
***Kerajaan Royal Land***
Angel dan dua gadis lainnya, takut akan suara gemuruh yang terus menerus terdengar semakin membesar. Langit langit ruangan yang ada di atas mereka seakan bergetar dan akan runtuh dari atas kepala mereka.
"Cupu cepat lakukan tugasmu…!" Ucap gadis bergaun biru tosca, Anne Matheo. Nona muda yang berasal dari keluarga bangsawan Matheo.
"Sebaiknya kita bantu dia melakukan ritual itu. Aku ingin cepat keluar dari ruangan ini dan segera pulang." Ucap Anne terlihat kesal sekaligus takut akan cuaca buruk di luar sana.
Suasana mencekam itu membuat hati mereka tidak nyaman. Mereka ingin segera keluar dan bebas dari tempat tersebut.
Namun tidak mudah bagi mereka, jika tidak menyelesaikan ritualnya hari ini. Jadi Anne memiliki ide untuk membantu Angel menyelesaikan ritual mereka hari ini.
Anne dan gadis bergaun pink yang bernama Monica Phanco, saling memberikan isyarat untuk mereka mendekati Angel.
Kedua gadis itu datang dan segera mengapit Angel. Monica mencoba menahan tubuh Angel dari arah samping, lalu Anne meraih tangan kanan Angel. Dengan gerakkan yang sangat cepat, Anne menyayat telapak tangan Angel dengan sebuah belati kecil yang selalu dia bawa di balik gaunnya.
"Aaaa…apa yang kalian lakukan?" Tanya kesakitan Angel. Telapak tangan kanannya mengeluarkan banyak darah dari sayatan yang lumayan panjang dari belati Anne.
"Melakukan yang seharusnya kami lakukan padamu." Balas Anne dengan senyum liciknya.
"Monica, cepat…seret dia mendekati patung-patung itu." Perintah Anne melihat ke arah Monica.
"Baik." Balas Monica mengerti.
"Sebaiknya kau tidak melawan kami." Ancam Monica dengan memperlihatkan semburan api dari telapak tangannya. Monica mengancam Angel agar menurut kepada mereka.
Angel yang sedang menahan rasa sakit pada telapak tangannya, kini mulai takut akan semburan api yang semakin besar dari telapak tangan Monica.
Apakah ajalnya akan datang hari ini? Angel hanya bisa berdoa dan meminta perlindungan serta keajaiban terjadi padanya. Untuk pertama kalinya Angel meminta sebuah keajaiban terjadi dalam hidupnya. Apakah keinginannya akan terkabul?
"Cepat…!!" Perintah Monica dengan mengarahkan semburan api tersebut ke arah wajah Angel. Sontak tangan kiri Angel menjadi tameng agar semburan api tersebut tidak mengenai wajahnya.
"Aaaa.... !!" Suara rintih kesakitan Angel menahan panas pada lengannya karena semburan api Monica.
Cukup panas hingga membuat lengan putihnya memerah dan melepuh. Monica begitu kejam membakar Angel tanpa rasa iba sama sekali.
Kini kedua tangan Angel menderita karena dua luka yang berbeda. Satu tangan luka sayatan yang di lakukan oleh Anne, dan satu tangan lagi luka bakar yang di lakukan oleh Monica.
Angel menangis karena rasa sakit dan siksaan tersebut. Suaranya bahkan tidak dapat keluar dari dalam mulutnya.
"Cepat…!" Bentakan dari Anne cukup membuat tubuh Angel bergetar karena terkejut dan takut.
Takut jika mereka berdua melakukan hal yang akan menyiksa dirinya lebih banyak lagi. Angel ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat, dan pergi berlalu dari tempat itu.
"Berikan darahmu pada ketiga patung ini. Tepat pada mulutnya." Perintah Anne kembali mengingatkan Angel apa yang harus ia lakukan.
Angel segera mendekati patung yang ada di depannya, patung monster yang cukup tinggi darinya. Kedua kakinya ia pijakkan untuk naik lebih tinggi lagi pada tubuh patung monster tersebut. Saat di rasa lebih dekat dengan wajah sang patung, Angel segera memberikan darahnya yang terus mengalir dari luka sayatan yang di lakukan oleh Anne tadi.
Mulut monster yang sedang menganga terlihat sedang meminum darah Angel. Angel terdiam dengan genggaman erat kedua tangannya. Satu tangan menggenggam erat pundak patung agar tidak jatuh. Satu tangan lagi ia genggam erat agar darahnya tidak mengalir deras.
"Cepat cium mulut patung tersebut. Tepat pada darahmu itu." Perintah Anne kembali ia dengarkan.
Angel melakukannya dengan patuh. Air mata Angel terus mengalir, hingga jatuh menetes pada mulut patung yang sedang ia cium.
Begitu miris hidupnya, ciuman pertamanya di berikan kepada sebuah patung monster. Tempat di mana tersegelnya sang kaisar. Angel hanya ingin menyelesaikan semua ritual tersebut.
Perlahan Angel turun dari patung monster itu. Angel kemudian melakukan hal yang sama pada dua patung lainnya. Memberikan darah segarnya pada mulut patung naga terbang dan singa bersayap. Kemudian Angel memberikan ciumannya juga ke arah mulut dua patung itu, tepat pada darahnya.
__ADS_1
Angel telah menyelesaikan ritual tersebut. Berdiri tepat di hadapan tiga patung-patung besar di depannya. Tepat bersamaan dengan Monica dan Anne juga menyayat telapak tangan mereka masing-masing.
Angel hanya melihat kedua gadis yang tadi menyiksanya. Angel tahu tujuan tindakan yang di lakukan oleh Monica dan Anne melukai diri sendiri. Itu semua agar terlihat mereka juga menyelesaikan ritual tersebut.
"Ayo Monica kita keluar dari tempat ini." Ajak Anne pada temannya itu.
Monica hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Setelah melihat ke arah punggung Angel yang ada di hadapan mereka, keduanya melangkah pergi menuju ke arah pintu besar yang ada di ruangan itu.
Saat pintu terbuka, bertepatan dengan jatuhnya tubuh Angel dan suara gemuruh di atas langit. Monica dan Anne melihat sejenak ke arah Angel yang telah jatuh ke atas lantai dingin.
"Apa kalian sudah selesai melakukan ritualnya?" Tanya sang Menteri yang tadi membimbing mereka.
"Iya, sudah tuan." Balas Anne mewakili mereka.
"Satu teman kalian di mana?" Tanya Menteri itu mencari keberadaan Angel.
"Dia jatuh tidak sadarkan diri tuan." Balas Monica sembari menunjuk ke arah Angel yang sudah terkapar di atas lantai.
"Apa yang terjadi padanya?" Tanya pria paruh baya itu melihat ke arah Angel dan Monica secara bergantian.
"Maaf tuan, dia menolak untuk melakukan ritualnya karena takut akan darah. Dia jatuh tidak sadarkan diri setelah menyayat telapak tangannya dan takut melihat darahnya yang mengalir." Jelas Anne mengarang cerita bohong.
Menteri itu hanya diam tidak menjawab. Mempersilahkan Anne dan Monica untuk keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Angel seorang diri di dalam ruangan tersebut.
Sudah aturan dari ritual, mereka yang telah menyelesaikan ritualnya akan melangkah keluar dengan kedua kaki mereka sendiri. Pintu ruangan itu akan dapat terbuka secara otomatis jika ritual telah selesai di lakukan.
Pintu besar tersebut tidak akan terbuka jika ritual tidak di lakukan dengan benar. Itulah salah satu kekuatan yang ada di dalam ruangan besar itu. Ruangan megah yang dulunya adalah aula besar yang di miliki oleh istana kerajaan Royal Land.
"Anne, apa dia akan baik baik saja?" Bisik Monica saat melangkah keluar dari istana.
"Jangan pedulikan gadis itu. Sudah cukup kita selamat dari ritual tersebut. Ingat, tutup mulutmu akan kejadian hari ini." Balas Anne dengan beberapa tekanan pada kata-katanya.
Monica menelan salivanya, ia cukup takut akan ancaman Anne. Salah satu putri keluarga bangsawan yang cukup berpengaruh di Kerajaan Royal Land. Monica cukup diam dan menutup rapat mulutnya, agar hidupnya selamat.
"Apa kau mengerti?"
"Iya, aku mengerti." Balas bisik Monica mencari aman.
Kedua gadis licik itu pulang dengan pengawalan dari pihak istana. Melihat kedua gadis tersebut keluar dengan selamat dan baik baik saja pada kondisi tubuh mereka. Membawa sebuah harapan baru pada keluarga kerajaan.
"Apa mereka hanya terluka sayatan pada telapak tangan mereka?" Tanya pangeran kedua, adik dari Kaisar Alexander Gavriil. Pangeran Felix Gavriil.
"Iya yang mulia." Balas sang Menteri. Lukas Stewart . Salah satu Menteri kepercayaan keluarga kerajaan.
"Bagaimana dengan satu gadis lagi?" Tanya pangeran Felix.
"Dia tidak sadarkan diri hingga sekarang."
"Awasi gadis itu, apakah dia masih dapat keluar dengan selamat dari dalam ruangan. Aku harap kali ini, akan ada harapan untuk kakakku akan terlepas dari segel itu."
"Akan kami laksanakan, yang mulia." Balas Lukas.
Lukas berlalu dari ruang kerja sang pangeran. Pangeran Felix Gavriil adalah pangeran kedua kerajaan Royal Land, yang sangat tampan dengan warna mata kuning keemasan. Mata madu yang sangat indah dan hangat.
Mata indah itu juga akan terlihat tajam membunuh, jika berhadapan dengan seorang musuh kerajaan. Apa lagi sejak kejadian ratusan tahun yang lalu.
Beberapa dari mereka yang hidup di dunia magic itu, memiliki hidup yang kekal abadi. Mereka berusia ratusan tahun, hingga kematian murni tidak dapat beregenerasi kembali yang akan merenggut nyawa mereka.
__ADS_1
...*******************************...
Kembali ke dalam ruangan yang semakin dingin dan mencekam. Angel masih tidak sadarkan diri, seakan tertidur panjang.
Melihat mimpi yang begitu aneh, tetapi seakan nyata terjadi padanya.
"Angel…Angel…Bangun Angel…!!" Suara seorang gadis remaja memanggil namanya.
Angel tersadar dan perlahan membuka matanya yang terasa berat untuk di gerakkan. Angel menyesuaikan cahaya yang masuk pada matanya, dan bangkit dari baringnya. Pandangan matanya langsung di sambut oleh seorang gadis cantik yang sangat ia kenali. Gadis remaja itu sangat mirip dengan dirinya saat berusia 12 tahun.
Angel bangkit dan berdiri tepat di hadapan gadis remaja yang sangat mirip dengannya dulu. Pandangan matanya melihat ke sekeliling tempat itu. Hanya ada cahaya yang kosong tidak ada apa pun di sana. Di mana dia berada sekarang?
"Angel...!" Panggil gadis remaja itu sembari tersenyum manis ke arahnya.
"Siapa kamu? Bagaimana kamu tahu namaku?" Tanya Angel terlihat heran.
"Aku adalah dirimu yang dulu. Aku dirimu saat berusia 12 tahun, setelah kecelakaan itu terjadi." Balasnya.
"Kecelakaan...kecelakaan apa maksudmu?"
"Kecelakaan bersama kedua orang tua kita."
Angel merasa bingung, apa hubungan dirinya dengan kecelakaan kedua orang tuanya? Seingat dirinya, dia tidak bersama dengan kedua orang tuanya saat kecelakaan itu terjadi.
"Apa maksudmu?" Tanya Angel bingung.
"Apa hubungan ini semua dengan kecelakaan kedua orang tuaku?" Tanya Angel kembali.
"Kamu pasti bingung karena tidak mengingat semuanya." Jelasnya, Angel hanya diam saja.
"Ingatanmu tentang kecelakaan itu telah di hapus oleh paman dan bibi."
Angel semakin tidak mengerti apa maksud gadis remaja itu.
"Katakan dengan jelas, jangan buat aku semakin bingung dengan perkataanmu, dan tempat apa ini?"
Gadis remaja itu tersenyum manis, dan bukannya menjawab pertanyaan Angel.
"Ini adalah ruang hampa yang ada jauh di bawah alam sadarmu, Angelica Hernando." Balas gadis remaja tersebut.
"Untuk apa aku di sini, bukankah aku sekarang seharusnya ada di dalam ruangan yang ada di dalam Istana Kekaisaran?" Tanya Angel ingin kejelasan tentang dirinya.
"Kamu benar. Kamu tidak sadarkan diri setelah melakukan ritual itu. Ritual yang akan membawamu pada takdir yang seharusnya kamu jalani." Jelasnya, Angel hanya diam menyimak.
"Kamu harus tahu tentang kebenaran keberadaanmu di dunia ini. Jalan dan takdir hidupmu yang sebenarnya telah di tutup oleh seseorang yang tidak ingin kehadiranmu ada di dunia ini." Jelasnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Angel semakin tidak mengerti.
"Sebaiknya kamu melihat sendiri semuanya dengan jelas." Balas gadis itu.
Saat gadis remaja itu melangkah maju untuk mendekatinya, tubuh Angel yang ingin mundur untuk menghindar tidak dapat bergerak sama sekali. Angel terpaku berdiri pada tempatnya, hingga telapak tangan gadis cantik itu menutup kedua matanya. Menghadirkan sebuah kegelapan akibat matanya yang tertutup.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
__ADS_1
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.