
...~Happy Reading~...
“Papa ... sebentar lagi, Ele akan melahirkan. Andai saja Papa masih ada, pasti Papa akan seneng banget,”
Eleena mendudukkan dirinya di tempat tidur sambil bersandar pada head bord. Tangan lentik nya menggenggam dan mengusap lembut pada bingkai kaca yang berisi foto sang ayah yang sudah tiada.
Hatinya masih sesak, dan air matanya masih terasa begitu deras mengalir saat mengingat kenyataan bahwa ayah nya sudah tidak ada.
Sesakit itu, kini dirinya seorang diri. Tanpa ibu, apalagi ayah.
Setelah beberapa saat, Eleena bangkit, ia meletakkan foto itu di atas meja samping tempat tidur nya. Berjalan dengan langkah guntai, ia pun mulai memasuki walk in closed.
Dulu, di sana begitu penuh dengan pakaian sang ayah. Tapi kini, sudah berganti dengan pakaian nya dan Yusuf. Akan tetapi, ia masi menyisakan satu rak untuk pakaian ayah nya yang masih ia simpan.
Di saat Eleena merindukan ayah nya, Eleena kerap meminta bantuan Yusuf agar mengambilkan satu baju pak Brata untuk ia peluk. Namun, kini Yusuf tidak ada, Jadilah Eleena mengambil nya sendiri.
__ADS_1
“Ini apa?” gumam nya saat membuka lemari pakaian pak Brata dan menemukan sebuah kotak, “Brangkas? Kok aku gak tahu?”
Ya, itu adalah brangkas milik pak Brata. Akan tetapi, itu terkunci, “Mas Yusuf naruh uang disini? Tapi di sana juga ada brangkas. Dia gak mungkin nyembunyiin uang lain kan? Tapi—“
Eleena begitu penasaran, dan berbagai pikiran negatif mulai memenuhi isi kepala nya lagi. Yusuf dan Eleena sudah memiliki sebuah brangkas untuk menyimpan beberapa uang tunai, akan tetapi tempat itu mereka letakkan di dalam ruang kerja Yusuf.
Lantas, mengapa di dalam kamar nya juga masih ada? Tanpa sepengetahuan dirinya, pula.
Apa iya, Yusuf diam diam menyembunyikan uang pribadi dari Eleena. Tapi untuk apa? Dirinya bukan orang yang pelit, kenapa harus bersembunyi, pikir Eleena.
Karena penasaran dengan apa yang di sembunyikan oleh Yusuf, akhirnya Eleena memutuskan untuk mencari kunci di dalam ruang kerja suami nya.
Dan tak membutuhkan waktu lama, Eleena sudah menemukan kunci itu. Ia segera membuka nya, dan ternyata memang benar bahwa kunci yang sempat ia tanyakan adalah kunci brankas tersebut.
Sebenarnya, Yusuf sendiri belum ada kesempatan untuk membuka brangkas tersebut. Dan ia belum melihat apa isi di dalam nya. Pak Brata pernah mengatakan bahwa jangan sampai Eleena yang membuka brangkas itu. Tapi, nyatanya kini justru Eleena lah yang membuka pertama kalinya.
__ADS_1
Sesibuk itu Yusuf selama ini, karena harus mengurus dua perusahaan di kota yang berbeda sekaligus, juga mengurus istrinya. Jadilah, ia tidak memiliki waktu untuk mengingat hal yang menurut nya kurang penting.
Sama seperti Eleena, Yusuf juga mengira bahwa isi di dalam brangkas itu hanya sejumlah uang atau beberapa surat berharga. Tapi, siapa sangka bahwa isi brangkas itu adalah sebuah hal yang sama sekali tidak pernah di duga.
Brukk!
Tubuh Eleena langsung lunglai dan terjatuh di lantai. Kaki nya terasa begitu lemas, jantung nya berdetak dengan sangat cepat kala melihat isi dari brankas tersebut.
Eleena mengira bahwa isi dari brankas itu adalah sejumlah uang, benda berharga lain. Akan tetapi ia salah, salah besar.
‘Astagfirullah ... ‘
Air mata Eleena kembali menetes membasahi pipi nya. Hatinya kini benar benar sesak, bayangan demi bayangan yang sudah ia coba untuk lupakan, kini seolah berputar di kepala nya, membuat nya semakin terisak.
‘Ada hubungan apa mereka?’ gumam Elena pelan dengan berderai air mata.
__ADS_1
...~To be continue .......