Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
BAB 15. BERUBAH


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


1 Minggu Kemudian....


Hari-hari begitu cepat berlalu, semenjak hari itu aku benar-benar berusaha untuk bersabar di dalam setiap kondisi namun, itu semua tidaklah mudah. Aku percaya bahwa sebuah kesabaran akan tetap membuahkan sebuah hasil yang lebih baik daripada yang aku lakukan.


Angin yang berhembus pagi ini menerpa tubuhku saat aku duduk di atas batu besar yang berada tidak jauh dari pohon kayu Cina yang konon katanya dinamakan dengan pohon surga.


Aku juga tidak tahu mengapa pohon ini dinamakan dengan sebutan pohon surga tetapi ada yang mengatakan jika pohon ini tidak bisa mati dan aku percaya akan hal itu. Pohon kayu Cina ini tidak mudah mati contohnya dengan pohon ini pohon yang berada tepat di belakangku yang di daunnya melindungi aku dari panasnya matahari pagi.


Pohon besar ini entah berapa kali telah dibakar berusaha untuk dimusnahkan namun, tetap saja pohon ini tetap tumbuh bahkan daunnya lebih lebat dari biasanya.


Kedua sorot mataku menetap ke sekeliling berusaha dan berharap sosok teman-temanku datang untuk bermain seperti di hari biasanya. Aku menatap langit yang berada di atas sana sosok matahari yang mengeluarkan cahaya panas itu membuat aku yakin jika waktu tiba mereka untuk bermain sudah. Lewat biasanya jika matahari telah nyaris berada di atas kepala mereka sudah datang tapi sekarang matahari benar-benar seakan telah berada di ubun-ubun dan mereka semua belum juga tiba.


Aku mencoba untuk tetap bertahan serta bersabar menunggu kehadiran mereka. Hari ini adalah hari senin waktunya untuk bermain menjadi bagian kewajiban di setiap pagi. Aku menghembuskan nafas panjang lalu menoleh ke kiri dan ke kanan dan sosok mereka tak kunjung muncul.

__ADS_1


"Apa mereka semua lupa untuk bermain pagi ini atau mereka malah pindah ke tempat bermain yang lain?" tanya aku sendiri.


Kini sebuah pertanyaan muncul di dalam benakku. Sesekali aku menggaruk bagian kepalaku yang terasa gatal sangat membosankan jika harus lama-lama menunggu di tempat ini.


Sebuah motor hitam milik Paman Santoso berhenti tepat di hadapanku. Aku menatap Paman Santoso yang tersenyum menatapku dengan wajah yang sedikit kebingungan.


"Sedang apa kau di situ Ari?" tanya pak Santoso yang membuat aku langsung bangkit dari atas batu besar yang sejak tadi aku duduki.


"Ari sedang menunggu teman-teman yang lain paman, hari ini Ari ingin bermain bersama mereka," jawabku dengan senyum yang membias di bibirku.


"Bermain?"


"Kalau kau ingin bermain dengan teman-temanmu itu maka pulang saja karena mereka semua sedang sekolah."


Mendengar jawaban dari Paman Santoso berhasil membuat senyum aku hilang secara perlahan berubah menjadi datar tanpa sebuah ekspresi yang nyata.

__ADS_1


"Hari ini adalah hari pertama mereka sekolah jadi pagi ini mereka tidak akan datang kalau kau ingin bermain dengannya maka tunggu saja saat jam 10.00 atau mungkin jam 11.00 mereka butuh waktu lama saat belajar."


Setelah mengatakan kalimat itu Paman Santoso melajukan motornya kembali menuruni bebukitan miring menuju tepi sungai meninggalkan aku yang kini mematung menatapnya pergi.


Lagi dan lagi aku menghela nafas panjang menghembuskannya lewat ujung bibirku yang terbuka sedikit. Aku kembali menoleh menatap ke arah rumah Ami yang terlihat kosong berharap Ami beserta teman-teman yang lain berlari ke arahku dan mengajak aku untuk bermain seperti biasanya tapi sepertinya hari ini telah berubah. Aku bahkan baru sadar jika tempat dimana aku selalu bermain bersama dengan teman-teman kini menjadi sunyi menyisahkan aku sendiri.


Semuanya seakan telah berubah 90°! benar aku tidak mengada-ngada aku benar-benar mengatakannya secara nyata entah mengapa duniaku kini menjadi sunyi. pandangan yang kini aku lihat adalah struktur yang telah melewati sosok diriku yang mematung berusaha untuk menerima kenyataan perubahan ini telah membawa aku jauh dari kata bahagia.


Lagi dan lagi aku kembali mendongak menatap langit yang nyaris dihalangi oleh dedaunan pohon kayu Cina. Aku meneguk salivaku seakan ragu untuk mengatakan ini kepada Tuhan yang berada di atas sana.


"Tuhan sekarang hanya aku yang tidak sekolah."


"Ari harap Ari bisa sekolah tahun depan."


Setelah mengatakan hal itu aku kembali duduk di atas batu. Kedua mataku menoleh ke arah bagian bawah pohon di mana tempat itu aku selalu bermain. Suara tawa yang selalu berada menghiasi tempat itu kini lenyap, sunyi bagaikan telah ditelan bumi. Apakah harus aku saja yang bermain lebih dulu tapi aku percaya bermain sendiri itu tidaklah asik.

__ADS_1


Tempat itu kini benar-benar sunyi.


...📗📗📗...


__ADS_2