
...~Happy Reading~...
Malam hari nya, Eleena dan Yusuf sudah memasuki kamar. Yakni, kamar pak Brata lah yang kini akan di tempati oleh Eleena, dan Yusuf pun juga tidak merasa keberatan sama sekali, asal istri nya tidak lagi bersedih jika mengingat mendiang ayah nya.
Maira dan Khalifa masih berada di rumah itu, dan mereka tidur di kamar Eleena yang berada di lantai dua. Itu menjadi salah satu alasan, mengapa Yusuf menyetujui mereka pindah ke kamar mendiang ayah nya.
Karena Eleena yang sedang hamil, Yusuf tidak ingin melihat istri nya kelelahan jika harus naik turun tangga. Sedangkan kamar pak Brata adalah kamar utama yang berada di lantai satu.
Selain itu, Yusuf juga mengingat pesan pak Brata yang tidak memperbolehkan bu Rasti menempati kamar itu lagi. Yusuf merasa, bahwa pak Brata seperti memiliki sebuah firasat yang mana bu Rasti akan datang dan tinggal di rumah itu.
Dan memang benar adanya. Kini, bu Rasti kembali datang ke rumah itu dan meminta untuk tinggal bersama Eleena. Dan benar juga, awal nya bu Rasti meminta kamar bekas mendiang ayah nya, namun Eleena melarang.
Karena Eleena yang akan menempati kamar itu, agar dirinya masih bisa mengingat ayah nya selalu. Hingga akhirnya, mau tak mau bu Rasti pasrah dan membiarkan Eleena yang menempati nya.
__ADS_1
“Mas, kenapa kamu membaca surat Yusuf sambil mengusap perut aku?” tanya Eleena menatap bingung pada suami nya, “Apa karena nama kamu Yusuf, jadi kamu membacakan surat itu untuk calon anak kita?”
Mendengar pertanyaan dari Eleena, sontak membuat Yusuf tersenyum.
Laki laki yang awal nya merebahkan kepala nya pada paha sang istri sambil mengusap lembut perut nya itu, kini beranjak untuk mengubah posisi menjadi duduk di sebelah Eleena sambil bersandar pada headboard ranjang.
“Surat Yusuf itu baik untuk ibu hamil. Karena akan sangat bermanfaat untuk iman sang calon anak kelak. Jadi, aku berharap agar kelak anak kita memiliki iman yang kuat seperti Nabi Yusuf AS,” jelas Yusuf membuat Eleena langsung mengangguk anggukkan kepala nya walau sebenarnya ia masih sedikit kurang paham.
Melihat istrinya tersenyum, Yusuf pun tak kuasa untuk tidak tersenyum. Terlebih saat dirinya di berulang kali di sebut tampan, entah mengapa membuat nya merasa sedikit malu namun juga bahagia dan berbunga.
(Mommy said: Jangan salting Mas, jangan baper, harus tetep calm down.)
“Amin ... “
__ADS_1
“Aku pernah dengar sedikit, bahwa surat Yusuf itu untuk calon bayi laki laki. Dan untuk anak perempuan, emmmt aku lupa itu harus surat—itu emmtt!” Eleena berusaha keras untuk mengingat kembali nama surat yang pernah ia dengar dan sempat juga ia baca walau sedikit.
Namun, entah mengapa kini otak nya benar benar blank dan sulit untuk mengingat. Karena sejak tadi bayangan nya hanya wajah sang suami saja yang ada di kepala nya, terlebih saat melihat wajah suami nya sedikit merona membuat nya sangat sulit untuk mengingat.
Baru kali ini, Eleena melihat suami nya baper. Padahal, biasanya dirinya lah yang selalu di buat baper dan salting oleh suami nya. Namun kini seolah berbeda, ia seperti mendapatkan jackpot saat melihat suaminya tersenyum malu malu.
“Surat Maryam, Sayang.” Ucap Yusuf membantu untuk mengingatkan, “Untuk surat itu, bisa kita baca besok. Karena malam ini kita sudah membacakan surat Yusuf untuk nya.” Imbuh laki laki itu sambil mengecup kening Eleena lalu beralih ke perut.
“Dan sekarang, saatnya mas Yusuf juga untuk istirahat karena besok harus bekerja.” Sambung Eleena yang langsung memeluk suami nya dengan begitu erat hinga membuat Yusuf tersenyum dan menganggukkan kepala nya.
Rasanya, tak henti henti dirinya bersyukur karen kini keadaan istrinya sudah benar benar pulih seperti dulu. Dan Yusuf berharap, tidak akan ada kesedihan lagi yang akan menerpa kehidupan mereka.
...~To be continue ......
__ADS_1