
...~Happy Reading~...
Waktu berlalu, kini Eleena sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Beruntung, Rejeki masih berpihak kepada Yusuf dan Eleena, sehingga janin yang ada di kandungan Eleena masih bisa di pertahankan.
Mungkin, bisa saja Dokter melakukan operasi saat ini. Hanya saja, karena tekanan darah Eleena yang cukup tinggi, membuat operasi sangat beresiko untuk di lakukan. Kendati begitu, keadaan Eleena juga semakin stabil sehingga Dokter tidak perlu memaksa bayi itu untuk keluar saat ini.
Masih ada beberapa minggu lagi menuju persalinan, yang di harapkan oleh Eleena yakni Normal.
Eughhhh!
Yusuf segera mendekati istrinya saat mendengar suara lenguhann dari Eleena. Laki laki itu duduk di kursi samping brankar dengan tangan yang terus menggenggam tangan Eleena.
Kini, di ruangan itu hanya ada Yusuf yang menunggu. Sedangkan yang lain menunggu di luar. Abi Mike, umma Chila, mama Rasti, bahkan Catherine dan Bagus juga ada di sana menunggu kabar baik dari Eleena.
“Sayang,”
Eleena yang hendak membuka mata, saat mendengar suara suami nya, ia memilih untuk memejamkan nya lagi. Menarik napas yang cukup panjang, lalu ia memiringkan wajah nya ke samping untuk menghindari Yusuf.
Tanpa sadar, air matanya kembali menetes kala mengingat bayangan demi bayangan beberapa saat yang lalu dimana pertengkaran hebat antara dirinya dan Yusuf yang membuat hatinya begitu terluka.
“Auuwhhh!”
Eleena semakin mengeratkan cengkraman tangan nya pada lengan Yusuf kala ia kembali merasakan kram di bagian perut nya. Seperti itu jika dirinya terlalu banyak berfikir maka janin di dalam kandungan nya seolah merespon dan langsung membuat nya sakit.
“Sayang, aku panggilkan dokter ya!” Yusuf segera berdiri dan menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
__ADS_1
Ia tidak memaksa Eleena untuk membuka mata dan menatap ke arah nya. Melihat istrinya sudah sadar, ia pun sudah merasa lega dan bersyukur.
“Hiks hiks hiks... “ Mendengar suara isak tangis dari Eleena, lagi lagi membuat dada Yusuf kian terasa sesak.
“Ssttttt, tenangkan diri kamu Sayang. Ingat ada baby disini, jangan terlalu berat. Jangan pikirkan apapun, ikhlas dan percayakan semua kepada-Nya. Aku mohon, ini semua tidak seperti yang kamu pikirkan. Kamu harus yakini itu, aku mohon,” pinta Yusuf sedikit berbisik di telinga Eleena hingga membuat tangisan wanita itu semakin pecah.
Tak lama, Dokter pun datang dan segera memeriksa Eleena. Semuanya baik dan normal hanya saja pikiran Eleena yang sedikit tertekan membuat nya sering merasakan kontraksi atau kram.
“Tolong jangan terlalu di tekan. Ibu hamil harus bahagia, jangan pikirkan apapun yang sekiranya membuat sakit. Karena itu akan berdampak besar pada kandungan istri anda.” Ucap Dokter sebelum pergi yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Yusuf.
“Kamu dengar kan?” tanya Yusuf lagi seraya berbisik di telinga Eleena.
Yusuf melepaskan tangan Eleena dari lengan nya. Ia berjalan pergi menuju pintu, Eleena sedikit kecewa karena merasa akan di tinggal kembali oleh Yusuf. Hatinya begitu sakit, saat dirinya sedang marah justru akan di tinggal.
Seperti yang ia katakan beberapa saat lalu, semarah apapun dan se kecewa apapun ia pada Yusuf. Dirinya tidak akan bisa membenci laki laki itu. Tapi hatinya akan sangat terluka dan semakin terluka jika sampai benar Yusuf meninggalkan nya.
Pemikiran Eleena salah. Yusuf hanya berjalan ke pintu untuk mengunci nya, laki laki itu segera berbalik dan kembali menghampiri Eleena saat sudah mengunci pintu.
Namun, entah mengapa kini justru merasa sedikit takut saat melihat laki laki itu berjalan sambil tersenyum ke arah nya. Rasa kecewa dan marah pada Yusuf yang tadi begitu menggebu, seolah lenyap hanya dengan melihat senyuman suami nya.
Semudah itukah dirinya? Eleena rasa tidak, ia bukan perempuan murahan yang hanya bisa di bujuk dengan sebuah senyuman. Tapi ...
Tapi memang benar, melihat suaminya berjalan santai menuju brankar sambil terus melebarkan senyuman nya membuat hati Eleena mudah luluh dan tenang.
Andai bisa menjerit, ingin rasanya Eleena menjerit dan memaki dirinya sendiri. Mengapa dirinya begitu mudah luluh dengan senyuman laki laki seperti Yusuf.
__ADS_1
Tapi, mengapa Yusuf mengunci pintu ruangan nya? Tidak mungkin kah jika laki laki itu akan menerjangnya? Oh tidak, Eleena, ini bukan waktu yang tepat untuk berfikir ke sana. Tapi, tapi kenapa jantung Eleena semakin berdetak dengan begitu cepat, ia merasa takut.
Bukan takut yang mengerikan, tapi takut untuk ... entah lah.... pikiran Eleena benar benar tidak bisa singkron dengan keadaan yang ada. Maka tak salah jika dirinya sangat ingin mengumpat dan memaki diri sendiri.
...~To be continue ......
...🕊🕊🕊🕊...
Mommy : El, kenapa gaje begini sih?
Eleena : Kenapa Mom? (Wajah polos)
Mommy : Kamu itu mau marah apa gak sih sama Yusuf? Kalau marah ya marah aja, ngapa pake deg deg an segala sih ah!
Eleena : Dih, kenapa Mommy yang kaya kesel sih!
Mommy : Ya habis nya kamu itu gak singkron. Fokus dong Na. Fokus kamu itu lagi marah fokusin aja ke marah kamu!
Eleena : Kok kayaknya Mommy seneng nya kalau aku sama mas Yusuf berantem sih.
Mommy : Ya bukan gitu!
Eleena : Ya terus apa? Sumpah Mommy itu jahat banget, kenapa malah bikin aku berantem sama suami ku. Harusnya jalan ku gak kaya gini Mom, kenapa Mommy buat hidup ku kaya begini sih, berantakan. Iks yang harus nya aku omelin itu Mommy bukan suami ku!
Mommy :Loh loh loh, kenapa jadi Mommy!
__ADS_1
Eleena : Iyalah jelas, Mommy. Semua gara gara Mommy!
Mommy : Harusnya aku gak protes! (Dalam hati)