
...~Happy Reading~...
“Kamu mau pergi?” tanya Eleena tiba tiba sudah berada tepat di belakang Mayra.
“Astaga El!” pekik gadis itu sedikit terkejut, karena wajah Eleena yang masih terlihat pucat dan kedatangan nya sangat mendadak.
“Mau kemana? Apakah kau punya tempat tinggal?” tanya Eleena lagi masih dengan raut wajah datar nya.
“Bukan urusan mu!” jawab Catreine menatap Eleena dengan penuh kebencian, “lepas Ma!”
“Sayang, Mama benar benar minta maaf. Tolong jangan pergi dari sini, jangan tinggalin Mama hiks hiks hiks.”
Eleena yang melihat tangisan mama Rasti begitu tulus untuk menahan kepergian Catreine, hanya bisa tersenyum getir. Tak bisa di pungkiri bahwa hatinya terasa sedikit sesak kala melihat drama tersebut.
Eleena berfikir, apakah dulu saat mama Rasti meninggalkan nya, juga seberat itu tangisan nya? Sayang sekali, kala itu Eleena masih terlalu kecil, bahkan sangat kecil sehingga ia tidak bisa mengingat bagaimana berat nya mama rasti meninggalkan nya.
Atau jangan jangan memang mama Rasti tidak menangisi nya? Membayangkan itu, lagi lagi membuat Eleena tersenyum getir.
__ADS_1
“Ele, tolong Mama nak. Jangan biarkan kakak kamu pergi, Mama mohon.” Pinta mama Rasti yang semakin membuat hati Eleena kian terasa sesak.
Kakak? Apakah Catriene benar kakak nya? Lantas mengapa jika memang wanita itu kakak nya, kenapa tidak bisa menganggap nya sebagai adik? Bahkan, sejak pertemuan pertama mereka, sama sekali tidak ada raut kebaikan untuk Eleena.
Cara bicara nya selalu ketus, bahkan selalu memancing perdebatan hingga membuat Eleena sering merasakan kram pada perutnya.
Apakah benar peran kakak seperti itu kepada adik nya? Tidak, Mayra saja kepada Khalifa tidak pernah seperti itu. Jadi Catreine bukanlah kakak bagi Eleena, bukan.
“Kalau kau mau pergi silahkan.”
Terkejut, sekaligus sakit yang Eleena rasakan. Tentu saja, hanya mengiyakan permintaan Catreine, justru ia malah mendapat bentakan dari ibu nya.
Namun Eleena tidka memperlihatkan kemarahan nya, wanita itu justru tersenyum menatap ibu dan kakak tiri nya.
“Bukankah dia yang ingin pergi? Pergilah, aku tidak akan melarang nya, toh waktu dia kesini, aku juga tidka memaksa!” jawab Eleena masih dengan senyuman di wajah nya, “May, ayo ke kamar lagi.”
Eleena segera berbalik sambil menggandeng tangan adik ipar nya, menuju kamar. Namun, baru beberapa langkah, tiba tiba ia berhenti dan kembali menoleh.
__ADS_1
“Kalau Mama mau ikut dia, ikutlah. Jangan khawatirkan Ele, khawatirkan saja dia.” Imbuh Eleena sambil menatap lekat mata mama Rasti.
Tentu saja, ikatan batin keduanya begitu kuat. Meskipun Eleena bicara seperti itu, namun bisa mama Rasti lihat, bahwa putrinya itu akan kembali hancur jika benar dirinya akan memilih pergi. Mengingat, dulu dirinya juga pernah meninggalkan Eleena, akankah kini dirinya tega meninggalkan nya lagi?
“Mama tinggal pilih mau disini atau ikut Catreine! Kalau emang mama mau tinggal sama anak kesayangan Mama, lepasin Catreine. Tapi kalau mama mau sama Catreine, kemasi barang Mama!” ucap Catreine dengan begitu tegas.
“Kamu mau kemana?” tanya mama Rasti dengan begitu berat menatap putri sulung nya.
Bukan menjawab, kini justru Catreine yang tertawa getir mendapatkan pertanyaan dari mama Rasti. Tentu saja, ia sudah paham akan arti pertanyaan itu, yang mana berarti mama rasti ingin tetap berada di rumah ini bersama Eleena.
Catreine menarik napas nya panjang sambil mengepalkan tangan nya. Ia tidak menyangka bahwa ternyata dirinya benar benar akan sendiri. Dan ibu yang selama ini sudah ia sayangi dan cintai kini akan pergi juga meninggalkan nya.
“Baiklah ... Semoga mama bahagia disini!” Setelah mengatakan itu, Catreine segera mendorong tubuh mama Rasti hingga terjatuh dan ia segera melenggang pergi dengan menarik koper nya.
“Catreine! Catreine!” teriak mama Rasti berusaha bangkit dan segera mengejar kepergian Catreine, namun tidak bisa karena Catreine sudah lebih dulu memasuki mobil dan pergi.
...~To be continue .......
__ADS_1