Dunia Magic Sang Penulis.

Dunia Magic Sang Penulis.
27. Menyimak Dan Mengikuti Alur.


__ADS_3

***Kerajaan Royal Land***


Alexander menatap dingin ke arah Marisa yang tengah duduk bersujud tidak jauh di hadapannya.


Pria itu tahu, jika Marisa sedang melakukan sandiwara menarik simpati dari semua orang yang hadir. Pembelaan diri yang ia lakukan adalah sebagai bukti. Gadis itu akan melakukan apapun untuk terus menempati posisi yang seharusnya bukanlah miliknya.


Alexander hanya akan menyimak dan mengikuti alur yang ada.


"Angelica Hernando menghilang dan tidak pulang ke kediaman Hernando." Ucap Alexander.


"Iya yang mulai. Sejak pergi ke istana untuk melakukan ritual, dan kami telah mencarinya. Namun tidak mendapatkan beradaannya sama sekali." Balas Marisa terlihat sedih pada raut wajahnya yang sedang bersandiwara.


Alexander diam dan melihat teliti ke arah Marisa. Ia tahu bahwa gadis di hadapannya telah berbohong. Mencari keberadaan Angel yang nyata nyata ada di dalam istana. Apa mungkin keluarga Hernando telah mengerahkan kemampuan mereka dengan serius untuk mencari keberadaan Angel.


Sedangkan Anne yang telah mendapatkan berita bohong dari pembunuh bayaran yang ia sewa. tersenyum tipis hingga tidak terlihat oleh siapapun. Senyum yang membuatnya yakin jika perkataan Marisa adalah kebenaran.


Keluarga Hernando tidak dapat menemukan keberadaan Angel di manapun? Karena Anne percaya bahwa Angel telah tewas seperti kabar yang ia dapatkan dari pembunuh bayaran sewaannya.


"Apa kalian sudah mengerahkan segala cara?" Tanya Alexander kembali.


"Sudah yang mulia. Sampai saat ini kami masih mencarinya." Balas Marisa.


"Mengapa kalian tidak memberikan kabar ini ke pihak kerajaan? Jika kalian memberitahukan kabar ini, pihak kerajaan tentunya akan membantu untuk mencari keberadaan nona Angelica Hernando." Kata Alexander terus mengikuti sandiwara Marisa.


"Maaf beribu maaf yang mulia. Kami tidak ingin menyusahkan yang mulia dan pihak kerajaan. Selama kami masih bisa mengatasinya, kami akan mencari sendiri." Balas lembut Marisa dengan tatapan matanya yang terlihat sedih.


"Tapi kalian tidak memiliki hasil sama sekali atas pencarian itu." Kata Alexander dengan tatapan matanya yang dingin dan tajam.


Marisa tersentak melihat betapa tajam dan dinginnya tatapan mata itu. Ia berusaha menelan salivanya.


"Apa kalian benar benar dengan pencarian itu? Ataukah hanya ucapan kalian yang omong kosong saja." Ucapnya dengan penekanan pada kata katanya.


"Maaf yang mulia. Kami benar benar melakukan pencarian sampai saat ini." Balas Mario tiba-tiba maju ke hadapan Alexander dan memberikan sikap hormatnya.


Pria paruh baya itu tidak tahan melihat putrinya sedang di pojokkan.


Alexander melihat tajam dan dingin ke arah Mario yang berani ikut dalam pembicaraan mereka.


"Siapa kau?" Tanya Alexander terlihat tidak suka kehadiran Mario.


"Maaf yang mulia. Hamba Mario Hernando, kepala keluarga Hernando." Balas Mario dengan menundukkan kepalanya. Cukup ngeri ia melihat betapa tajam dan dinginnya tatapan sang kaisar.


"Tuan Mario Hernando. Apakah anda menyayangi putri dari saudara anda itu?" Tanya Alexander ingin tahu.


"Tentu saja yang mulia. Hamba sangat menyayangi keponakan hamba. Bagaimana juga, dia adalah putri tunggal dari adik hamba yang telah meninggal dunia." Balas Mario terlihat sedih.


"Tentunya apapun akan anda lakukan untuk menemukannya bukan."


"Tentu yang mulia. Semua cara telah kami gunakan untuk menemukannya."


Alexander tersenyum tipis yang menambah aura tampan wajahnya. Tentu semua orang yang hadir di sana dapat melihat senyuman itu.


"Tapi mengapa selama tiga hari ini tidak ada hasil dari pencarian kalian?"


"Maafkan hamba yang mulia. Kami sudah berusaha."


"Sudah berusaha?" Tekannya.


"Apa kau yakin?" Tanya Alexander dengan raut wajahnya yang serius.

__ADS_1


"Ya…yakin yang mulia." Jawabnya gugup sembari menganggukkan kepalanya.


"Tapi tidak ada hasil dari pencarian itu. Apakah mungkin sesuatu terjadi padanya?" Tanya Alexander dengan raut yang terlihat serius.


Semuanya terdiam.


"Maaf yang mulia. Sebenarnya, saat ritual sedang di lakukan. Nona Angelica Hernando jatuh tidak sadarkan diri." Celetuk Anne memulai aksinya.


Alexander dan yang lainnya melihat ke arah Anne. Sedangkan Anne yang di lihat oleh semua orang, terlihat gugup.


"Tidak sadarkan diri. Mengapa?" Tanya Alexander terlihat penasaran.


"Nona Angelica takut pada darahnya sendiri, saat dia menyayat telapak tangannya dengan menggunakan sebuah belati, yang mulia." Balas Anne.


"Nona Monica dan tuan Lukas melihat kebenaran itu." Kata Anne dengan cepat.


Anne melirik sejenak ke arah Monica, dan memberikan isyarat dari matanya untuk Monica agar mau bekerja sama dengannya.


"Iya, yang mulia. Nona Angelica tidak sadarkan diri sebelum melakukan ritual itu, karena takut pada darahnya sendiri." Sambung Monica memutuskan untuk membantu Anne. Setelah ini berhasil, tentunya Monica memiliki alasan untuk meminta imbalan kepada Anne.


"Tuan Lukas juga melihatnya. Yang mulia bisa tanyakan kepadanya." Sambung kembali Monica dengan cepat melihat ke arah Lukas.


"Apa benar seperti itu Lukas?" Tanya Alexander melihat ke arah Lukas.


Lukas yang di tanya melihat ke arah Alexander.


"Benar yang mulia. Saat kedua nona muda ini keluar dari ruang aula, nona Angelica sudah jatuh tidak sadarkan diri. Kami kemudian meninggalkannya seorang diri di dalam aula." Jelas Lukas.


Alexander melihat ke arah Lukas.


"Lalu apa yang terjadi setelah kalian pergi? Aku sangat ingat jelas satu hal. Saat aku terlepas dari segel itu, aku tidak menemukan nona ataupun gadis muda berada di sana." Jelas Alexander tentang ingatannya.


"Beberapa menit kemudian, nona Angelica keluar dari dalam aula dengan keadaan sadar sepenuhnya. Hamba sendiri yang mengantarkannya hingga masuk ke dalam kereta kuda yang akan membawanya pulang ke kediaman Hernando." Penjelasan Lukas.


"Sudah jelas. Nona Angelica sadar dan pulang kembali ke kediamannya. Tapi pada kenyataannya, sampai detik ini tidak ada kabar yang di dapatkan oleh keluarga Hernando tentang keberadaan nona Angelica. Ada apa sebenarnya?" Kata Alexander terlihat heran.


"Maaf yang mulia. Saya mendapatkan informasi dari kusir kereta kuda yang membawa nona Angelica. Bahwa dia hanya mengantarkan nona Angelica ke sebuah balai pengobatan yang ada di ibu kota, karena memiliki beberapa luka di kedua tangannya." Jelas Lukas.


"Itu artinya, nona Angelica tidak pulang dengan kereta kuda kerajaan ke kediaman Hernando."


"Iya yang mulia. Setelah itu, nona Angelica pulang dengan caranya sendiri."


Alexander terdiam. Pandangan matanya masih dingin dengan raut wajahnya yang datar.


"Apakah kau tahu informasi itu tuan Mario?" Tanya Alexander melihat ke arah Mario.


"Ti…tidak yang mulia…!" Balasnya gugup.


"Kau tidak tahu apa yang terjadi pada keponakan mu. Apa kau tidak menempatkan seseorang untuk mendampinginya ke istana?"


Mario terdiam, ia berusaha menelan salivanya. Pertanyaan Alexander seakan mulai membuka sikap buruknya terhadap Angelica.


"Tentu ada yang mulia…!" Gugupnya terdengar ragu.


"Tetapi saat berada di istana, orang yang menemaninya tidak di perbolehkan masuk ke dalam istana. Jadi dia pulang kembali."


"Meninggalkan tuannya seorang diri…!" Celetuk Alexander terdengar kesal.


"Apa ini masuk akal? Orang suruhan macam apa yang kau tempatkan untuk menjaga putri dari saudara anda tuan Mario."

__ADS_1


Mario terdiam malu.


"Apakah itu hanya bualan anda saja tuan Mario?" Tanya Alexander terlihat merendahkan Mario.


"Sebenarnya nona Angelica datang seorang diri ke istana ini." Katanya kembali.


Mario tidak dapat berkata apa apa. Perkataan Alexander adalah kebenarannya.


"Jadi kau tidak tahu apa yang terjadi dan di mana keberadaannya. Kau tidak pernah melakukan apapun untuk nona Angelica Hernando, tuan Mario." Ucap Alexander terdengar tegas dan menekan beberapa kata katanya.


Semua orang kini melihat ke arah Mario dan Marisa, dengan tatapan mata yang terlihat meremehkan keluarga Hernando.


'Sial, situasi macam apa ini? Gadis sialan itu selalu saja memberikan masalah padaku. Aku harap dia tidak muncul lagi.' Gumam Mario kesal di dalam hatinya.


"Maaf yang mulia. Kami bersalah karena telah lalai. Maafkan kami…!" Kata Mario bersujud di hadapan kaisar.


"Apa maaf darimu, akan membuat semuanya membaik, tuan Mario? Jadi untuk apa kata maaf yang kau ucapkan. Penyesalan atas kelalaianmu itu tidak berguna sekarang. Semuanya telah terjadi dan tidak dapat di ulang ataupun di perbaiki lagi." Kata kaisar dengan dinginnya.


"Di saat putri lainnya belum di temukan. Kau dengan bangganya menempatkan putri kandung mu pada posisi yang tidak seharusnya dia berada di sana." Tunjuk Alexander ke arah Marisa.


"Apa kau pikir akan mudah untuk membuat ku percaya akan rencana kebohongan kalian. Apa kau pikir aku adalah kaisar yang bodoh dan tidak akan tahu apapun tentang rencana busukmu ini…!" Ungkap Alexander dengan suaranya yang mulai tinggi.


Alexander murka akan kenyataan yang ia lihat sekarang.


"Kau telah menghina ku tuan Hernando. Kau berani menghina kaisar kerajaan ini dengan sikapmu yang meremehkan ku…!" Ungkap kembali Alexander dengan nadanya yang tinggi. Alexander benar benar murka.


Mario dan Marisa seketika bergetar takut akan suara tinggi sang kaisar. Murkanya Alexander terbukti nyata akan suara petir dan gemuruh yang begitu besar, seakan meruntuhkan atap aula yang begitu menjulang tinggi di atas kepala mereka.


"Maafkan hamba yang mulia, mohon ampun, kami bersalah. Kami bersalah…!" Mohon Mario dengan kepala yang tertunduk menyentuh lantai.


Di saat terdengar suara petir dan gemuruh yang begitu besar. Pada ruangan lainnya yang ada di samping aula, mereka menyaksikan dan mendengarkan semuanya.


"Waaahhh petir dan gemuruhnya besar sekali. Aku terkejut, apa akan turun hujan?" Tanya Alita setelah selesai akan keterkejutannya pada suara petir dan gemuruh.


Bukannya menjawab. Angel tersenyum lebar melihat tajam ke arah Mario dan Marisa yang tertunduk takut di hadapan kaisar.


Glory, Sai dan Alita heran melihat senyum itu.


"Bukan hujan yang akan turun, itu pertanda untuk kita keluar dan ikut bergabung." Balas Angel masih melihat lurus ke arah aula.


"Waktunya untuk kita bersenang-senang. Siapa di antara kalian yang akan berada di depanku?" Tanya Angel melihat ke arah Glory, Sai, dan Alita.


Mereka bertiga tahu maksud perkataan Angel. Pada akhirnya Sai dan Glory melihat ke arah Alita.


"Mengapa kalian berdua melihat ke arah ku seperti itu?" Tanya Alita melihat curiga keduanya.


"Jangan bilang kalian berdua memilihku." Kata Alita kembali.


"Di antara kita bertiga, hanya kau yang memiliki kekuatan atau kemampuan spritual dan energi QI yang cocok di dunia ini." Balas Sai maksud dari keduanya.


"Jadi kau akan mampu merasakan kekuatan dari lawan yang ada di depan kita. Tenang Alita, kami akan tetap berada di belakang untuk membantumu." Kata Sai dengan senyum puasnya.


Alita tidak langsung menjawab. Perkataan Sai cukup membuatnya mengerti. Dia hanya menghela nafasnya yang parah sebagai jawaban untuk mereka.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…

__ADS_1


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2