
...✏️✏️✏️...
Setelah berjam-jam dan begitu lama aku menunggu di bawah pohon kayu Cina aku kini memutuskan untuk melangkah pulang ke rumah.
Kini aku baru sadar jika waktuku berjam-jam itu terbuang dengan sia-sia hanya menikmati setiap hamburan debu jalanan bahkan nyaris masuk ke mata saat truk pengangkut pasir itu melintas tepat di depanku, mengantarkan pesanan pembeli pasir yang digunakan untuk membangun sebuah rumah yang berada di pusat kota.
Aku mengetikkan langkah ketika aku nyaris menginjakkan kaki di teras rumah. Aku meraih wadah air plastik eceran 500 menyirami kakiku setelah aku mengambil air dari ember yang berada di pinggiran teras. Ini sebuah kewajiban sebelum masuk ke dalam rumah aku juga tidak mau jika emak marah jikalau rumah kembali kotor karena kakiku yang kotor setelah pulang.
Aku menatap kaki kedua kakiku yang telah bersih walau sejujurnya baru kali ini kakiku tidak sekotor hari-hari kemarin di saat aku sibuk bermain bersama dengan teman-teman bahkan aku sepertinya pulang lebih cepat dari biasanya.
"Assalamualaikum."
Aku memberi salam saat masuk, langkahkan kedua kakiku dengan pelan menuju masuk ke dalam rumah, tak ada jawaban salam dari siapapun di sini. Aku melangkahkan masuk ke dalam rumah lebih dalam menelusuri setiap ruangan berusaha mencari sosok emak yang keberadaannya wajib aku lihat saat aku tiba di dalam rumah.
Rasanya jika aku tidak melihat emak saat tiba di rumah membuat aku tidaklah merasa nyaman, rasanya ada yang mengganjal dan menyakitkan dalam hati.
Senyumku mengembang tiara tara seakan mendapat sebuah hadiah akhir tahun saja saat aku melihat sosok emak yang berdiri sambil mengaduk sebuah nasi yang airnya baru saja mendidih.
Akhirnya aku melihat emak.
Menatapku sejenak lalu akhirnya kembali mengaduk nasi.
"Tumben kau pulang cepat hari ini Ari? Apakah Ririn kembali menangis dan permainan itu kembali terhenti sehingga kau pulang lebih cepat dari biasanya?"
Aku menggeleng pelan melangkahkan kakiku menuju kursi kayu yang tepat berada di dekat lemari.
__ADS_1
Tidak mendengar jawaban dariku membuat emak menoleh menatapku sambil duduk di atas bangku sepertinya emak dibuat penasaran.
"Ada apa sekarang belum jam 12.00 tapi kau sudah pulang di jam 09.00 apa teman-temanmu itu tidak ingin bermain dengan kau lagi?"
Ari tertunduk sejenak menggerakkan ujung-ujung jemari tanganku sambil menatap kukuku yang terlihat tidaklah kotor karena hari ini benar-benar aku belum bermain.
"Hari ini Ari tidak bermain bersama dengan teman-teman, Mak."
Kening emak mengernyit, sepertinya ia terlihat bingung dengan jawabanku.
"Kenapa? kau tidak bermain bersama teman-temanmu hari ini?"
"Biasanya kau sering bermain dengan mereka padahal kau yang paling susah jika pulang ke rumah."
Emak tertawa kecil ia sepertinya berusaha untuk bercanda denganku tapi aku hanya terus dia memasang wajah datar, bukan berusaha untuk memperlihatkan jika aku benar-benar sedih tapi saat ini aku memang tak memiliki semangat untuk tersenyum walaupun hanya sedikit.
"Kenapa hari ini tidak pergi bermain? Apakah ide untuk bermain atau jenis permainannya sudah habis atau sangat membosankan?"
"Tidak," jawabku dengan nada sedikit berbisik.
"Lalu?"
"Semuanya pergi sekolah. Hari ini adalah hari pertama mereka semua pergi sekolah biasanya hanya Angga yang pergi sekolah tapi hari ini Ami, Cai dan Ririn juga masuk sekolah itu berarti teman-teman Ari semuanya berada di sekolah."
"Dan mereka tidak pergi bermain seperti biasanya, cuman Ari yang pergi tadi dan tak ada satupun teman yang datang."
__ADS_1
Sunyi dan sepi kini menjadi sebuah situasi yang terjadi saat ini. Setelah mendengar kalimat itu emak tidak lagi bicara kepadaku, ia terlihat diam dan akhirnya kembali berpura-pura untuk mengaduk nasi yang benar-benar telah menyusutkan airnya.
Aku menggerakkan kedua iris mataku menatap sosok emak yang telah membelakangiku seakan tak berani untuk menampakkan wajahnya yang sepertinya telah memikirkan kalimatku.
"kalau Ari sekolah tahun ini mungkin Ari juga akan berada di sekolah bersama dengan teman-teman, bersama dengan Cai, Ami dan Ririn."
"Ari juga tidak akan menunggu seorang diri di bawah pohon kayu Cina menanti mereka semua datang."
"Kalau saja Ari sekolah di tahun ini pasti akan sangat bahagia."
"Tapi Ari akan bersabar, tahun depan Ari juga akan sekolah, iya kan Mak?" tanyaku yang kini memeluknya dari belakang.
Aku melihat kedua bibir emak yang bergetar berusaha untuk memaksakan dirinya tersenyum.
Aku memeluk emak dengan erat sambil memejamkan kedua mataku merasakan kehangatan tubuh emak yang benar-benar membuat diriku nyaman.
Aku tidak mengerti mengapa sosok emak benar-benar begitu memiliki aura yang sangat menyenangkan bagiku, sentuhan dan belayan emak membuat sosok hati ini benar-benar merasa bahagia jika bersama dengan emak.
Apa ini hanyalah perasaanku saja atau kalian juga seperti itu? Kata orang memeluk emak berarti sedang memeluk surga karena emak adalah surga dunia bagi anak-anaknya. Jika ingin melihat surga maka lihatlah senyum emak dan jika ingin mencium bau surga maka ciumlah kedua pipi emak dengan rasa kasih sayang maka kau akan merasakannya.
"Ari tidak sabar akan sekolah tahun depan, Mak."
"Ari akan sangat bahagia, Ari sayang emak."
...📗📗📗...
__ADS_1