
***Kerajaan Royal Land***
Semua kehidupan memiliki rahasianya masing-masing. Di dunia memiliki alur cerita yang sudah di atur oleh Sang Pencipta. Semua kejadian mengikuti takdir yang sudah di tentukan.
Begitu juga kehidupan Luna Parker dan Angelica Hernando, sudah di atur oleh takdir dari Sang Pencipta. Mereka akan berjalan mengikuti alur cerita takdir yang sudah di tentukan.
"Angel…!" Panggil Alexander pelan dari arah belakang.
Angel tidak bergeming. Ia masih setia pada pandangan matanya ke arah lukisan wanita yang sudah di pajang kembali ke tempatnya semula.
Alexander mendekati gadis itu dan berdiri tepat di sampingnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Alexander.
"Tidak ada. Tidak ada gunanya terlalu banyak berpikir. Hanya akan membuat kepala saya semakin pusing jika terus memikirkan semua yang terjadi." Balas Angel terdengar pasrah.
"Berbagilah dengan ku. Aku akan selalu ada untuk membantu semua kesulitan mu, Angel."
"Terima kasih." Balas Angel melihat ke arah sampingnya dan tersenyum tipis kepada Alexander.
"Terima kasih sudah ada untuk saya." Ucapnya terdengar tulus.
"Saya hanya bisa yakin semuanya akan baik baik saja. Buruk baik, dan susah senang di dalam kehidupan saya. Sudah ada alur takdir yang tidak bisa di rubah ataupun di tentang. Hanya bisa berusaha membuatnya lebih baik lagi. Hanya itu yang saya bisa lakukan untuk sementara ini."
Alexander terdiam dengan tatapan teduhnya melihat gadis itu. Angel begitu tenang, dan pandai mengatur perasaan hatinya harus seperti apa di saat seperti ini.
"Apa kamu masih menolak takdir mu sebagai Sang Penulis?"
"Entahlah. Apakah saya bisa menolaknya ataukah harus menerimanya? Saya belum tahu harus memutuskan seperti apa?" Kata Angel terdengar pasrah akan masa depannya.
"Saya hanya akan mengikuti alurnya saja." Katanya kembali.
"Lebih baik seperti itu. Aku akan selalu ada untuk mendukung mu."
Mereka kembali melihat sejenak ke arah lukisan wanita itu.
"Waktu sudah mulai senja. Ayo…Aku antar kamu untuk kembali ke dalam kamar…beristirahatlah sejenak sebelum makan malam tiba." Ajak Alexander.
"Maaf yang mulia. Apakah tidak ada kamar atau ruangan yang lainnya untuk saya?" Tanya Angel kini mengingat. Kamar yang ia tempati semalam hingga tadi pagi adalah kamar pribadi kaisar kerajaan itu.
"Kenapa? Apa kamarnya kurang nyaman untuk mu?"
"Bukan seperti itu. Bukankah kamar itu kamar pribadi anda."
"Tidak masalah. Kita bisa berbagi kamar bersama. Seperti yang kita lakukan semalam." Ungkap Alexander ingin sedikit menggoda gadisnya agar ketegangannya berkurang.
Tentu saja Angel terkejut akan hal itu. Dia dan kaisar berbagi kamar bersama. Itu artinya semalam mereka berdua tidur di satu ranjang yang sama.
"Apa benar kita berbagi kamar dan ranjang bersama?" Tanyanya dengan raut wajahnya yang terkejut.
"Iya." Angguk Alexander dengan senyum bahagianya.
Angel sungguh terkejut akan kebenaran itu. Mulutnya terbuka dan matanya membulat sempurna.
"Hai tuan…bisanya anda mengambil kesempatan dalam kesempitan di saat saya tidak berdaya." Kesalnya sembari berkacak pinggang dan melototkan matanya.
"Itu tidak adil namanya. Anda telah melanggar hal pribadi saya yang sensitif. Mana bisa wanita dan pria yang belum memiliki hubungan, tidur bersama. Itu melanggar hukum." Kesal Angel terlihat menggemaskan di mata Alexander.
"Oh ya…Aku rasa, seorang kaisar tidak pernah melanggar hukum apapun?"
"Apa…!"
"Felix…katakan kepadanya hukum apa yang aku langgar. Apakah kaisar yang tidur dengan calon permaisurinya dapat di katakan melanggar hukum?" Tanya Alexander dengan cepat kepada Felix sebagai perlindungan.
"Tidak yang mulia. Itu tidak melanggar hukum sama sekali." Balas Felix.
__ADS_1
Angel kembali kesal akan keduanya.
"Kalian memang pria egois." Kesal Angel segera berlalu dari tempat itu. Ia cukup malas untuk berdebat.
Dia merasa akan tetap kalah. Lebih baik menghindar dari pada sakit hati sendiri.
"Angel…Angel…tunggu…!" Panggil Alexander sembari berlari menyusul Angel yang melangkah secepat yang gadis itu bisa.
Angel tidak peduli akan panggil itu. Ia terus melangkah pergi. Tapi kembali ia mengingat jika dia belum memiliki ruangan lainnya.
Akhirnya dia pun menghentikan langkahnya, dan membalik tubuhnya untuk menghadap ke arah Alexander yang mengejarnya dari arah belakang.
"Di mana ruangan lainnya?" Tanya Angel masih terlihat kesal.
"Tidak ada ruangan kosong lagi di istana. Semuanya sudah terisi."
"Bohong…!"
"Benar. Tanyakan saja kepada Felix."
"Saya tidak akan percaya."
"Kalau begitu, biar saya pulang saja ke rumah."
"Tidak bisa seperti itu."
"Kenapa tidak bisa?"
"Aturan yang sudah di tetapkan. Kamu harus tetap mengikutinya. Tinggal satu bulan penuh di istana ini."
"Tidak mau…!" Kesalnya semakin meningkat.
"Angel, jangan mempersulit dirimu sendiri. Lagi pula ini semua demi keamanan mu untuk sementara waktu."
"Bukankah tadi kamu katakan, jika kemarin sedang di buru oleh pembunuh bayaran. Tidak menutup kemungkinan kalau mereka masih mengincar mu saat ini."
Angel terdiam sejenak. Apa yang Alexander katakan benar. Kemarin masih untung dia bisa selamat. Tapi belum tentu di waktu lainnya. Dia harus menemukan dalang atau tuan yang menyewa mereka terlebih dahulu, agar hidupnya aman terkendali di luaran sana.
"Ayolah Angel…!"
"Saya akan tidur di kamar pelayan, itu tidak apa apa."
"Mana bisa seperti itu? Ingat kamu itu calon permaisuri kerajaan ini, apa jadinya kalau seorang calon permaisuri tidur di kamar pelayan?"
Angel menekuk wajahnya, antara kesal, kecewa, dan sedih secara bersamaan.
"Tapi itu tidak nyaman untuk saya."
"Kita bisa belajar perlahan untuk mencari kenyamanan itu. Ayolah Angel…aku tidak akan berbuat yang akan merugikan dirimu. Hanya berbagi kamar dan tempat tidur saja. Bukankah kita harus mulai saling mengenal dan menjadi dekat." Kata Alexander ingin Angel luluh.
Angel terdiam sejenak.
"Aku berjanji, tidak akan macam macam yang dapat merugikan dirimu. Ingat janji seorang kaisar adalah harga dirinya." Jelas Alexander masih ingin bersama dengan Angel.
Angel masih berpikir, apakah itu akan baik baik saja? Apakah harus mereka berbagi kamar dan satu tempat tidur.
"Istana ini begitu luas dan besar. Mengapa satu kamar kosong saja tidak ada. Istana macam apa ini?" Gerutu Angel sembari melangkah kembali.
Diam diam Alexander tersenyum senang. Dia tahu Angel tidak ada pilihan lain lagi, selain tidur bersamanya di satu kamar dan berbagi ranjang dengannya.
Felix, Leonardo, dan Marquez yang melihat sikap kaisar mereka seperti itu, hanya bisa menggelengkan kepalanya heran melihat perubahan dari sang kaisar tirani. Seorang kaisar yang sedang berusaha menaklukkan gadis di depannya, calon permaisurinya.
Mereka hanya bisa mendukung saja. Apa yang terbaik untuk kaisar mereka.
Pada akhirnya Angel yang kalah dan tetap tinggal pada ruang pribadi kaisar. Mereka benar-benar berbagi satu kamar dan ranjang. Hanya saja Alexander menepati janjinya, membatasi diri dengan hal-hal yang bersifat pribadi Angel.
__ADS_1
Makan malam bersama. Sebelum tidur, mereka memiliki waktu senggang untuk membaca buku sembari menikmati teh hangat di malam hari. Mereka melakukan hal itu bersama-sama. Tentunya yang di untungkan adalah Alexander.
Hidupnya bahagia satu hari ini. Bersama dengan Angel seharian penuh adalah hal yang memang ia inginkan. Untuk menjadi dekat dan saling mengenal, bukankah tetap bersama adalah salah satu caranya. Itulah cara yang akan Alexander gunakan untuk menaklukkan Angel secara perlahan.
"Apa kamu suka bukunya?" Tanya Alexander di sela sela mereka membaca buku.
"Suka. Buku ini lumayan bagus untuk mengisi waktu. Ceritanya cukup bagus, dan saya suka alur dari cerita ini. Ringan tetapi membuat orang merasa penasaran ingin terus membacanya." Balas Angel melirik sejenak ke arah Alexander di sela-sela dirinya membaca buku.
"Kalau kamu mau, akan aku bawakan buku sejenis itu. Itu salah satu novel yang terkenal di kerajaan ini."
"Pengarangnya adalah salah satu keluarga bangsawan di kerajaan ini. Tetapi sayangnya dia sudah meninggal dunia."
Angel melihatnya sejenak, kemudian kembali lagi pada bacaannya.
Sedangkan Alexander tidak benar-benar membaca bukunya, yang dia lakukan hanyalah memandang wajah cantik gadis yang ada di hadapannya itu.
"Apa anda tidak bosan terus menerus memandang saya." Ucap Angel sebenarnya tahu, jika Alexander terus memandangnya sejak tadi.
"Karena kamu tidak bosan untuk di pandang." Jujurnya.
Angel memutar matanya jengah akan perkataan gombal Alexander.
"Sebaiknya saya istirahat lebih awal." Kata Angel ingin menghindari Alexander. Ia pun bangkit dan meletakkan bukunya ke atas meja.
Alexander melakukan hal yang sama. Mengikuti Angel dari arah belakang. Beberapa langkah Angel membalik tubuhnya kembali, karena tahu Alexander mengikutinya.
"Apa anda juga akan ikut tidur lebih awal?" Tanya Angel sembari melipat kedua lengannya di depan dada melihat tajam ke arah Alexander.
"Memangnya tidak boleh."
"Apa anda tidak memiliki kepentingan yang lainnya? Selain mengikuti kemana saya pergi."
"Kebetulan hari ini tidak ada. Jadi tidak ada salahnya bukan menemani calon permaisuri ku." Alexander memiliki banyak jawaban untuk semua pertanyaan Angel.
Angel menghembuskan nafasnya yang terasa berat akan rasa kesalnya sekarang. Dia tahu pria di depannya tidak akan mengalah padanya.
"Sebaiknya aku istirahat lebih awal. Itu baik bukan untuk kesehatan tubuh kita. Ayo, kita tidur…!" Ajak Alexander yang melangkah lebih dulu ke arah ranjang dan naik ke atasnya.
Lagi lagi Angel menghembuskan nafasnya secara perlahan. Dia melangkah menuju ranjang dan naik bersiap untuk tidur.
Mereka benar-benar berbagi satu ranjang di dalam selimut yang sama. Angel hanya bersikap biasa saja, dan mulai memejamkan matanya agar cepat tertidur.
"Apakah tidak ada ucapan selamat malam atau selamat tidur untuk ku, Angel…??" Tanya Alexander tidur menghadap ke arah Angel.
"Selamat malam yang mulia, semoga bermimpi dengan indah malam ini."
"Tentu saja mimpi ku akan indah malam ini, karena ada kamu di sampingku. Selamat malam Angel." Balas Alexander sedikit gombal.
Angel terus memejamkan matanya. Berusaha tidur untuk menjemput indahnya mimpi, dari pada harus terus menemani Alexander yang terus berbicara.
Angel hari ini begitu lelah. Dia pun tertidur dengan cepat dan lelap. Terdengar dari suara nafasnya yang teratur dan halus.
Alexander mendekati tubuh Angel dan segera memeluknya sembari membenarkan selimut untuk mereka berdua. Tidak lupa Alexander memberikan sebuah ciuman panjang pada kening Angel, dan pagutan ringan pada bibir merah gadisnya.
Kebiasaan baru untuk Alexander setiap malamnya. Pria itu menikmati kebersamaan mereka dan juga ciuman yang ia curi dari gadisnya. Alexander mengeratkan pelukkan mereka. Keduanya tidur bersama saling memeluk, mencari keamanan dan kehangatan malam ini.
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bersambung ke episode selanjutnya…
...Sekian dan terima kasih 🙏🙏🙏 mohon saran dan komennya ya....
Jangan lupa vote dan like nya.
__ADS_1