
“Bere (red: Keponakan), makanlah terlebih dahulu.” Ujar Ucok
“Terima kasih tulang (red:paman).”jawab Marsel
Marsel menyantap mie gomak itu dengan lahap. Dia memang sudah sangat kelaparan karena perjalanan panjang yang dia lalui di dalam hutan terlarang.
“Marsel, apa yang ada di tangan kirimu itu?”tanya Ucok penasaran
“Owh.. tadi aku jalan-jalan bersama teman ke Tomok tulang. Aku melihat ada cincin yang sangat bagus. Jadi aku membeli cincin ini untuk kenang-kenangan’ujar Marsel berbohong
“Owhh.. ya sudah. Apakah tugas kampusmu sudah kamu kerjakan?”tanya Ucok
“Sudah tulang.”
“Kalau begitu, istrahatlah bere. Tulang kembali bertugas lagi ya.”
“Hati-hati tulang.”
Ucok meninggalkan rumah itu dan membiarkan Marsel beristirahat. Kediaman Marsel adalah kediaman yang sangat sederhana. Dia dibesarkan dengan cara sederhana. Setiap hari kedua orang tuanya tinggal di kediaman sederhana ini. Kedua orang tuanya mendidik Marsel untuk hidup sederhana dan tidak sombong.
Di umur 18 tahun nanti, kedua orang tuanya berencana membawanya ke villa mewah mereka dan mengenalkan semua bisnis milik orang tuanya kepada Marsel. Namun saat Marsel berumur sepuluh tahun, dia kehilangan kedua orangtuanya yang meninggal karena kecelakaan pesawat. Sebagai anak yang telah dididik sederhana, Marsel diasuh Ucok sebagai anaknya sendiri. Jadi Ucok telah merawat Marsel seperti anaknya sendiri selama tujuh tahun ini.
Marsel segera berbicara dengan sistem di dalam pikirannya.
“Clever, apa yang harus kulakukan untuk semua kekayaan ini?”tanya Marsel
“Menurut saya, tuan belikan mereka alat-alat pertanian agar mereka dapat mengolah hasil pertanian mereka dengan baik.”jawab Clever di dalam pikirannya
“Usulan yang sangat bagus. Besok aku akan ajak teman-temanku untuk menemui para petani. Clever, aku tidur dulu ya. Aku sudah lelah.”
Kemudian Marsel tidur dengan lelap begitu dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidurnya.
Keesokan harinya, Marsel datang ke sekolah seperti biasa. Marsel menyampaikan keinginannya kepada Dapot dan Butet.
“Dapot, Butet, nanti aku mau ke Palipi. Aku mau bertemu dengan para petani. Apa kalian mau ikut?”tanya Marsel kepada mereka berdua setelah pelajaran Matematika lanjutan berakhir.
“Aku tidak bisa ikut. Aku ada kegiatan bersama keluargaku.”ujar Butet
__ADS_1
“Aku juga tidak bisa ikut Sel. Aku harus menemani bapakku menyambut turis yang datang dari Jerman.”ujar Dapot
“Baiklah. Aku pergi saja sendiri.”
Sepulang sekolah, Marsel pergi ke daerah Palipi. Sewaktu sarapan, Marsel sudah menyampaikan kepada pamannya bahwa dia akan pergi ke Palipi untuk bertemu dengan tulang Nathan , adik kandung Ucok.
“Ya sudah hati-hati ya bere.” ujar Ucok memberi nasehat
“Baik tulang”
Ucok memberi uang yang cukup untuk perjalanan Marsel menuju ke Palipi.
Marsel menempuh perjalanan melalui kapal selama satu jam dan setelah itu dia naik ojek motor ke rumah tulang James.
“Hallo tulang. Apa kabar?” ujar Marsel menyapa seorang paruh baya yang sedang menanam padi
“Ah.. kau ternyata Marsel. Ada keperluan apa dirimu datang kemari?”tanya Nathan kepada Marsel
“Aku mau jalan-jalan aja tulang. Si Tiur dimana tulang?”tanya Marsel mencari putri tunggal tulangnya
“Ah.. langsung si Tiur nya yang kau cari, bukan tulangmu ini.” ujar Nathan bercanda
“Ha..ha..ha.. kau ini belajarlah baik-baik. Kalau kau sudah sukses, paman baru izinkan kau pacaran dengan paribanmu (red:keponakan) itu.”
“Ah tulang ini gak asyik. Kan gak apa –apa aku dekat dari sekarang dengan si Tiur.”
“Iya..iya.. aku tahu nak. Jadi kamu hanya mencari si Tiur aja datang jauh-jauh kemarin? “tanya James
“Bukan hanya itu saja kok tulang. Gimana penghasilan dari menanam padi selama ini tulang?”tanya Marsel berdiri di pinggir sawah sembari melihat tulangnya menanam satu per satu bibit padi
‘Ah.. begitulah bere. Curah hujan memang bagus. Namun saat panen, paman harus menyewa mahal mesin penyabit padi . Selain itu, tulang tidak punya mesin pengolah padi. Seandainya padi-padi itu diolah menjadi beras, pasti harga beras tulang akan terjual mahal.”curhat Nathan
“Kalau aku membantu tulang dan penduduk disini untuk menyediakan mesin penyabit padi dan mesin pengolah padi dan , apakah tulang bersedia?”tanya Marsel
“Ah.. serius kau bere?”
__ADS_1
“Aku serius tulang. Tapi aku ingin bertanya gimana rencana tulang agar semua penduduk mendapatkan manfaat yang sama, namun jua tulang bisa mendapat keuntungan karena menyediakan mesin itu bagi mereka.”tanya Marsel
“Bagaimana kalau begini bere. Tulang akan mendirikan koperasi simpan pinjam Mars, lalu kalau bere ada dana, bere berinvestasilah di koperasi itu. Lalu setiap petani yang mau menggunakan kedua mesin itu, harus membayar uang sewa 20 persen dari total hasil penghasilan mereka.”
“Usul yang bagus tulang. “
“Kalau begitu berapa yang Ucok akan berikan untuk investasi di koperasi nanti bere?”tanya Nathan
“Bukan tulang Ucok yang mau investasi tetapi saya sendiri.”ujar Marsel
“Ah kau bercanda lah bere. Kau kan belum bekerja. Bagaimana caranya kau berinvestasi? Setidaknya kau harus memiliki uang sebesar 1 miliar rupiah untuk modal awal. Tulang gak yakin kau memiliki uang yang sebanyak itu.”ujar Nathan
“Apakah ini cukup tulang?”tanya Marsel sembari mengeluarkan dari jaketnya kekayaan yang dia peroleh dari hutan keramat kemarin
Nathan sangat terkejut melihat isi kantong yang Marsel berikan. Di dalamnya terdapat berbagai perhiasan yang jikalau ditukar, nilainya ditaksir mencapai satu miliar rupiah.
“Dari mana kau mendapat harta sebanyak ini bere?”tanya Nathan penasaran
“Tolong rahasiakan ini dari tulang Ucok ya. Aku kemarin ke hutan keramat. Aku ke hutan itu karena aku melihat ada suatu sinar terang yang berasal dari hutan itu. Aku berjalan munuju sinar itu dan setelah sampai di sana, aku menemukan tengkorak manusia dan harta ini di samping tengkorak itu.”ujar Marsel menjelaskan dengan polos
Nathan tidak bertanya lebih jauh lagi. James tahu bahwa hutan keramat menyimpan banyak misteri. Nathan memang belum pernah masuk ke dalam hutan itu. Tetapi dia mendengar memang dahulu kala dari cerita oppung (red:kakek) dari ayahnya bahwa pernah ada orang kaya yang melarikan diri dari pengejaran tentara Jepang dan masuk ke dalam hutan itu
“Mungkin harta ini milik orang kaya yang melarikan diri itu. Ah sebaiknya aku tidak bertanya lebih lanjut lagi. Yang penting sekarang aku memiliki uang untuk mendirikan koperasi, membeli mesin penyabit padi dan mesin pengolah padi; itu lah yang paling penting sekarang.”batin Nathan senang
“Terima kasih ya bere. Tulang jadi bersemangat sekarang. Ayo kita ke rumah.”ujar Nathan sembari keluar dari dalam sawah dan meninggalkan bibit padinya di dalam sawah
Setelah membersihkan dirinya, Nathan dan Marsel berjalan ke arah pegunungan. Rumah Nathan hanya berjarak lima ratus meter dar i lokasi sawah itu.
“Ayah.. kenapa sudah pulang? Tiur baru saja mau membawa bekal untuk makan siang ayah.”ujar gadis manis itu kepada ayahnya
“Ka..kamu Marsel kan?”tanya Niur
“Hallo pariban . Apa kabar?”tanya Marsel
__ADS_1
“Ih… gak sudi aku menjadi paribanmu. Sadar dirilah. Kamu itu sudah miskin, jelek, pendek, bukan levelku.”ujar Niur merendahkan Marsel.