Eleena Sora

Eleena Sora
04:27


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“P—Papa ... “


Eleena langsung berlari saat membuka pintu ruangan papa nya, dan melihat laki laki paruh baya itu sudah terbaring tak berdaya dengan di sertai beberapa alat yang sudah terpasang di tubuh nya.


Hati Eleena benar benar hancur, se hancur hancur nya. Tangis nya semakin pecah, tatkala melihat cinta pertama nya itu mulai membuka mata saat mendengar suara nya.


Di dalam ruangan itu, ada satu orang teman pak Brata dan Dokter juga suster yang seperti nya sedang mengecek kondisi pak Brata.


Namun, Eleena mengabaikan nya dan langsung berlari untuk memeluk sang ayah dengan begitu erat.


“Hiks hiks hiks kenapa Papa bisa begini? Kenapa—“


“Eleena, kamu sudah besar. Tugas Papa untuk merawat kamu sudah usai, sekarang kamu janji sama Papa, bahwa kamu akan hidup dengan bahagia bersama suami kamu. Uhukkk hukkk uhukkk!”


“Pa!” seru Eleena saat melihat papa nya kembali terbatuk.


Keadaan pak Brata benar ebnar sudah sangat memperihatinkan. Hanya dalam waktu yang sangat singkat, pagi tadi pak Brata masih terlihat begtiu sehat, bahkan sempat bercanda dengan nya.


Tapi, tidak sampai dua puluh empat jam, kini keadaan pak Brata sudah cukup kritis. Bahkan, kemungkinan bertahan hanya beberapa persen saja.


“Ele, ingat pesan Papa?” Pak Brata menatap lekat mata putri nya, air mata nya juga sudah tak kuasa untuk ia bendung, membuat dadanya kian terasa begitu sesak.

__ADS_1


“Papa gak boleh ngomong gitu, Ele gak suka dan Ele gak mau! Jangan tinggalin Ele, Pa. Ele mohon, hiks hiks.”


“Jangan nangis, malu sama suami kamu,” gumam pak Brata begitu lirih, “Y—Yusuf ... “ Tangan sebelah nya lagi terulur seolah menyuruh Yusuf agar mendekat ke sebelah nya.


“Bagaimana keadaan Papa?” tanya Yusuf yang kini sudah berada di sebelah kiri pak Brata, sedangkan Eleena di sebelah kanan.


Bukan menjawab, pak Brata justru malah tersenyum kepada Yusuf, membuat mata laki laki itu tanpa sadar ikut berkaca kaca.


Namun, dengan segera Yusuf membalas senyuman itu sambil sesekali mengadahkan kepala nya ke atas agar air mata nya tidak ikut jatuh.


“T—tolong jaga putri Papa. Tugas Papa sekarang menjadi tugas kamu—“ ucap pak Brata sambil menggenggam tangan menantu nya.


“Insyaallah Pa, Yusuf akan melaksanakan tugas Papa dengan sebaik mungkin,” jawab Yusuf berusaha meyakinkan papa mertua nya.


Pak Brata tersenyum dan menganggukkan kepala nya. Ia merasa bahwa kini tugas nya sudah benar benar usai, di sisi nya ia kembali melirik ke arah Eleena yang terus memeluk nya dengan begitu erat.


“Enggak! Papa gak boleh gitu, Papa harus bertahan. Ele yakin Papa kuat, Ele mohon Papa harus kuat, Papa bertahan Pa, hiks hiks. Mass!” Eleena langsung mengangkat wajah nya dan menatap suaminya sambil menggelengkan kepala.


Eleena tau akan arti dan maksud dari perkataan ayah nya. Dan tentu saja, Eleena tidak rela jika harus melepaskan ayah nya begitu secepat itu.


Ia masih belum bisa menjadi yang terbaik untuk ayah nya. Dan sekarang ayah nya kan pergi, tidak. Eleena tidak akan bisa menerima nya.


Akan tetapi, Yusuf mengabaikan tatapan dan permintaan Eleena. Laki aki itu segera menarik napas nya panjang, sebelum akhirnya ia membungkukkan tubuh nya sedikit dengan posisi wajah nya tepat di samping telinga pak Brata dan membimbing nya dengan syahadat.

__ADS_1


“Asyhadu an laa ilaha illallah,”


“Asyhadu an—laa i—laha i—llallah ... “


“Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah.”


“Wa—asyhadu an—na m—muhammadar r—rasulullah.”


Dan seketika itu juga, mata pak Brata langsung tertutup, bersamaan dengan tangan yang semula mengusap kepala Eleena kini terjatuh lemas seolah tak bertulang.


Yusuf berusaha melepaskan pelukan Eleena kepada Pak Brata, agar dokter bisa memeriksa kondisi pak Brata. Namun, Eleena terus memberontak dan menolak tetap memeluk sang ayah.


"Waktu kematian 04:27, karena kanker paru paru stadium akhir. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi Tuhan sudah berkehendak. Kami turut berduka cita," ujar Dokter dengan berat hati sambil menundukkan kepala nya.


"Innalillahi wainnailaihi rojiun." Yusuf langsung memejamkan mata nya sambil menarik napas panjang.


“Papaaaaaa!” Eleena langsung berteriak dengan begitu histeris.


Namun dengan cepat, Yusuf segera menariknya dan memeluk Eleena dengan erat.


“Enggak Mas, gak mau! Aku mau sama Papa, aku mau sama Papa! Papa gak boleh tinggalin Ele, Papa bangun Pa, jangan tinggalin Ele! Pa—“


Brukkk!

__ADS_1


“Astagfirullah!” pekik Yusuf yang langsung mengangkat tubuh istri nya dan membawa nya ke ruang penanganan.


...~To be continue ......


__ADS_2