
...~Happy Reading~...
Hari berganti, kini keadaan sudah semakin normal. Eleena sudah bisa berdamai dengan keadaan nya. Ia sudah memaafkan mama Rasti dan mulai menerima kehadiran Catherine, begitu pun sebaliknya.
Setelah melihat dan mendengar interaksi antara Eleena dan umma Chila, sedikit banyak membuat hati Catherine sedikit terbuka. Kini, perlahan ia mulai sadar akan keberadaan nya dan sifat nya selama ini.
Saat Eleena kembali ke Jakarta, Catherine dan mama Rasti pun ikut mengantarkan nya, akan tetapi hanya satu hari ia sudah kembali lagi ke Bandung bersama mama Rasti. Awal nya, Catherine menyuruh agar mama Rasti menetap di Jakarta saja bersama Eleena.
Akan tetapi, wanita paruh baya itu tidak tega jika harus membiarkan Catherine seorang diri. Karena Eleena sudah di jaga dan di rawat oleh mertua nya, jadilah mama Rasti memutuskan untuk kembali ke Bandung dan akan ke Jakarta saat Eleena melahirkan nanti.
Sakit hati? Iri? Mungkin masih ada sedikit rasa itu di benak Eleena. Tapi, kini ia sudah mulai menerima nya. Ia sudah membiasakan diri, jika posisi nya memang ada di bawah Catherine.
Selain itu, Eleena juga memahami bahwa mama Rasti mungkin kurang nyaman berada di rumah mantan suami nya. Jika sebelum nya, mama Rasti nyaman di sana, karena merasa bahwa pak Brata masih mencintai nya.
__ADS_1
Terbukti setelah bercerai, laki laki itu tidak pernah menikah lagi. Tapi, setelah ia mengetahui fakta yang cukup mengejutkan, membuat mama Rasti sedikit sadar diri dan mungkin sesak.
Ya, Yusuf pada akhirnya membawa mama Rasti masuk ke ruang kerja pak Brata dan memperlihatkan beberapa foto rahasia milik pak Brata untuk memastikan sesuatu.
Dan memang benar, bahwa semua foto itu adalah pak Brata dan ibu Ratih, adik dari mama Rasti. Laki laki yang menghamili adik nya, adalah mantan suami mama Rasti sendiri.
Pantas saja, saat Bagus lahir, mama Rasti merasa sedikit tidak asing dengan wajah Bagus, karena hampir mirip dengan Eleena bayi. Tak hanya itu, sebelum Ratih meninggal, wanita itu sempat mengatakan maaf bertubi tubi pada nya.
Ia kecewa, mengapa adik nya tidak berkata jujur. Bukankah saat itu hubungan nya dengan Brata pun juga sudah kandas. Begitu pun dengan Brata yang tidak jujur pada nya, ia semakin kecewa dan membenci laki laki itu karena tidak pernah tegas.
Ya, besar kemungkinan saat Bagus lahir, orang tua Brata masih ada. Mungkin sebab itu juga yang membuat Brata tidak mengakui kesalahan nya karena takut. Bahkan, laki laki itu juga tidak tahu bahwa Ratih sudah meninggal.
‘Mungkin sekarang mereka sedang bersama di akhirat sambil melihat kehidupan anak anak nya disini.’ Gumam Rasti dalam hati nya dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
Bukankah seharusnya, jika memang Brata mencintai Ratih, harusnya ia bisa memperjuangkan nya. Brata sudah gagal mempertahankan dirinya di tengah tengah keluarga nya.
Seharusnya laki laki itu bisa memperbaiki diri dengan mempertahankan Ratih. Dan mungkin, saat itu jika Ratih di bawa ke rumah sakit yang lebih bagus lebih lengkap mungkin nyawa nya masih bisa di selamatkan.
Ekonomi Rasti tidak begitu bagus. Dan untuk membantu biaya persalinan adik nya kala itu, Rasti harus rela menjual motor nya. Sedangkan Brata, laki laki itu bahkan tidak tahu bahwa kekasih nya hamil, baru tahu saat beberapa saat sebelum ajal nya datang.
Ingin rasanya, Rasti mengumpat laki laki itu. Akan tapi, ia sadar bahwa itu juga percuma. Karena Brata sudah meninggal, menyusul kekasih hatinya.
“Mama gapapa?” tanya Catherine ketika melihat sejak tadi ibu nya terus melamun.
“Gapapa Sayang, “ jawab mama Rasti sambil mengusap lembut rambut Catherine.
...~To be continue ......
__ADS_1