
...~Happy Reading~...
“Ini semua milik kamu.” Eleena menyerahkan beberapa berkas yang merupakan aset peninggalan pak Brata kepada Bagus.
Ya, berkas penting yang ia temukan dalam brangkas yang sudah atas nama Bagus,kini akhirnya ia berikan di depan para keluarga besar nya. Keluarga besar yang di maksud oleh Eleena, adalah Yusuf, abi Mike, umma Chila dan juga Mayra.
Jangan tanyakan sejak kapan adik ipar Eleena itu berada di rumah pak Brata. Saat Eleena baru tiba di Jakarta, Mayra lah yang membukakan pintu rumah untuk mereka. Jadi, sebelum Eleena dan keluarga nya datang, Mayra sudah lebih dulu tiba.
“Tapi kak—“ Bagus nampak ragu untuk menerima aset pemberian dari Eleena.
Sejujurnya ia masih terkejut dan shock karena baru tahu bahwa ternyata dirinya dan Eleena memang kakak beradik. Bukan dari mama Rasti dan ibu Ratih, melainkan dari ayah kandung nya, pak Brata.
“Woaahh, udah terima aja Gus, lumayan loh. Kapan lagi dapet rejeki nomplok,” celetuk Mayra yang sejak tadi diam.
“May!” Yusuf langsung menegur adik nya sambil menggelengkan kepala.
“Iya kak iya, maaf!” kata gadis itu lalu kembali mode diam.
__ADS_1
“Papa sudah menyiapkan ini semua buat kamu. Jadi tolong di terima, jangan buat Papa sedih di sana. Sekarang, Papa sudah gak ada, hanya tinggal kita berdua, dan kakak harap kamu bisa menjadi adik yang baik buat kakak,” kata Eleena tersenyum saat melihat Bagus mau menerima pemberian ayah nya.
“El, gak salah?” celetuk Mayra sambil mendengus kala mendengar perkataan dari Eleena, “Kamu yang harusnya jadi kakak yang baik. Kenapa jadi—aduhh!” pekik Mayra saat dengan tiba tiba sebuah bantal melayang mengenai kepala nya.
Padahal, jika di pikir memang ucapan Mayra tidak salah. Mengapa, Eleena ingin Bagus menjadi adik yang baik untuk nya. Eleena lah yang menjadi kakak, mengapa tidak ia katakan saja, semoga dirinya menjadi kakak yang baik.
Sungguh, Mayra tidak mengerti dengan jalan pintas di otak kakak ipar nya tersebut.
“Terimakasih kak, Bagus akan berusaha semampu Bagus untuk memberikan yang terbaik untuk Kakak dan juga Papa,” kata laki laki itu masih sedikit canggung jika menyebut pak Brata dengan sebutan papa.
Walau pun sang empu nya sudah tidak ada. Tapi tetap saja, Bagus merasa sedikit canggung jika harus mengingat bahwa pak Brata adalah ayah kandung nya.
“Jangan mau Gus, mending enakan di Bandung. Lebih adem, disini kamu akan kepanasan terus, apalagi kalau se atap sama kakak kamu!” ucap Mayra yang lagi lagi menguji kesabaran Eleena, namun justru malah membuat Bagus terkekeh.
“May, mending kamu diem deh. Kamu selalu merusak suasana. Ini tuh seharusnya suasana nya hari biru gitu. Bukan malah debat kaya gini, ini tuh momen langka, pertemuan kakak dan adik setelah belasan tahun gak ketemu, bahkan gak tahu kalau aku punya adek sebesar itu.”
“Iks sumpah kamu perusak suasana!” imbuh Eleena menggebu panjang lebar.
__ADS_1
“El, tau gak? Sebenernya yang rusak suasana itu kamu loh, serius!” kata Mayra menatap serius pada sahabat sekaligus kakak ipar nya.
“Masss!” rengek Eleena langsung menatap suami nya seolah meminta bantuan.
“Mayra, bisa diam dulu, sebentar saja? Atau—“
“Astagfirullah al adzim,” Mayra langsung mengelus dada nya saat mendapatkan ancaman dari kakak nya.
'Lama lama, kakak ku mirip sama istrinya, ckckck!'
Ya, Mayra tahu kata kata apa yang akan Yusuf ucapkan. Saat ini, Mayra masih belum bekerja, ia masih jadi pengacara yakni pengangguran banyak acara. Padahal kuliah nya sudah selesai.
Dan ia masih mengandalkan uang jajan dari ayah, kakak serta para oma dan opa nya. Dan jika ia tidak menurut pada Yusuf, maka bukan hanya uang jajan dari Yusuf saja yang akan di stop.
Melainkan Yusuf juga akan menyuruh para oma dan opa nya untuk ikut menghentikan uang jatah Mayra.
Sungguh baik bukan, sang kakak yang akan menghentikan uang jatah dengan mengajak para oma dan opa nya.
__ADS_1
...~To be continue .......