
***Kerajaan Royal Land***
Mereka berdua tengah berada di dalam sebuah aula yang sangat Angel kenali. Aula di mana ritual kemarin di lakukan. Angel cukup melihat sekelilingnya, aula itu telah di bersihkan dalam satu hari.
Aula yang cukup luas jika di pakai untuk menampung ratusan orang. Aula yang kemarin terlihat mencekam, kini berubah menjadi aula yang terlihat bersih, mewah dan megah.
"Inilah lukisan Sang Penulis." Tunjuk Alexander ke arah sebuah photo lukisan wanita yang sangat Angel kenali.
Angel kembali melihat photo lukisan itu. Wanita yang sama dengan wanita yang ia temui saat pertama kalinya datang ke dunia ini. Wanita yang sama saat menunjukkan letak Pena ajaib yang harus ia gunakan untuk membuka segel kaisar.
Angel melihat lukisan itu lebih dekat lagi. Ia ingin melihat detail dari goresannya. Saat pertama kalinya melihat lukisan, Angel tidak begitu teliti melihatnya di tambah suasana pada saat itu begitu remang. Tidak membuat Angel melihat dengan baik lukisan tersebut.
Angel mulai teliti melihat detail goresannya. Cukup baik dan ahli di bidangnya. Dia sebagai pembuat komik saja belum tentu mampu membuat lukisan yang terlihat nyata seperti hasil sebuah photo lensa kamera. Seakan hidup dan bernyawa dengan sorot matanya yang begitu hidup saat memandangnya.
"Lukisan yang begitu hidup dan bernyawa. Sungguh karya yang sangat bagus sekali. Bahkan detail dari kuasnya tidak nampak sama sekali. Ini seperti hasil tangkapan sebuah lensa kamera. Sungguh luar biasa." Ucapnya terkagum-kagum akan lukisan tersebut.
Alexander terdiam di tempatnya dan dapat mendengar jelas semua perkataan Angel. Alexander yang tidak mengerti tentang sebuah lukisan, hanya diam dan menyimak apa yang menjadi penilaian Angel saat ini.
Namun ada yang mengganggu penglihatan matanya pada bagian cahaya mata lukisannya. Angel semakin mendekati bagian itu. Ia ingin melihat apa yang mengganjal di sana.
Begitu ia dapat melihat jelas cahaya bayangan pada mata lukisan itu. Angel terkejut bukan main hingga langkahnya mundur dan menutup mulutnya yang menganga karena terkejut.
"Ada apa?" Tanya Alexander tahu Angel saat ini sangat terkejut.
Alexander melihat ke arah wajah terkejut Angel. Matanya bahkan berkaca-kaca.
"Ada apa?" Tanya Alexander terlihat penasaran, apa yang sebenarnya Angel lihat?
"Matanya…mata lukisan itu…!" Ucap Angel terbata-bata.
"Ada apa dengan mata lukisan itu?"
"Aaahhhh…!!!" Angel bahkan terhuyung ke arah belakang karena sangat terkejut.
Jika saja Alexander tidak sigap menangkap tubuh Angel. Gadis itu pasti sudah jatuh ke arah belakang. Tiga pria yang sedang mengawasi mereka juga merasa penasaran, apa yang sebenarnya Angel lihat di sana? Sehingga terlihat sangat terkejut seperti itu.
"Ada apa? Sebenarnya ada apa di sana?" Tanya Alexander tidak tahan lagi akan rasa penasarannya.
"Saya tidak yakin. Mungkin saya yang salah lihat. Coba anda yang melihatnya dan perhatikan lebih dalam lagi. Di dalam mata lukisan itu terdapat sebuah bayangan seseorang." Jelas Angel dengan terbata-bata.
"Apa maksud mu?" Tanya Alexander tidak mengerti.
Angel tahu dia sulit untuk menjelaskannya.
"Coba anda tatap mata saya dengan teliti.…!" Ucapnya.
Alexander melakukan apa yang Angel katakan.
"Lihat hingga ke dalam mata saya, apakah anda dapat melihat sebuah bayangan atau pantulan seseorang di dalam mata saya?" Katanya sembari mereka terus saling memandang.
"Iya aku melihatnya. Aku melihat pantulan diriku yang sedang melihat mu." Balas Alexander apa yang ia lihat jelas.
"Iya. Seperti itu, ada pantulan seseorang yang tergambar di dalam mata lukisan itu. Seolah-olah ada orang lain di depannya, saat wanita itu di lukis. Wanita itu seakan melihat seseorang yang ada di hadapannya pada saat itu. Dan yang wanita itu lihat adalah seseorang yang sedang melukis dirinya. Coba anda lihat dan perhatikan, apakah saya yang salah melihatnya?" Ungkap penjelasan Angel. Penjelasan itulah yang paling sederhana.
"Baiklah, akan aku coba untuk melihatnya." Balas Alexander segera mendekati lukisan tersebut.
__ADS_1
Angel berdiri di belakangnya dengan kegelisahan hatinya. Ia tidak percaya akan apa yang ia lihat. Apakah bayangan itu nyata atau hanya halusinasinya saja.
"Felix, Leonardo, Marquez kalian cepat ke sini." Panggil Alexander kepada ketiga pria yang ada di sana untuk datang mendekat.
"Coba kalian lihat dengan teliti pantulan dalam mata lukisan wanita ini." Perintahnya sembari menunjuk ke arah kedua mata lukisan wanita tersebut.
Alexander mundur dua langkah agar ketiga pria yang ia panggil dapat lebih dekat dengan lukisan yang ia maksudkan. Begitu mereka selesai melihatnya, mereka mendapatkan sesuatu yang di maksudkan, ketiganya melihat ke arah Alexander.
Sedangkan Angel melihat gelisah ke empat pria yang ada di depannya.
"Apa yang kalian lihat?" Tanya Alexander ingin keyakinan dan sebuah jawaban yang jelas.
Sebelum ketiganya menjawab, mereka melihat ke arah Angel yang berdiri di belakang Alexander. Angel benar-benar nampak gelisah.
Saat pandangan mata Angel bertemu dengan tatapan mata ketiga pria itu. Tubuh Angel semakin kaku dan dia yakin, apa yang ia lihat adalah benar.
"Ada pantulan nona Angel yang sedang duduk melukis di dalam sana, yang mulia." Ucap Felix mewakili ketiganya. Alexander terdiam, karena itu juga yang ia lihat.
Ke empat laki-laki di sana saling memandang sejenak, sebelum melihat ke arah Angel yang ada di belakang mereka.
Angel tahu mereka juga terkejut sama seperti dirinya saat ini. Tapi itu nyata yang mereka lihat. Siapa sebenarnya gadis yang sedang melukis di dalam pantulan mata wanita itu? Mengapa sangat mirip dengannya? Itulah pertanyaan Angel di dalam hatinya.
"Kalian melihat hal yang sama seperti yang saya lihat bukan?" Tanya Angel. Ke empat pria di hadapannya menganggukkan kepala mereka.
"Aaahhhh…!!!" Tubuh Angel kembali bergetar karena hatinya tidak nyaman akan hal ini. Angel meremas dadanya yang terasa sesak, hingga ia jatuh limbung dan sujud di atas lantai aula.
"Angel…!!" Panggil Alexander terkejut karena melihat kondisi Angel yang terlihat tidak baik baik saja.
"Ada apa denganmu?" Tanya khawatir Alexander melihat kondisi Angel saat ini.
Angel berpikir dengan cepat. Lalu terlitas sesuatu yang semakin mengganjal hatinya.
"Bisakah turunkan lukisan itu, dan tolong lihat ada apa di belakang lukisan itu. Tepatnya pojok atas kanan di belakang lukisan itu." Ucap Angel berusaha menahan perasaannya yang tidak nyaman akan hal yang ia curigai.
"Lakukan…!" Kata Alexander memberikan perintah.
Leonardo dan Marquez segera melakukan apa yang Angel inginkan. Mereka berdua menurunkan lukisan besar itu dan membaliknya ke bagian belakang.
"Coba bawa ke sini…!" Pinta Angel. Bukannya dia ingin sembarangan untuk memberikan perintah, tetapi kakinya lemas tidak mudah ia gerakkan.
Keduanya membawa dekat lukisan tersebut. Angel mencari sesuatu yang ia curigai. Tepat di bawah bingkai kayu pojok kanan atas terdapat sebuah goresan berbentuk tulisan.
"Luna Perker…!" Baca Angel dengan suarannya yang tersekat.
Kini air mata yang ia tahan sejak tadi jatuh ke atas pipinya. Sembari menggelengkan kepalanya Angel menutup mulutnya yang terisak akan tangisannya sendiri.
Ke empat laki-laki yang ada di sana bingung, mereka tidak mengerti ada apa dengan Angel. Walaupun mereka mendengar jelas apa yang Angel katakan. Mereka juga melihat tulisan tersebut, tetapi tidak dapat membaca apa itu. Tulisan itu bukanlah tulisan dari dunia mereka, tetapi tulisan asing bagi mereka.
"Luna Parker…! Apa yang sebenarnya terjadi?" Ucapnya di sela-sela tangisannya.
Angel sangat mengenali tulisan nama itu. Sama seperti tulisan dan tanda namanya di setiap karya yang ia buat pada dunianya.
"Ada apa?" Tanya Alexander khawatir.
Angel menatap Alexander dengan serius.
__ADS_1
"Apa wanita di lukisan ini benar-benar adalah Sang Penulis?" Tanya Angel ingin memastikan.
"Iya. Itu yang di katakan oleh para leluhur kami. Sehingga lukisan ini tidak boleh di pindahkan ke tempat lain. Harus tetap terpajang di dinding ruangan yang di tentukan oleh Sang Penulis itu sendiri." Jelas Alexander apa yang memang benar menjadi pesan dari para leluhurnya.
"Aaaahhhh…Ini semua di luar nalar. Ya Tuhan Apa yang sebenarnya dulu telah terjadi?" Ungkap Angel membuat semuanya semakin tidak mengerti.
"Apa kalian percaya, jika wanita di dalam lukisan itu adalah Sang Penulis?" Tanya Angel kembali ke arah mereka.
"Iya. Aku percaya, karena itulah yang di katakan oleh para leluhur kami." Balas Alexander dengan tegas.
"Tidak…Tidak…Kalian salah besar." Balas Angel sembari menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana mungkin tidak?" Tanya Alexander. Sedangkan Angel terdiam dan berpikir sejenak.
'Apa yang sebenarnya terjadi. Apa sebelumnya aku pernah datang ke dunia ini dengan cara melewati ruang dan waktu seperti sekarang? Apa peristiwa yang dulu terulang kembali? Ini semua di luar akal sehatku. Ya Tuhan…Apakah pantulan wanita pelukis yang mirip dengan ku adalah aku yang dahulu. Semua ini benar-benar membingungkan…!'
'Tunggu sebentar. Jika aku mengulangi semua peristiwa yang dulu. Pasti ada dalang di balik semua ini, dalang yang tahu semua ini akan terjadi. Tapi apa tujuannya?'
'Apa aku tidak akan bisa kembali dan akan mati di dunia ini seperti wanita pelukis itu? Apa aku akan bernasib yang sama seperti dia? Apa sebenarnya tujuan ku datang ke dunia ini lagi?'
'Tunggu…Dragon White…Naga itu mengatakan padaku bahwa aku adalah Sang Penulis. Apa dia tahu sesuatu yang ingin aku ketahui saat ini? Aku harus bertanya kepadanya?'
Itulah pemikiran Angel di dalam hatinya, sehingga tidak mendengarkan pangilan Alexander yang sejak tadi memanggilnya dengan rasa khawatir.
"Angel…Angel…!" Panggil Alexander sembari mengguncangkan tubuh Angel hingga dia sadar kembali dari lamunannya.
"Yang mulia…Bagaimana caranya anda menggunakan Pena ajaib atau kekuatan magic Penline?" Tanya Angel. Ia ingin mencoba kekuatan itu.
Alexander melihatnya sejenak. Ada keseriusan dari sorot mata Angel.
"Menggoreskan sesuatu yang kamu inginkan. Sebuah tulisan, cerita ataupun gambar. Setelah itu pusatkan pikiran dan keinginan di dalam hatimu untuk apa yang kamu buat atau ciptakan akan menjadi kenyataan. Itulah caranya."
Angel mengerti penjelasan Alexander.
"Baik. Apa saya bisa meminta bantuan dari anda?"
"Tentu saja, katakan."
"Apakah saya bisa meminjam aula ini sebentar saja?" Tanyanya dengan raut wajah yang memohon.
"Tentu saja, silahkan."
Angel kembali mengatur nafasnya agar hatinya dapat tenang kembali. Dia melepaskan gelang naga emas dari pergelangan tangannya. Menggenggam erat gelang itu agar berubah menjadi sebuah Pena untuk ia gunakan. Angel melihat serius ke arah Pena ajaib yang ada di atas telapak tangan kanannya.
Mereka yang hadir di sana, hanya diam, melihat dan menyimak saja. Apa yang ingin di lakukan oleh seorang Angelica Hernando?
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1