Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
10. KATA NANTI


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


"Apa?"


"Kau tidak sekolah."


"Tapi kenapa? Teman-teman Ari sekolah? Kenapa Ari tidak?"


Emakku nampak terdiam, ia menatap aku begitu serius dengan pandangannya yang juga sangat serius menatap aku yang terus menatapnya meminta sebuah penjelasan darinya hingga akhirnya emak memutuskan untuk melangkah pergi meninggalkan aku.


Aku sejujurnya sangat tidak terima dengan keputusan emak dan kepergiannya membuat aku mengikuti langkahnya.


"Emak, kenapa Ari tidak sekolah?" tanyaku saat aku telah berada di belakangnya.


Emak tak menjawab pertanyaan aku. Ia nampak membelakangiku seakan tak mendengar pertanyaan yang aku lontarkan untuknya. Bukan malah menjawab, Emak malah menyibukkan dirinya dengan berpura-pura mengaduk sayur yang berada di dalam panci.


Aku bisa tahu jika hal ini adalah sebuah keterpura-puraan karena sejujurnya sayur itu telah matang tapi emak bertingkah seakan sayur itu sedang ia masak.


"Emak!" panggilku.


Emak tak menjawab lagi, ia melangkah membuat aku mengikuti emak seperti ekor yang enggan untuk menjauh.


"Emak!"


"Ari ingin sekolah emak seperti teman-teman Ari."

__ADS_1


"Kenapa Ari tidak sekolah seperti teman-teman Ari yang lain. Mereka semua sekolah lalu kenapa Ari tidak?"


Emak tak menjawab. Ia diam seperti orang bisu dan tuli. Ia tidak memperdulikan aku.


"Emak! Ari ingin Sekolah. Ari kepingin sekolah."


Tetap saja tak ada jawaban.


Aku mendongak menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas dan disaat itu jantung aku berdetak sangat cepat. Aku merasa takut jika waktu pendaftaran telah habis nanti.


"Emak, tolong lah! Ari ingin sekolah!"


"Lihat sekarang sudah jam berapa! Waktu pendaftaran akan segera habis. Ari tidak mau kalau waktu pendaftaran habis."


"Ari ingin sekali sekolah seperti Angga, Ririn, Cai dan Ami."


Emak tetap saja tak memperdulikan aku membuat aku memegang pergelangan tangannya membuat Emak menoleh menatap aku.


"Ayo, emak! Kalau emak tidak mau maka antar saja Ari ke sekolah biar Ari yang mendaftar, buar Ari yang masuk ke sekolah untuk mendaftar."


"Ayo emak!" ujarku sambil menarik pergelangan tangannya.


"Emak, ayo antar Ari!"


"Ayo em-"

__ADS_1


"Berhentilah Ari!" teriak Emak yang berhasil membuat aku tersentak kaget setelah mendengar bentakan dari emak.


Kedua alis itu terlihat menanjak seperti gunung, persis dengan ekspresi wajah yang nampak marah seperti saat ia marah dengan Bapakku.


"Emak sudah bilang kalau kau tidak sekolah untuk tahun ini. Kenapa kau tidak ingin mendengar perkataan Emak?"


Aku benar-benar diam sekarang. Wajah marahnya itu benar-benar membuat hatiku terasa sakit di dalam. Cukup aneh jika bocah ingusan sepertiku yang masih berusia tujuh tahun mengatakan sakit hati tapi ini adalah kenyataannya.


"Jadi Ari tidak sekolah?"


"Emak tidak bilang kalau kau itu tidak sekolah tapi Emak mau bilang kalau tahun ini kau tidak sekolah. Kau akan sekolah tahun depan."


"Kau tidak sekolah tahun ini," ulang emak.


"Lalu kenapa teman-teman Ari sekolah tahun ini?" tanyaku dengan wajah yang telah benar-benar cemberut.


Bibirku bergetar berusaha untuk tidak menangis di depan sang emak.


"Kau berbeda dengan teman-teman kau itu."


"Beda apa?"


Emak nampak menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan pelan. Ia terlihat menopang pinggang dengan tatapannya yang menatap ke arah lain seakan menolak untuk menatap aku.


"Emak!" panggilku yang kali ini benar-benar meminta jawaban darinya.

__ADS_1


...📗📗📗...


__ADS_2