Dunia Magic Sang Penulis.

Dunia Magic Sang Penulis.
8. Pasukan Kerajaan The Royal Forest.


__ADS_3

***Hutan Kerajaan The Royal Forest***


Angel terus berlari masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan. Ia tidak peduli apa pun yang akan terjadi selanjutnya. Instingnya mengatakan untuk terus berlari, untuk menghindar dan bersembunyi sementara waktu agar nyawanya selamat malam ini.


Hutan yang begitu luas, gelap dan mencekam. Hanya cahaya bulan yang menyinari langkah larinya menyusuari beberapa semak dan pohon pohon besar yang ada di dalam hutan itu.


Angel harus selamat malam ini, itulah keyakinannya. Kesialan ataupun malapetaka setelah ritual itu akan dan harus ia lawan. Bertahan untuk mencapai kemenangan adalah tujuan hidupnya mulai sekarang.


"Sial.... Siapa yang mengirim mereka? Apa yang mereka dapatkan dengan merenggut nyawaku." Ucapnya saat terhenti di balik semak semak dan pohon besar, dia bersembunyi sekedar beristirahat sejenak dari rasa lelah berlari.


Angel melihat ke arah sekitar belakangnya, memastikan pergerakan dari pengejaran yang di lakukan oleh enam pria tersisa di luar hutan itu. Angel ingin memastikan, apakah mereka masih mengejarnya atau tidak?


Angel berusaha mengatur alur nafasnya yang terengah dan menelan beberapa kali salivanya untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Malam ini dia sungguh menderita, luka luka di sekujur tubuhnya masih mengeluarkan darah segar.


Angel melihat semua lukanya yang terus berdarah. Dia segera merobek kain gaun bawahnya menjadi beberapa bagian, segera ia balut luka lukanya agar menghentikan pendarahan yang bisa saja meninggalkan jejaknya.


Angel cukup berpikir cepat untuk tidak meninggalkan banyak tanda kemana arahnya kabur dan bersembunyi. Beberapa kali erangan terdengar, Angel menahan rasa sakitnya malam ini. Dia benar-benar menderita sekarang, dan penderitaan itu tidak pernah ada dalam bayangannya selama ini.


"Aku sekarat malam ini. Ya Dewa Agung, tolonglah hamba." Doanya pelan setelah selesai membalut luka terakhir yang ada di lengan kanannya.


"Tolong…siapa saja datanglah dan tolong aku." Harapnya di tengah rasa putus asa yang terasa panjang dan dalam.


Air mata yang keluar adalah bukti rasa putus asa dan penderitaannya malam ini. Angel menangis di dalam diam sembari melihat ke sekitarnya. Hanya gelap, semak dan beberapa pohon besar yang ada di depan matanya.


"Setidaknya cahaya bulan membantuku malam ini. Langkahku sedikit terang akan cahaya itu." Gumamnya pelan sembari mendongak ke atas langit, melihat bulan purnama yang begitu terang dan bulat malam ini.


Angel kembali bangkit dan mulai berlari tertatih akan rasa sakit pada kedua betisnya yang telah ia balut. Gadis itu benar-benar sekarat dengan luka dan kondisi yang terlihat mengenaskan.


Berlari dan berlari sejauh mungkin, masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan. Tanpa Angel sadari, jika saat ini sedang ada yang tengah memperhatikan dirinya. Bukan enam pria yang mengejarnya, melainkan beberapa serigala berbulu hitam dengan mata tajam dan giginya yang runcing.


Langkah lari Angel terhenti akan seekor serigala hitam yang tengah menghadangnya sekarang. Angel begitu takut dan tubuhnya merinding akan kehadiran serigala hitam tersebut.


Selamat dari enam pria, kini ia belum tentu selamat dari ancaman serigala hitam di depannya. Lebih mengejutkan lagi, empat serigala datang dari beberapa arahnya dengan tatapan lapar mereka.


"Sial..... ini yang namanya benar-benar kesialan. Terhindar dari enam pria itu, tapi sekarang di hadapkan oleh lima serigala hitam. Apa yang harus aku lakukan? Melawan satu saja aku mungkin tidak mampu." Gumamnya pelan melihat ke sekelilingnya.


Satu serigala di depannya mengaum keras. Menambah kesan mencekamnya malam ini. Angel hanya mengatur nafasnya yang benar-benar terengah dan berusaha membaca situasinya sekarang. Apa yang harus ia lakukan?


Angel melihat ke arah dua pedang yang ia genggam sekarang. Kedua pedang terlihat berkilau saat cahaya bulan menerpa besi putih itu. Angel hanya dapat berharap, jika pedang yang ia genggam dapat membantunya melawan lima serigala hitam tersebut.


"Baiklah, kita bertahan sampai titik penghabisan." Ucapnya sembari menggenggam erat dua pedang yang ada di kedua tangannya.

__ADS_1


Tatapan mata Angel benar-benar tajam membunuh. Pikiran di dalam otaknya saat ini hanya untuk membunuh serigala serigala yang tengah menghalangi jalannya. Kilat amarah pada matanya terlihat jelas.


Satu serigala dari arah belakang mencoba menerkamnya dengan meloncat tinggi. Tentunya Angel tidak akan menghindar, tetapi datang mendekati dan mengayun satu pedang ke arah perut serigala. Angel berhasil mengenai perut serigala dengan bersamaan ia juga mendaptkan terkaman cakar dari serigala tersebut pada lengannya.


Rasa sakit pada lengan Angel tidak ia pedulikan. Angel berlari cepat dan segera menancapkan pedangnya ke arah perut samping serigala yang terkapar akan tebasan pedangnya. Mati satu dan masih ada empat serigala lagi yang harus Angel tangani.


Angel berdiri dan menghadap ke arah empat serigala yang terlihat marah melihat ke arahnya. Angel siaga dengan serangan mereka selanjutnya. Dua serigala berlari dan menyerang Angel dengan bersamaan, Angel berlari ke arah samping salah satu serigala sembari mengayunkan pedangnya ke arah kaki serigala.


Satu serigala tumbang akan tebasan pedang yang begitu tajam hingga memotong ke empat kaki serigala. Tidak sampai di sana, satu serigala lagi menerkamnya dan berhasil menggigit lengan kirinya. Rasa sakit hingga ke tulang Angel rasakan, tetapi dengan kuat Angel menusukkan satu pedangnya ke arah punggung serigala tersebut.


Pedangnya tertancap dalam hingga menembus perut serigala. Perlahan gigitan binatang buas pada lengannya berangsur-angsur melemah seiring matinya sang serigala.


Lengan kiri Angel kini koyak dengan beberapa lubang bekas taring dari serigala. Sangat sakit hingga Angel jatuh tersungkur menahan rasa sakitnya.


"Sakit sekali…!" Gumamnya sembari menekan luka yang mengeluarkan darah segarnya.


Angel kembali bergerak cepat menusukkan satu pedang lagi ke arah pingggang serigala yang tadi tumbang, Angel melakukan itu karena melihat pergerakan serigala tersebut bangkit dan ingin menerkamnya. Kini tersisa dua serigala lagi di hadapannya.


Dengan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Angel mencabut dua pedangnya dan siap menghadapi dua serigala lagi. Rasa sakitnya berusaha ia tahan hingga tubuhnya tidak kuat lagi, bertarung sampai titik penghabisan adalah cara terakhir yang ia miliki.


"Aku lebih suka menulis dan menggambar dari pada harus bertarung seperti ini. Jika aku selamat dari pertarungan ini, aku bersumpah akan membuat sebuah cerita dan gambar tentang serigala yang baik dan dapat berteman dengan manusia. Tidak seperti kalian binatang buas yang liar." Ungkap Angel dengan suara yang sedikit ia tinggikan dan beberapa tekanan pada kata-katanya.


Angel tidak peduli jika serigala yang ia ajak bicara akan mengerti ataupun tidak dengan perkataannya. Angel hanya ingin meluapkan kemarahannya malam ini.


Saat selesai Angel mengeluarkan suara histerisnya, bersama dengan suara petir dan gemuruh yang saling bersahutan. Dua serigala juga mengaum kuat hingga menambah kesan mencekam mereka.


Angel menatap tajam dan devil dua serigala yang tidak lagi memusatkan perhatian mereka ke arah Angel. Dua serigala itu sibuk saling mengaum bersahutan, terdengar jelas dari kejauhan suara sahutan dari serigala lainnya.


"Apa kalian memanggil teman teman kalian lagi?" Tanya Angel melihat marah ke arah dua serigala yang terus mengaum keras.


"Teruskan, panggil semua teman teman kalian. Mari kita bertarung hingga akhir hidup kita." Tantang balik Angel.


Seakan dua serigala itu mengerti perkataan Angel, mereka terus mengaum keras saling bersahutan dengan teman mereka yang berada cukup jauh dari tempat itu.


Angel terus waspada, menyimak apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah akan datang yang lebih ganas lagi saat ini? Tidak dapat Angel pungkiri, melawan tiga serigala cukup membuatnya kesulitan dan semakin memperburuk kondisi tubuhnya yang sudah penuh akan luka.


Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki yang menginjak sebuah ranting pohon dan daun daun kering sekitar tempat itu. Angel semakin waspada akan apa yang muncul sekarang?


Dari balik gelapnya di belakang dua serigala, muncul beberapa pria dengan pakaian khas sebuah kerajaan. Angel melihat mereka dengan tatapan tajam, terlihat jelas mereka berteman dengan dua serigala yang segera mundur setelah kedatangan tujuh orang tersebut.


Mereka melihat datar serta dingin ke arah Angel dan tiga serigala yang telah tewas secara bergantian. Terlihat jelas mereka memandang aneh ke arah Angel yang terlihat penuh akan luka dan darah pada sekujur tubuhnya dengan memegang dua pedang di tangannya.

__ADS_1


"Apa nona ini yang melakukannya?" Tanya seorang pria yang berdiri paling depan.


Serigala di belakangnya mengaum dan terdengar sedih. Mereka kembali menatap dingin ke arah Angel setelah mendapat jawaban dari serigala di belakang mereka.


"Kekuatan seperti apa yang dia gunakan?" Tanya pria itu kembali, dan lagi-lagi serigala di belakangnya menjawab dengan mengaum.


Pria itu menatap Angel dengan tatapan yang tidak biasa mendengar jawaban selanjutnya.


"Siapa kau nona? Ada urusan apa kau masuk ke dalam wilayah kami. Hutan ini bukanlah tempat untuk kau bisa masuki dengan sembarangan tanpa ijin dari raja kami." Ungkap pria yang menjadi pemimpin mereka.


Pria yang terlihat kuat dengan postur tubuhnya yang tinggi dan kekar atletis. Wajahnya tampan dengan kulit yang terlihat tidak terlalu putih tetapi cukup bersih. Rahangnya yang tegas dan hidungnya yang mancung menambah plus ketampanan pria tersebut. Rambut panjangnya ia ikat menjadi satu ikatan rendah pada lehernya.


Angel masih diam. Dia cukup mengerti, jika pria dan pasukannya itu adalah penghuni asli di hutan tersebut. Angel bukannya ingin masuk sembarangan, tetapi dia terpaksa masuk untuk bersembunyi dan menghindari kejaran dari orang-orang jahat yang ingin membunuhnya.


"Mengapa kau diam saja? Apa kau pikir akan selamat berada di dalam hutan ini setelah membunuh tiga penghuni hutan ini." Ungkap pria itu kembali karena Angel hanya diam saja.


"Aku tidak ingin membunuhnya. Mereka yang menyerang ku terlebih dahulu. Aku hanya membela diri dari serangan mereka." Balas Angel apa adanya.


Pria itu diam, kembali satu serigala di belakangnya mengaum untuk mengatakan sesuatu.


"Kau masuk hutan ini tanpa ijin dari kami. Jadi pasukan kami berhak untuk mencegahmu agar tidak masuk lebih dalam lagi ke dalam hutan. Seharusnya, begitu kau melihat serigala serigala ini kau segera keluar dari hutan ini." Ungkap pria tersebut.


"Bagaimana aku bisa keluar, jika dari arah belakangku, satu serigala itu menyerang ku lebih dahulu. Apakah aku hanya harus diam dan membiarkan mereka memangsaku?" Balas Angel tidak ingin di salahkan, karena memang serigala itu yang menyerang Angel terlebih dahulu.


"Tapi mereka mengatakan, jika kau yang menyerang mereka lebih dahulu setelah mereka menghalangi mu masuk lebih dalam lagi." Balas pria itu yang membuat Angel tercengang.


Pria itu lebih percaya serigala serigala tersebut dari pada penjelasan yang benar darinya.


"Kau percaya mereka." Ucap Angel dengan senyum anehnya.


"Ya, tentu saja. Kau akan lebih percaya kepada mereka dari pada ucapanku, karena mereka adalah pasukan mu dan aku adalah orang asing di sini." Balas Angel dengan tatapan tidak percaya dan remeh ke arah pasukan yang ada di hadapannya.


Angel tidak ingin banyak berbicara, dia ingin cepat menyelesaikan masalah tersebut. Bagaimana pun caranya, dia harus tetap hidup dan bertahan hingga tujuan hidupnya di dunia itu tercapai. Itulah keyakinan Angel sekarang.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bersambung ke episode selanjutnya…


...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan like nya.


__ADS_2