
...✏️✏️✏️...
Detik berganti detik menjadikan sebuah menit membuat waktu berlalu di dalam setiap gerakan waktu. Setelah berbincang-bincang dengan teman-temanku itu kini aku memutuskan untuk pulang. Kami juga memutuskan untuk tidak memulai sebuah permainan dengan alasan karena teman-teman ingin pulang cepat ke rumah dan mengerjakan tugas sekolah mereka.
Aku pikir itu juga sangat penting, mereka harus menyelesaikan tugas sekolah mereka. Aku mengerti itu walaupun aku tidak sekolah tapi suatu saat nanti Ari juga akan sekolah, bukan? Seperti yang lainnya juga. Saat ini malam menjadi suasana yang begitu menyenangkan bagiku. Malam ini kembali pada suatu kegiatan yang rutin dilakukan yaitu makan malam.
Emak meletakkan satu ekor ikan goreng yang telah dicampur dengan bumbu garam beserta dengan asam yang emak buat sendiri lalu ia goreng dengan bau ciri khas yang menyebar membuat aku semakin tak sabar untuk menyantapnya disandingi dengan sayur kangkung tumis dengan campuran bawang merah serta nasi putih hangat yang benar-benar membuat makan malam ini menjadi nikmat.
Makanan sederhana untuk orang sederhana mungkin seperti itu yang cocok dengan keadaan sekarang. Aku pernah memikirkan bagaimana jadinya jika aku punya banyak uang, mungkin aku akan makan makanan yang mewah seperti saat aku pergi berkunjung di acara pesta pernikahan. Ada banyak makanan berdaging di sana seperti ayam daging sapi dan masih banyak lagi, semuanya ada banyak dan rasanya sangat enak.
"Terima kasih, emak," ujarku berterima kasih dengan memberikan senyuman membuat emak juga tersenyum ia mengelus kepalaku sejenak dan meletakkan piring berisi nasi itu di depanku.
"Makanlah, Ari!" perintahnya membuat aku mengangguk.
Aku makan dengan lahap, rasa makanan ini benar-benar nikmat walaupun tidak semewah dengan makanan di acara pesta pernikahan tapi rasanya lebih nikmat jika bersama dengan orang-orang tersayang seperti emak dan bapak. Cukup sunyi jika seperti ini karena aku hanyalah anak tunggal yang tidak memiliki saudara satupun.
Aku memelangkan kunyahanku menatap emak dan bapak secara bergantian menatap wajah mereka yang benar-benar membuat aku damai. Sepertinya aku harus memulai sebuah percakapan untuk membangun sebuah keharmonisan dalam hubungan.
Ah, sudahlah aku juga tidak mengerti dengan apa yang aku katakan. Aku sepertinya hanya mengada-ngada, kawan.
"Emak, apakah Ari boleh bicar" ujarku meminta izin terlebih dahulu menatap ke arah bapak sejenak dan akhirnya kembali menatap aku yang masih mematung menanti jawaban dari mereka.
"Ya bicaralah!" perintahnya.
__ADS_1
Aku tersenyum, ini sepertinya diberikan sebuah lampu hijau.
"Tadi waktu sore teman-teman Ari bilang kalau di sekolah mereka memperkenalkan diri."
"Oh ya?"
"Iya, Mak."
"Dari mana kau tau?"
"Cai yang memberitahukannya kepada Ari tadi. Oh iya mak dan Ririn menangis karena dia takut memperkenalkan diri," jelas ku begitu sangat bersemangat.
Emak hanya mengangguk tanpa sebuah ekspresi. Ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya dan setelahnya ia tak menanggapi kalimat aku lagi. Aku terdiam sejenak memikirkan kalimat yang bisa aku katakan lagi kepada emak.
"Benarkah? Jangan sampai kau gemetar jika disuruh memperkenalkan diri di hadapan teman-teman kau itu," ujar bapak membuat aku tersenyum lebar.
"Ari tidak akan gemetar. Ari ini kan adalah anak pemberani dan akan memperkenalkan diri di hadapan teman-teman Ari seperti ini..."
Aku bangkit dari dudukku berdiri tepat di hadapan emak dan bapak yang kini menoleh menatap ke arahku.
"Mak! Pak! lihat ke sini! Ari akan memperkenalkan diri seperti ini."
"Ari akan dengan bangga berdiri di depan teman-teman dan berkata..."
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh."
Aku terdiam menatap emak dan bapak yang kini hanya terdiam. Aku tersenyum lebar menggerakkan kedua alisku berulang kali berusaha untuk memerintahkan bapak dan emak untuk menjawab salamku.
"Ada apa?" tanya bapak yang tidak mengerti.
Aku menghela nafas pendek lalu kembali bicara, "Kata temanku kalau orang mengucapkan salam maka kita harus menjawab dengan kalimat waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh seperti itu."
Emak dan bapak saling berpandangan hingga mereka tertawa lalu dengan kompak menjawab salamku buat aku tersenyum bahagia.
"Hai semua teman-temanku, perkenalkan namaku adalah Ari, Ari tinggal di jalan bebatu pepasir yang berada di tempat belakang rumah haji Asbar anggota DPR seperti itu kan Mak?"
"Kau tidak menyebutkan umurmu?"
"Oh iya Ari lupa. Ari berumur 7 tahun, semoga semua teman-teman bisa senang dengan Ari yeeee!!!" sorakku sambil bertepuk tangan membuat bapak dan emak juga ikut melakukannya.
Aku melompat, tertawa dan menunduk sedikit diiringi dengan suara tawa bapak dan emak yang membuat aku merasa sangat bahagia.
Aku kembali duduk ke tempat makanku dengan senyumnya benar-benar merekah kali ini aku benar-benar bahagia. Rasanya aku tak sabar untuk bersekolah dan memperkenalkan diri kepada teman-teman seperti apa yang aku lakukan tadi.
"Bagus-bagus, kalau kau sekolah nanti kau akan memperkenalkan diri kau seperti itu dan kau juga harus berkata kalau kau adalah anak bapak dan emak. Bukan seperti itu?" ujar bapak yang kini menatap sang emak yang kini terdiam menatap bapak.
Emak mengangguk pelan dan aku bisa melihat raut wajahnya yang sedikit sedih namun, berusaha ia tahan dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
...📗📗📗...