
...✏️✏️✏️...
Aku diam menatap emakku yang nampak sedang memasak nasi untuk makan malam nanti. Ia terlihat sesekali mengusap keringat yang membasahi dahinya. Aku sangat kasihan sepanjang hari dia tidak berhenti untuk bekerja.
Aku sekarang sadar dan yakin bahwa surga memang berada di telapak kaki seorang wanita yang aku sebut Emak.
"Emak sedang memasak apa?" tanyaku yang menopang dagu menatap emak yang nampak menumis bawang merah.
"Emak ingin menumis kangkung. Hari ini emak sudah memetik kangkung di pinggir sungai."
"Ari suka kangkung, Mak."
Suara langkah terdengar membuat aku menoleh menatap bapak yang nampak meletakkan ember di depan pintu wc. Bapak meraih handuk, mengusap keringat dan membuka topinya lalu ia gantung di sebuah paku yang menempel di dinding.
Aku bisa melihat raut wajahnya yang terlihat sedih. Aku melangkah mendekati ember ketika bapakku masuk ke dalam WC untuk mandi. Aku melihat embernya yang nampak kosong, tak ada hasil ikan tangkapan sore ini. Hari ini seperti biasa kami tidak makan ikan karena bapak yang tidak mendapat ikan.
Sayur tumis kangkung bikin menjadi teman nasi untuk malam ini. Bau aroma tumisan kangkung menyengat indra penciumanku begitu wangi membuat perutku keroncongan.
Wajah datar ibuku, raut wajahnya setiap hari selalu ingin marah. Kedua alisnya terlihat seakan punya banyak masalah yang meninggi seperti gunung.
Ia meletakkan piring di hadapanku, mengambil nasi dan beberapa sendok sayur untuk aku. Bapak melangkah duduk tepat di samping emakku yang juga ikut meletakkan nasi di atas piring khusus untuk bapakku.
Aku tersenyum menatap kedua orang tuaku yang terlihat begitu lahap saat makan malam. Begitu banyak pekerjaan yang kedua orang ini lakukan hari ini sama halnya seperti diriku, begitu banyak permainan yang aku lalui hari ini.
Aku yang sejak tadi fokus untuk makan kini menggerakkan kedua bola mataku menatap kedua makhluk yang begitu aku sayangi. Aku teringat satu hal dan kali ini aku ingin mengucapkannya tentang sekolah
"Bapak!" panggilku membuat kedua orang di hadapanku menatapku sejenak dan setelahnya ia kembali fokus untuk makan
"Ari ingin bicara sesuatu," ujarku memulai jika kedua orang tuaku menolak untuk aku berbicara maka aku akan mengurungkan niatku mengatakan hal ini.
Bapak terlihat menenguk segelas air, menatapku sejenak yang nampak terdiam menanti aku bicara.
"Bicaralah!" minta bapakku.
__ADS_1
"Ririn dan Cai sudah daftar sekolah hari ini, mereka semua terlambat datang untuk bermain dan mereka bilang besok adalah hari terakhir untuk mendaftar sekolah."
Bapakku menghentikan kunyahannya, dia melirik menatap emakku yang terlihat tidak peduli, dia tetap saja memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa pernah berhenti untuk menatap ke arah aku ataupun ke arah bapakku.
Aku meneguk salivaku, entah mengapa jantungku berdebar saat ingin mengatakan hal ini. Aku takut tapi besok adalah hari terakhir dan aku tidak ingin jika hari itu terlewatkan begitu saja.
"Teman-teman Ari telah mendaftar sekolah dan Ari-" Aku menjeda kalimatku. Entah mengapa aku begitu sangat gugup.
Aku menarik nafas dan menghembuskannya pelan berusaha untuk menenangkan diri. Semoga saja bapak dan emak tidak marah. Iya mungkin saja, aku kan tidak minta uang dan hanya kata uang yang membuat mereka marah.
"Ari ingin sekolah," sambungku membuat kunyahan emakku terhenti.
Aku meneguk salivaku. Wajah emak terlihat begitu menyeramkan setelah aku mengatakan hal itu.
Sedetik kemudian bibirku emakku kembali bergerak, mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya. Tak ada respon dari emakku hanya ada sebuah tatapan membeku yang diberikan oleh bapakku. Aku tersenyum ragu sepertinya hanya bapakku yang tertarik dengan ujaranku.
"Bapak, Ari ingin sekolah."
Bapakku tersenyum. Ia meletakkan piring ke atas lantai, mencuci tangannya ke atas piring dan menghempaskan tangannya ke belakang berusaha untuk membersihkan tangannya dari air.
"I-iya, iya kau boleh sekolah."
Aku begitu bahagia saat mendengarnya dan membuat aku tak sadar langsung bangkit dari tempat duduk dan mendekati bapakku.
"Benarkah? Apa itu benar, pak?" tanya aku begitu kegirangan. Aku bahkan tak sadar jika aku menyentuh kedua bangku bapakku dan mengguncangnya.
"Yah kau boleh sekolah tapi sekolahnya tidak mudah."
"Tidak mudah? Apanya yang tidak mudah?"
"Kau bisa saja sekolah tapi itu semua ada pada emak kau kalau emak setuju kau sekolah maka kau akan sekolah."
Mendengar hal itu aku menoleh menatap emak, dia terlihat begitu serius saat makan bahkan aku merasa jika dia tidak mendengar kalimatku tadi. Aku berlari kecil menghampiri emak yang sama sekali tak pernah menatapku.
__ADS_1
"Emak! Ari ingin sekolah! Ari boleh, kan sekolah? Besok adalah pendaftaran terakhir, besoknya lagi pendaftaran akan ditutup kalau pendaftarannya ditutup Ari tidak akan sekolah," jelasku.
"Emak, tidak tahu," jawab Emak lalu bangkit dan melangkah pergi meninggalkan aku menuju masuk ke dalam dapur.
Aku diam mematung lalu menoleh menatap bapakku yang juga diam sama sepertiku. Tak berselang lama ia bangkit dan melangkah keluar dari rumah, duduk di teras menikmati sebatang rokok yang ia simpan dua hari yang lalu.
Aku tidak menyerah begitu saja, aku melangkah masuk ke dalam dapur menatap emak yang kini telah berada di tempat cuci piring.
"Biar Ari bantu, Mak," ujarku yang kemudian membilas piring yang telah diusap dengan sabun. Sepertinya ini adalah jurus jitu untuk menyentuh hati emakku. Semoga saja setelah ini emak mau mengisinkan aku sekolah.
Lebih dari semenit aku membilas beberapa piring, meletakkannya dalam sebuah baskom dan sesekali tersenyum menatap emak.
"Emak! Emak kenapa tidak tahu? Teman-teman Ari didaftarkan masuk sekolah oleh orang tua merekamnAri juga ingin sekolah."
Emak menghentikan gerakan tangannya yang menyabungi piring, ia menatapku lekat-lekat, menyentuh rambutku dan ia tersenyum.
"Iya Ari, kau akan sekolah tapi emak tidak tahu bagaimana caranya agar kamu sekolah. atau lihat saja besok."
Emak bangkit dari sebuah bangku kecil yang diduduki selama mencuci piring. Aku diam mematung menatap tak jelas pada dinding yang telah berkeropos. Aku tidak mengerti dengan apa yang enak katakan.
Emak telah menjawab tapi sepertinya itu bukan sebuah jawaban dan malah membuat aku semakin menjadi kebingungan.
Aku ikut bangkit melangkahkan kakiku yang tak beralaskan itu ke arah kamar namun, langkahku terhenti ketika aku mendengar suara keributan dari luar, itu suara emak dan bapak mereka terdengar saling bicara namun, menggunakan nada suara yang tinggi seakan sedang menggertak.
Aku penasaran membuat aku melangkah kecil yang nyaris tak terdengar suara langkahnya, mendekati pintu tepat di samping jendela dimana mereka terlihat sedang saling berdiri berhadapan sambil menunjuk ke arah muka.
Aku tidak bisa mendengar lebih jelas apa yang mereka katakan, terdengar samar-samar. Mereka sesekali berbisik namun, tak berselang lama nada suara teriak terdengar. Aku juga bisa mendengar suara tumbukan ke dinding membuat aku tersentak kaget.
Apakah mereka berkelahi dan apa mereka bertengkar karena satu hal yaitu, keinginan aku untuk sekolah.
Aku berlari masuk ke dalam kamar, berturungkup di bawah selimut yang sudah usang dan menyembunyikan tubuhku serta telingaku menolak untuk mendengar suara pertengkaran mereka.
Aku tak ingin mereka bertengkar karena yang aku inginkan hanya satu hal yaitu, sekolah. Ari hanya ingin sekolah, hanya itu.
__ADS_1
...📗📗📗...