembali.
"Tidak. Tidak ada apa apa. Hanya tidak nyaman mendengar kata kata kutukan. Apakah sebuah kutukan sering menjadi kenyataan di dunia ini?" Tanyanya.
"Itu tergantung siapa yang mengucapkan kutukan tersebut, siapa yang mendapatkannya dan dalam situasi seperti apa? Tidak semua orang mampu untuk menggunakan sebuah kutukan. Hanya mereka yang terpilih dan spesial yang mampu menggunakan atau mengeluarkan sebuah kutukan."
"Kalau saya boleh tahu, kutukan apa yang di dapatkan oleh Raja Kerajaan The Royal Kingdom?" Tanya Angel ingin tahu.
"Kutukan tersegel di dalam kerajaannya sendiri."
"Seperti anda."
"Bisa di katakan seperti itu, tetapi aku tersegel bukan karena sebuah kutukan. Aku tersegel oleh ulah Raja Tayron Hayden yang nekad datang dan menggunakan kekuatan magic Penline untuk menyegelku, di saat aku dalam kondisi tidak berdaya akan sebuah pengkhianatan seseorang di masa lalu." Tuturnya. Ada sebuah kesedihan dari raut wajah Alexander. Angel tahu itu.
Alexander kembali melanjutkan penjelasannya.
"Raja Tayron Hayden di kutuk oleh Sang penulis tidak akan bisa keluar dari kerajaannya sampai kapanpun, ia terkurung selamanya di dalam kerajaannya sendiri. Jika ia nekat untuk keluar dari kerajaannya, maka kekuatan yang ia miliki akan terus berkurang dan beberapa anggota tubuhnya akan menghilang satu per satu. Itulah kutukan yang dia dapatkan, sehingga dia terkurung atau tersegel di dalam kerajaannya sampai saat ini."
"Kalau seperti itu, lalu bagaimana caranya dia bisa datang ke kerajaan ini dan menyegel anda?"
Alexander terdiam sejenak. Sebenarnya dia cukup tidak nyaman jika mengingat masa lalunya saat dirinya tersegel oleh ulah seseorang di masa lalu. Seseorang yang tega mengkhianatinya di saat ia sangat mempercayainya melebihi hidupnya sendiri.
"Jika itu tidak nyaman bagi anda. Jangan di ceritakan." Ucap Angel tahu jika Alexander tidak nyaman akan hal itu.
"Aku memiliki seorang wanita yang sangat aku cintai, aku tidak tahu jika wanita itu berasal dari Kerajaan The Royal Kingdom. Adik kecil dari raja kerajaan itu. Dia datang atas perintah dan rencana dari rajanya." Ungkapnya terhenti.
Genggaman erat tangan Alexander terlihat kuat, sehingga buku buku tangannya memutih. Angel tahu cerita ini sangat berat bagi Alexander.
Angel memajukan tubuhnya. Tangannya terulur untuk menyentuh kepalan kuat itu dengan lembut dan hangat.
"Jika itu berat. Cukup hanya anda yang tahu." Ucap lembut Angel.
Alexander melihat ke arah tangan Angel yang menggenggam lembut kepalan tangannya. Begitu hangat tangan mungil itu, hingga mampu membuat hatinya yang tidak nyaman kembali menghangat dan tenang. Alexander membalasnya dan balik menggenggam tangan mungil tersebut.
Tatapan mata keduanya kembali bertemu, ada ketulusan dan kehangatan yang Alexander lihat dari sorot mata biru Angel. Angel mengerti bagaimana perasaannya saat ini.
"Wanita itu menjebakku dengan cinta dan segala rayuannya. Dia membuat ku menggunakan kekuatan magic Penline untuk membuka sebuah gerbang yang terhubung dengan kerajaannya. Aku berhasil melakukannya, dan tanpa aku sadari. Sebelumnya wanita itu memberikan aku sebuah obat pelumpuh tanpa aku ketahui. Di saat gerbang itu terbuka, raja Tayron Hayden datang dan melumpuhkan ku serta menyegelku di dalam patung moster besar yang ia ciptakan melalui kekuatan magic Penline nya." Ceritanya. Alexander kembali menggenggam erat tangan Angel. Seolah mencari sebuah kekuatan.
"Setelah aku tersegel. Raja Tayron Hayden dan pasukannya datang menyerang. Tapi sayang mereka tidak mengetahui jika Kerajaan ku ini telah terpasang sebuah segel petir emas yang aku miliki untuk melindungi kerajaan dan rakyatku dari orang orang yang berniat jahat. Pada akhirnya mereka kalah dan mundur karena raja Tayron Hayden mendapatkan pembuktian dari kutukannya sendiri. Tangan kanannya terputus dan tidak dapat beregenerasi lagi."
"Aku tersegel dan akan bebas jika ada seorang gadis spesial yang datang memberikan tetesan darah dan ciuman pertamanya kepadaku. Ia juga akan dapat menemukan sebuah kunci terakhir untuk membuka segelku." Jelasnya.
Tiba-tiba Angel menarik tangannya dari genggaman tangan Alexander. Dia malu mendengar kata ciuman pertamanya yang telah ia berikan kepada patung moster kemarin. Wajah Angel merona karena rasa malu.
Alexander melihatnya, dan tersenyum akan hal itu. Gadis di hadapannya malu akan perkataannya yang menyebutkan kata ciuman pertama.
"Apa kamu malu?"
"Tidak." Kilahnya cepat.
"Wajah mu memerah. Apa benar itu ciuman pertama mu?"
Angel seakan dejavu akan situasi itu.
"Sudahlah. Sebaiknya kita kembali, sudah terlalu siang untuk berada di sini." Angel bangkit dari duduknya.
__ADS_1
Alexander tersenyum melihat sikap Angel yang terlihat malu dan salah tingkah.
"Kita belum selesai membahas yang ingin kamu ketahui."
"Sudah cukup, penjelasan tadi sudah sangat cukup untuk saya." Balas Angel sedikit menjauh dari mejanya.
Alexander ikut bangkit masih dengan senyum. Sungguh hatinya bahagia melihat sikap malu gadisnya saat ini. Sangat menggemaskan di matanya.
"Bagaimana dengan melihat lukisannya?" Kata Alexander mengalihkan. Sejujurnya ia belum mau pisah dari gadis itu.
Angel melihat sejenak ke arah Alexander.
"Baiklah, mari kita lihat sejenak." Balasnya dan segera berdiri membelakangi Alexander. Dia masih malu terhadap laki-laki itu.
"Ayo…!" Ajaknya sembari menggenggam tangan Angel dan melangkah pergi.
"Tunggu…!" Ucap Angel menarik tangannya dan menghentikan langkah mereka.
"Ada apa?" Tanya Alexander heran.
"Kita bisa jalan seperti biasanya."
Alexander melihat teliti wajah Angel, dia tahu maksud perkataan Angel. Apa dia peduli? Tentu saja tidak sama sekali.
"Tidak. Kita harus mulai dekat dan saling mengenal." Balas Alexander tidak mau tahu. Ia kembali menggenggam erat tangan Angel dan menariknya untuk melangkah beriringan.
Angel tahu apa pun sikap protesnya, tidak akan berguna. Pada akhirnya Angel menyerah dan mengikuti keinginan Alexander. Melangkah beriringan sembari bergandengan tangan.
Di sepanjang lorong istana, banyak pelayan dan penjaga yang mereka temui dan memberikan sikap hormat mereka kepada keduanya. Tersenyum senang melihat kaisar mereka bersama dengan gadis cantik yang akan menjadi permaisuri kerajaan itu.
Tidak lupa Felix dan dua pengikut setianya masih tetap mengikuti dari jarak yang aman. Mereka tidak boleh lengah sedikitpun dalam menjaga keamanan kaisar dan calon permaisuri mereka.
Alexander kembali mengingat jika dua hari lagi, akan ada acara di istana. Acara pemberian penghargaan bagi dua nona muda yang juga mengikuti ritual kemarin.
"Dua hari lagi akan ada acara di istana." Kata Alexander mulai membuka perbincangan mereka berdua. Angel diam untuk terus menyimak.
"Acara pemberian penghargaan untuk dua nona muda yang mengikuti ritual kemarin."
"Acara pemberian penghargaan untuk dua nona muda yang kemarin mengikuti ritual." Angel melihat ke arah sampingnya.
Angel kembali mengingat dua nona muda yang sudah menyiksa dan mengancam dirinya kemarin. Sehingga ia harus melakukan ritual itu seorang diri. Tentunya karena hal itu juga dia berhasil membebaskan kaisar dari segelnya.
Tentu saja ini adalah kesempatan bagus melihat mereka berdua. Angel ingin membalas perbuatan kedua nona muda sombong itu kepadanya.
"Ada apa?" Tanya curiga Alexander.
"Apakah penghargaan itu memang harus di berikan kepada mereka?"
"Iya, itu tanda terima kasih ku kepada mereka yang telah berkorban untuk melakukan ritual tersebut."
"Berkorban."
"Iya, ada apa? Apa ada yang salah?" Curiga Alexander.
'Berkorban, mereka berkorban dalam ritual. Licik sekali, tidak ada yang mereka lakukan kemarin selain melukai diri sendiri. Mereka bukan berkorban, tetapi telah mengorbankan diriku sebagai tumbal ritual seorang diri.' Kesal Angel di dalam hatinya.
"Ada apa? Apa ada yang salah?" Tanya curiga Alexander melihat raut wajah Angel yang terlihat kesal.
"Tidak. Tidak ada yang salah." Kilah Angel.
Alexander terus memperhatikan perubahan mimik wajah Angel. Mereka terus melangkah beriringan menuju aula tempat lukisan itu di letakkan.
__ADS_1
"Tiga keluarga dari nona muda yang melakukan ritual juga tinggal di istana sejak semalam." Ungkap Alexander yang sukses membuat Angel melihat dengan cepat ke arahnya.
"Apa, tiga keluarga nona muda yang mengikuti ritual kemarin tinggal di istana sejak semalam? Untuk apa?"
Alexander heran melihat Angel terkejut.
"Mereka memiliki kesempatan tinggal di istana selama satu bulan menjadi putri kerajaan, dan mendapatkan penghargaan tertulis dari ku. Itulah hadiah untuk mereka." Ungkap Alexander.
"Special hadiah untuk mu adalah tinggal selamanya di istana dan menjadi permaisuri kerajaan ini." Sambungnya kembali.
Kembali Angel melihat ke arah sampingnya.
"Jadi tiga keluarga sudah ada di istana ini."
"Iya. Termasuk semua keluarga mu."
"Keluarga saya…maksudnya keluarga Hernando…?"
"Iya. Apa kamu belum tahu itu?"
"Tidak. Saya belum tahu sama sekali." Gelengnya.
"Apa keluarga mu tidak menemuimu?"
"Tidak…!" Geleng Angel lagi.
"Oya. Saat semalam kamu tidak hadir, ada satu nona muda perwakilan dari keluarga Hernando yang maju saat di panggil ke depan aula."
"Marisa Hernando. Itu saudara sepupu saya."
"Mengapa kamu tidak segera datang setelah pemberitahuan sebelumnya dari pihak istana, untuk kembali datang ke istana menemui ku?"
"Saya tidak mendapatkan pemberitahuan itu. Saat keluar dari istana saya tidak langsung pulang, tetapi pergi ke sebuah balai pengobatan."
"Mengapa seperti itu? Apa kamu terluka?" Tanya Alexander terlihat khawatir.
"Iya, saya terluka pada saat melakukan ritual itu. Telapak tangan kanan saya tersayat dalam oleh sebuah belati dari seseorang. Lengan kiri saya terbakar oleh kekuatan elemen api dari seseorang." Ucapnya jujur. Angel tidak ingin menyembunyikan apapun yang terjadi kepadanya. Dia ingin membalas mereka yang telah berbuat curang dan menyiksanya kemarin.
"Siapa yang melakukan itu kepada mu?" Tanya cepat Alexander terlihat marah. Ada yang merundung gadisnya pada saat melakukan ritual. Tentu saja Alexander tidak akan terima.
"Dua nona muda yang ikut melakukan ritual bersama saya. Mereka berdua membuat saya melakukan ritual itu seorang diri." Balas Angel jujur. Terlihat jelas kemarahan dari sorot mata Angel saat ini.
"Bahkan saya hampir kehilangan nyawa oleh pembunuh bayaran kemarin, pembunuh bayaran yang di kirim oleh seseorang untuk membunuh saya. Hidup saya sungguh mengerikan dalam satu hari." Terasa kuat genggaman tangan mereka.
Alexander merasakan Angel begitu marah dengan apa yang ia lalui kemarin. Terbukti dari genggaman tangan mereka, Angel meremasnya cukup kuat.
"Apa kamu ingin membalas mereka?" Tanya Alexander. Dia siap untuk membantu gadisnya.
"Tentu saja. Semua tindak kejahatan kepada mereka yang lemah, harus di balas. Saya adalah orang yang hidup dengan kenyataan yang ada. Siapa pun yang berbuat jahat dan tidak adil, jika mendapatkan kesempatan untuk membalas mereka. Kenapa tidak saya lakukan. Tentu saja mereka harus mendapatkan balasan dari kejahatan mereka lakukan dengan setimpal." Kata Angel dengan senyum licik yang cukup membuat Alexander tercengang. Gadisnya yang manis bisa tersenyum licik seperti rubah.
"Baiklah jika itu yang kamu mau. Aku akan siap membantu apapun yang kamu butuhkan."
"Terima kasih atas bantuannya. Ada sedikit permainan untuk mereka." Ungkap Angel. Lagi lagi senyuman licik seperti rubah terpatri jelas pada wajah Angel.
Alexander hanya dapat tersenyum, dan menggelengkan kepalanya heran melihat sikap tidak biasa dari calon permaisurinya tersebut. Tentunya dukungan penuh akan Alexander berikan untuk gadis manisnya.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.