
Disebuah desa yang sangatlah terpencil karena letaknya berada dibelakang pegunungan yang sangat jauh dari perkotaan,desa itu memiliki cirikhasnya tersendiri, karena desa itu dikelilingi oleh sungai yang mengalir dengan air yang sangat jernih, serta batu batuan kecil yang berada disekitaran sungai menjadi pemandangan saat kita akan memasuki desa itu.
Desa yang tadinya sangatlah tenteram dan makmur, serta rakyat rakyatnya yang banyak dengan rasa persaudaraan yang erat, serta jiwa saling bahu membahu sangat kental didesa itu membuat sebagian penduduk desa lain rela pindah meninggalkan desanya untuk menetap didesa itu.
Sampai suatu malam, desa itu tiba tiba dilanda hujan yang sangatlah lebat dengan gemuruh petir yang menyambar keseluruh rumah rumah yang ada didesa itu,dan goncangan angin yang sangat dahsyat membuat rumah rumah porak poranda.
Setelah kejadian itu, hampir semua penduduk pergi meninggalkan desa itu, membuat desa itu sepi seperti desa yang sudah tak berpenghuni.
Setiap menjelang malam tiba, desa itu akan selalu dituruni hujan,dan sungai yang mengelilinginya airnya akan naik dan menggenang keseluruh desa.
"Aku akan segera berhasil mewujudkannya, hahaha..." Teriak kencang seseorang sambil tertawa senang, karena sebentar lagi tujuannya akan segera tercapai.
Sore ini Xieyu dan ketiga kawanya sudah sampai dihutan mereka berhenti sejenak untuk menghilangkan rasa lelah mereka. "Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan kita,karena hari sebentar lagi sudah malam, didepan sana ada akademi milik ayahku, kita bisa menginap disana," ucap Lie Jan.
"Kau benar,ayo segera berangkat," imbuh Kexing kemudian mereka berempat langsung bangkit dari duduknya masing masing dan segera pergi keluar hutan keakademi roh bintang milik Lie Jan.
Saat dipertengahan perjalanan Xieyu mengepalkan tangannya meremas bajunya untuk menahan rasa sakit karena luka didada dan punggungnya yang semakin parah yang tidak segera ia obat.
"Xieyu kenapa wajahmu pucat sekali? " tanya Shan khawatir.
"Mungkin karena efek obat," jawab Xieyu cepat sambil mempercepat langkahnya agar terlihat bahwa dirinya baik baik saja.
"Kau ini kenapa lemah sekali! cuma gara gara dosis obat kau langsung sakit, dasar lemah!" ucap Kexing enteng,yang sama sekali tidak ditanggapi oleh Xieyu.
"Seharusnya kau itu, berterima kasih dengan Xieyu,karena telah berusaha membangunkan kita agar bisa segera pergi dari hutan itu! " hardik Shan yang tidak terima melihat Xieyu yang diam saja saat dihina oleh Kexing.
"Kalau aku yang sadar, pastilah aku yang akan membunuh mereka semua dengan satu tanganku, bukan seperti dia yang tidak bisa berbuat apa apa, ck pecundang!" hina Kexing lagi sambil memandang remeh kearah Xieyu yang ada dibelakangnya.
__ADS_1
"Kau! " ucapan Shan berhenti saat Xieyu yang langsung menarik pergelangan tanganya.
Sifat Lie Jan yang terbilang lumayan irit bicara karena Lie Jan malas meladeni pertengkaran antara Shan dan Kexing,Lie Jan lebih memilih bersikap netral tidak membela siapapun agar tidak dibenci orang lain,membuatnya hanya bisa melerai atau lebih memilih untuk diam saja.
Setelah malam tiba dengan keindahan bulan yang bersinar terang, serta gemerlap bintang malam yang bertaburan dilangit membuat takjub orang yang melihatnya,dikedingan angin malam, mereka berempat tetap melanjutkan perjalanan mereka dengan sisa energi mereka.
Saat sampai di gerbang belakang akademi, mereka berempat langsung membuka gerbang dan masuk kedalaman, saat mereka masuk, mereka berempat memutuskan untuk langsung pergi kearah kamar Lie Jan dan beristirahat.
"Tunggu!" kata Xieyu ,menghentikan langkah kaki mereka bertiga.
"Segera masuk kedalam," ucap Xieyu langsung berlari kearah salah satu bangunan yang ada disamping mereka.
Mereka bertiga langsung berlari mengikuti Xieyu untuk masuk kedalam. "Ada apa?" tanya Lie Jan pada Xieyu yang masih mengintip keadaan diluar dari celah pintu masuk.
"Lihatlah!" kata Xieyu, Lie Jan langsung mengintip kearah luar, matanya melebar sempurna saat melihat segerombolan orang bertopeng dengan jubah berwarna hitam semua,Lie Jan kembali teringat dengan kejadian yang sangat menyedihkan didalam hidupnya.mereka semua adalah bawahan ratu dunia roh yang telah menghancurkan akademi Roh Bintang milik ayahnya.
"Siapa? " tanya Kexing yang juga penasaran.
Lie Jan langsung menutup kembali celah pintu itu, dan berjalan untuk duduk disalah satu kursi yang ada diruangan itu. "Mereka adalah bawahan ratu dunia roh yang sudah menghancurkan akademi Roh Bintang," kata Lie Jan sambil menunduk, Lie Jan kembali sedih teringat akan kejadian dimana kedua orang tuanya mati dibunuh tepat didepan matanya.
"Bersabarlah,kau pasti bisa membalaskan dendammu," imbuh Shan sambil mengelus pundak Lie Jan untuk menenangkannya.
"Kita bunuh mereka saja sekarang! kita balaskan dendamu!" sahut Kexing mantap.
"Dendam selamanya tidak akan pernah baik bagi kehidupan kita, dendam hanya akan membuat diri kita terjerat dengan segala hawa ***** yang bisa membuat kita menyeleweng dari ajaran kebenaran, karena sesungguhnya membalaskan dendam yang terbaik adalah dengan menyadarkanya bukan membunuhnya," ucap Xieyu yang tengah duduk dikursi depan Lie Jan.
"Uwwahh...Diantara kita berempat kaulah yang paling muda, tapi menurutku kaulah yang paling dewasa Xieyu," puji Shan pada Xieyu.
__ADS_1
"Kau itu hanyalah pecundang, makanya kau mengatakan semua itu, jika kau seorang lelaki sejati, pasti kau akan membalaskan dendam kepada orang yang berbuat jahat padamu! " sahut Kexing dengan gaya angkuhnya.
"Sudahlah,tujuanku saat ini hanyalah untuk menjadi kuat," kata Lie Jan.
"Baiklah jika kalian tidak mau membalas dendam, maka aku akan membantu membalaskan dendammu saat ini juga!" Setelah mengatakannya Kexing langsung berlari keluar mencari gerombolan bertopeng.
"Kau! dasar gegabah! " teriak Shan panik.
"Kita harus bagaimana sekarang, jika kita ikut keluar maka habislah kita, kita pasti akan mati ditangan para bawahan ratu dunia roh, " Lie Jan berjalan mondar mandir bingung harus bagaimana, tidak mungkin mereka bertiga hanya diam didalam ruangan itu dan membiarkan Kexing mati ditangan para gerombolan bertopeng itu.
Xieyu langsung berdiri dari duduknya. " Kalian berdua tetaplah disini,aku akan menyusulnya," kata Xieyu yang langsung dijawab dengan gelengan kepala Shan tanda tidak setuju dengan ide yang Xieyu berikan.
"Tidak! itu akan sangat berbahaya,kita berdua harus ikut bersamamu!" imbuh Shan.
"Jika kalian ikut bersamaku, maka siapa yang akan selamat dari gerombolan bertopeng itu, siapa yang akan pergi meminta bantuan pada guru?" kata Xieyu dengan serius.
"Tapi! " ucap Shan.
"Sudahlah waktu kita tidaklah banyak, aku harus segera menyelamatkannya, jika hingga pagi aku belum juga kembali kesini,maka kalian harus segera pergi dari sini, dan melapor pada guru, " kata Xieyu lalu langsung berjalan pergi mencari keberadaan Kexing.
"Semoga dewa melindungi mereka berdua, agar kita bisa pergi bersama sama kedesa sungai untuk menyelesaikan misi yang guru berikan kepada kita berempat," ucap Lie Jan sambil menatap keatas.
Janga lupa like and komen
Biar author tambah semangat upnya setiap hari...
ingat!!! jangan menjadibpenbaca bayangan!!!
__ADS_1