
...~Happy Reading~...
Hari demi hari berlalu, kini keadaan rumah tangga Eleena dan Yusuf sudah mulai kembali normal seperti sebelumnya. Usia kandungan Eleena juga sudah semakin besar dan sehat.
Hidup Eleena jauh lebih tenang dari sebelumnya, meskipun tidak pernah ada lagi kabar dari mama Rasti namun setidaknya Eleena sudah mengikhlaskan nya.
Tak jarang, Yusuf memberikan pesan dan nasehat kepada Eleena agar bisa lebih membuka hati untuk mama Rasti.
Memaafkan dan menerima jalan apa yang sudah di tentukan. Walau sebenarnya, begitu sulit jalan yang harus di hadapi oleh Eleena, tapi dia sudah mencoba untuk menerima dan melalui nya.
Dan benar saja, terbukti kini hidup nya jauh lebih tenang, walau terkadang masih ada terselip kesedihan kala mengingat keberadaan ibu kandung nya.
Eleena juga sudah pernah mencari dimana mama Rasti berada, bahkan sampai kampung halaman dan rumah yang pernah di tempati oleh keduanya. Tapi, Eleena tidak menemukan nya sama sekali.
“Kamu mau pergi lagi, Mas?” tanya Eleena saat melihat suaminya kembali mengemasi pakaian nya.
__ADS_1
Ya, selama beberapa bulan ini, Yusuf harus bolak balik antara Jakarta dan Bandung karena harus mengurus kantor lama nya yang ada di Bandung.
“Kenapa gak kamu jual aja sih Mas? Atau kamu serahin ke orang kepercayaan kamu siapa kek gitu, biar kamu bisa fokus di sini,” keluh Eleena sambil menghela napas nya berat.
Mama Rasti sudah pergi meninggalkan Eleena. Begitupun dengan Yusuf, yang semakin hari semakin tak ada waktu untuk nya, membuat Eleena merasa semakin kesepian.
Walau kini Mayra sudah menetap di Jakarta dan akan menemani keseharian Eleena. Namun, tetap saja, Mayra juga memiliki kepentingan pribadi yang tidak mungkin ada untuk nya selama dua puluh empat jam.
“Sayang, aku minta maaf. Nanti setelah kerjasama ini deal, aku akan menyerahkan semuanya sama Bagus. Aku juga sudah melihat pekerjaan nya selama beberapa bulan ini, dan setelah ini aku akan benar benar melepaskan nya.” Jelas Yusuf panjang lebar sambil menggenggam tangan istrinya.
Namun, karena usia Bagus yang masih cukup muda, membuat Yusuf belum bisa sepenuh nya memberikan kepercayaan padanya.
Maka dari itu, selama beberapa bulan ini, Yusuf harus bolak balik antara Jakarta dan Bandung, karena Bagus yang belum bisa menguasai sepenuh nya, karena masih banyak yang harus di ajarkan selama ini.
“Tapi besok jadwal aku periksa loh. Kamu—“
__ADS_1
“Insyaallah, nanti malam aku pulang,” ujar Yusuf berusaha meyakinkan istrinya.
“Kalau pulang, kenapa harus bawa baju? Dan baju yang kamu bawa itu gak sedikit loh Mas, kenapa—“
“Ini baju untuk Bagus.” Jawab Yusuf tersenyum, “Aku sudah janji sama dia kalau aku akan bawakan pakaian untuk nya. Lagipula, kamu terlalu banyak membelikan aku baju, makanya aku bawa sebagian untuk dia. Kamu tidak keberatan kan?”
Sebenarnya, Eleena tidak keberatan. Namun, entah mengapa ia merasa sedikit berat melepas kepergian Yusuf kali ini. Entah karena dirinya yang masih merindukan laki laki itu, sehingga muncul berbagai prasangka buruk. Atau memang karena ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Yusuf.
Bagus, Eleena sering mendengar nama itu. Namun, Eleena belum pernah bertemu dengan laki laki itu dan seperti apa rupa nya, Eleena belum pernah melihat nya.
Tapi, bukankah dirinya terlalu berlebihan jika ia cemburu pada Bagus. Bagus, nama seorang laki laki kan?
Tidak mungkin Yusuf berselingkuh dengan laki laki, karena Eleena sangat yakin bahwa suaminya itu laki laki paling sempurna dan tentu saja normal seribu persen.
...~To be continue .......
__ADS_1