Dunia Magic Sang Penulis.

Dunia Magic Sang Penulis.
23. Ciuman Alexander Dan Angel.


__ADS_3

***Kerajaan Royal Land***


Hari yang di nantikan telah tiba. Hari ini acara pemberian penghargaan bagi tiga nona muda yang telah berhasil melakukan ritual untuk membebaskan sang kaisar dari segel.


Anne, Marisa, dan Monica berusaha tampil secantik mungkin. Bahkan penampilan mereka begitu glamor dengan perhiasan mahal dan gaun indah yang terbuat dari kain pilihan terbaik di kerajaan itu.


Sedangkan Angel masih setia di dalam sebuah kamar bersama dengan Sai, Alita dan juga Glory. Mereka sepakat akan datang ketika acara akan segera di mulai. Angel telah meminta ijin itu kepada Alexander.


Tidak lupa Angel mengatakan sesuatu kepada Alexander sebelum pria itu pergi menuju ke aula pertemuan.


…Flashback on…


"Yang mulia. Saya akan datang setelah penghargaan itu selesai di berikan." Ucap Angel saat mereka masih bersama di dalam kamar.


"Mengapa seperti itu?" Tanya heran Alexander.


"Agar menjadi kejutan bagi mereka semua." Balas Angel tersenyum manis hingga mampu meluluhkan hati seorang Alexander.


"Kau suka membuat sebuah kejutan."


"Tentu saja, yang mulia. Membuat sebuah kejutan adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya."


"Baiklah…lakukan apapun yang kamu inginkan. Asal kamu bahagia." Kata Alexander dengan senyuman manis untuk membalas senyuman Angel kepadanya.


"Terima kasih yang mulia. Anda selalu mengerti apa yang saya inginkan."


"Tentu saja. Melihat kamu bahagia dan selalu tersenyum, membuat hatiku juga bahagia." Katanya sedikit ingin gombal.


"Apa ini sebuah rayuan dari anda untuk saya?"


"Apa terdengar seperti itu?"


"Iya. Anda terdengar sedang merayu saya. Apakah saya salah menduganya?"


Alexander tersenyum manis. Sikap Angel terlihat menggemaskan di matanya.


"Tentu saja tidak. Aku memang sedang merayu gadis cantik di hadapanku ini. Agar dia tidak mudah berubah pikiran untuk menjadi permaisuri dan lebih memilih kabur."


"Mengapa Anda berpikir seperti itu?"


"Bukankah dari awal kamu memang tidak ingin menikah denganku, karena kita tidak memiliki perasaan hati."


Angel terdiam akan perkataan itu. Memang awal niatnya seperti itu. Tetapi setelah beberapa peristiwa yang terjadi, Angel berubah pikiran.Dia ingin berada di sisi Alexander untuk tujuan hidupnya di masa depan.


"Bukankah kita sudah sepakat untuk mulai dekat dan saling mengenal." Kata Angel.


"Tidak menutup kemungkinan jika perasaan hati bisa saja tumbuh secara perlahan seiring berjalannya waktu. Seperti yang anda katakan."


"Apakah sekarang sudah ada yang kamu rasakan?"


"Tidak. Belum…!" Gelengnya. Itulah kebenarannya. Angel tidak merasakan perasaan apapun terhadap Alexander.


Alexander cukup kecewa akan jawaban Angel. Sebenarnya ia berharap kalau Angel memiliki perasaan hati walaupun sedikit saja terhadapnya.


"Mungkin belum. Saya hanya bisa berharap, semoga kita bisa berakhir baik seperti takdir yang menentukan." Balas Angel.


"Tapi aku berharap kita bisa memiliki perasaan yang sama. Jujur aku terikat padamu sejak terbebas dari segel itu. Apa kamu tahu jika darahmu telah mengalir di dalam tubuhku." Tanya Alexander sekaligus memberitahu sesuatu yang Angel tidak ketahui.


"Bagaimana bisa seperti itu?" Tanyanya heran. Angel tidak tahu tentang hal itu.


"Apa kamu ingat bagaimana caranya melakukan ritual itu?"


"Iya. Saya mengingatnya dengan jelas. Meneteskan darah saya ke dalam mulut moster dan memberikan sebuah ciuman tepat pada darah itu. Itulah cara ritual yang di arahkan oleh tuan Lukas." Jujurnya.


Sungguh Angel malu jika mengingat kembali ciuman pertamanya bersama sebuah patung monster.


"Saat itulah darahmu masuk langsung ke dalam tubuhku, dan sekarang sudah menjadi satu, sehingga aku akan tahu di manapun keberadaan mu, aku bisa merasakan aura tubuhmu dari jarak yang jauh sekalipun, karena darah kita sudah menjadi satu di dalam tubuhku." Jelasnya yang sontak membuat Angel terkejut.


"Jadi. Ke manapun aku pergi, anda bisa menemukan keberadaan saya?"


"Iya…!" Angguknya.


Angel terdiam akan jawaban tersebut. Itu artinya dia tidak bisa kabur dari Kaisar Alexander Gavriil.

__ADS_1


"Ada apa? Kamu terlihat kecewa."


"Tentu saja. Bagaimana bisa saya kabur atau pergi dengan leluasa, jika anda akan selalu tahu keberadaan saya di manapun saya berada." Rajuknya kesal.


"Apa kamu masih memiliki niat ingin kabur dariku?"


Angel tidak menjawab, hanya diam saja.


"Sayangnya kamu tidak akan bisa kabur dariku sampai kapanpun." Jelasnya.


Alexander senang melihat Angel merajuk. Kebenaran itu akan membuat gadis itu berpikir dua kali untuk berani kabur darinya.


"Terserah. Saya tidak bisa berkomentar apapun lagi." Kesalnya sembari bangkit dari duduknya.


Alexander tersenyum lucu melihat gadisnya merajuk. Dia pun bangkit dan merangkul Angel dari arah belakang. Tentu saja Angel terkejut dan menjadi kaku seketika di perlakuan intim seperti itu. Dia diam seribu bahasa.


"Jangan merajuk. Wajah cantik ini akan cepat menjadi tua kalau di tekuk." Ucapnya sembari mencium pipi Angel dari arah samping.


Sontak Angel melihat ke arah sampingnya. Kembali Alexander mengecup ringan bibir merah Angel. Alexander tersenyum senang dapat mencuri ciuman yang telah menjadi candu baginya.


"Yang mulia." Ucap Angel sembari menutup bibirnya yang di cium.


"Ada apa? Kamu malu…!" Godanya.


"Jangan seperti ini." Balasnya di balik mulutnya yang ia tutup.


"Memangnya kenapa, aku akan terus mencium mu kalau kamu terus kesal dan merajuk kepadaku. Ini hukuman untukmu."


"Hukuman…mana bisa seperti itu…" Protesnya.


Kembali Alexander mencium bibir merah itu. Mata Angel membulat sempurna karena terkejut.


Angel berusaha melepaskan dirinya dari pelukkan Alexander. Tapi bukannya terlepas, dia berbalik menghadap ke depan. Kedua tubuh mereka saling menempel tanpa ada jarak sedikitpun. Begitu intim dan terlihat mesra.


"ternyata kamu suka kalau kita berpelukan saling berhadapan seperti ini." Goda Alexander.


Wajah Angel merona malu.


"Bukan seperti ini. Tolong yang mulia jangan seperti ini, saya tidak nyaman." Gugupnya karena malu. Wajah dan telinganya sudah menghangat karena malu akan hal intim tersebut.


"Biasa biasa saja."


"Tapi aku suka seperti ini."


"Apa lagi melihat wajahmu yang merona karena malu. Aku suka melihatnya." Goda Alexander dengan senyum manisnya.


Pagi ini dia sangat bahagia karena hal indah itu. Alexander rela melakukan apapun demi kebersamaan dan kebahagiaan seperti itu.


Angel tidak bisa menjawab. Dia cukup dewasa untuk bisa menolak pesona kuat Alexander. Siapa yang akan bisa menolak pesona Alexander yang begitu tampan dan hangat saat memperlakukan wanita.


Apakah hati Angel akan luluh terhadap sikap hangat Alexander?


Keduanya saling memandang. Angel kini terbawa suasana yang di ciptakan oleh Alexander. Perlahan pria itu mendekatkan wajahnya ke arah wajah Angel. Perlahan tapi pasti bibir keduanya kini saling menempel.


Sapuan lembut dan kecupan ringan Alexander mampu membuat Angel terdiam dan melayang. Untuk pertama kalinya bagi Luna Parker dan Angelica Hernando merasakan keintiman ciuman seperti itu.


Perlahan kecupan telah berubah menjadi pagutan lembut yang di lakukan oleh Alexander. Tangan pria itu menarik erat pinggang Angel untuk semakin dekat kepadanya.


Angel memejamkan matanya menikmati ciuman mereka. Sungguh membuat Angel melayang akan hal tersebut. Keduanya sama-sama menikmati ciuman mereka di pagi hari.


Pagutan lembut perlahan berubah menjadi pegutan yang semakin dalam. Angel di tuntun untuk membuka mulutnya agar Alexander dapat masuk ke dalamnya dan mengabsen setiap inci rongga mulut gadis itu.


Angel mengikuti setiap pergerakan yang Alexander lakukan. Lengan Angel naik melingkar ke leher Alexander. Sedangkan tangan pria itu kini telah mencakup kedua pipi Angel untuk memperdalam lagi pagutan mereka.


Pasokan udara yang kurang untuk keduanya, membuat Alexander terpaksa melepaskan pagutan mereka. Keduanya terengah-engah karena kehabisan pasokan oksigen.


Kening mereka saling menempel.


"Angel…!" Panggil lembut Alexander.


"mmmm…!" Gumam Angel pelan. Dia sangat malu sekarang.


"Jangan pernah pergi dariku." Ucapnya.

__ADS_1


Angel melihat ke arah mata teduh itu. Terlihat jelas kejujuran dan pancaran kasih sayang yang tulus dari dalam matanya.


"Aku ingin kita terus bersama seperti ini."


Angel masih diam tidak dapat mengatakan apapun juga.


"Berikan saya waktu lebih untuk mengenali perasaan saya sendiri terhadap anda." Hanya itu kalimat yang dapat mengutarakan isi hatinya dan jawaban untuk Alexander.


"Baiklah. Aku hanya berharap kamu membalas perasaan ku ini." Jujurnya.


Angel mengangguk lemah. Kembali Alexander memberikan kecupan ringan pada bibir Angel.


"Terima kasih sudah hadir di hidupku." Ucapnya sembari membelai bibir Angel yang ia cium tadi.


Alexander melepaskan pelukkannya.


"Bersiaplah. Sebentar lagi acara akan di mulai."


Lagi lagi Angel hanya bisa mengangguk saja.


Alexander membelai pucuk kepala Angel dengan penuh kasih sayang, lalu mendaratkan kecupan panjang pada kening gadis itu. Barulah Alexander berlalu pergi, meninggal Angel sendiri dengan perasaannya yang tidak menentu.


Angel dapat bernafas lega setelah kepergian Alexander. Ia terduduk lemas di atas sofa.


"Apa yang terjadi padaku. Mengapa aku malah terlena akan belain dan rayuannya. Ini salah, tidak seharusnya aku seperti ini." Gumamnya pelan.


"Apa aku buat saja alur cerita agar Alexander menjauh dariku…"


"Tidak. Tidak. Aku masih perlu akan kekuasaan dan pengaruhnya yang kuat di kerajaan ini. Setidaknya itulah yang menjadi senjata utama dan tameng untukku hidup aman di dunia yang keras ini." Gumamnya pelan sembari menggigit kuku jempolnya.


Itulah kebiasaan Angel jika sedang berpikir keras.


"Sebaiknya aku cepat bersiap dan pergi menemui teman teman baruku. Ada yang harus aku bicarakan kepada mereka."


Angel bersiap dan berlalu pergi mencari Alita, Sai dan Glory.


…Flashback off…


Di sinilah Angel berada, mereka berkumpul di kamar Alita.


"Ada apa?" Tanya Glory mewakili mereka bertanya setelah mereka di kumpulkan pada satu ruangan.


Alita dan Sai hanya diam menyimak.


"Sebenarnya aku ingin meminta bantuan dari kalian."


"Bantuan apa?" Tanya Alita.


"Sebelumnya kalian harus mendengarkan cerita ku dulu." Ucapnya.


Angel mulai menceritakan kisah ritual yang ia lakukan hingga selesai. Bagaimana dirinya di rundung oleh dua nona muda. Bagaimana kedua orang tua Angel terbunuh oleh paman dan bibinya. Bagaimana semua ingatannya hilang selama 11 tahun, hingga kejadian pengejaran dari pembunuh bayaran terjadi. Terakhir bagaimana ia masuk ke dalam hutan dan semua kejadian yang menimpanya di dalam hutan.


Mereka menyimak dengan tenang. Alita, Glory dan Sai cukup iba terhadap kisah Angel. Mereka geram kepada orang orang yang sudah berbuat jahat kepada gadis itu.


"Hari ini ada acara penghargaan untuk dua nona muda yang melakukan ritual bersama ku. Aku ingin membalas mereka. Terutama Marisa yang coba coba untuk mengambil posisi ku." Ungkap Angel terlihat marah.


"Tentu aku akan membantu mu untuk membalas mereka." Kata Alita setuju untuk membantu.


"Aku juga akan membantu dan mendukung mu. Kejahatan harus di balas. Sepertinya hari ini akan seru." Ungkap Sai juga ingin membantu.


"Bagaimana denganmu Glory?" Tanya Alita yang melihat Glory hanya diam saja.


"Aku akan mengamatinya terlebih dahulu." Balasnya. Memang seperti itulah si ratu mafia.


"Baik kita sepakat akan bersenang-senang hari ini. Aku sudah tidak sabar untuk melihat kekuatan mereka semua." Komentar Alita terdengar bersemangat.


Mereka semua sepakat untuk membantu dan melancarkan rencana Angel. Gadis itu tersenyum karena berhasil membuat mereka berada di pihaknya. Angel akan membuat alur cerita yang baru untuk mereka semua.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2