
...✏️✏️✏️...
Suara jangkrik yang bernyanyi malam ini sama seperti malam biasanya, hanya saja malam ini agak berbeda dengan malam-malam yang lalu. Malam ini ditambah dengan suara kodok yang berbunyi di bawah pepohonan, berhimpit di sela-sela rerumputan hijau, berteduh di bawah dedaunan rendah disaat hujan turun dari langit dan meniupkan udara angin malam yang tercium dengan gabungan tetesan air hujan.
Malam ini aku meraih piring-piring dan meletakkannya di atas karpet untuk menyiapkan peralatan makan malam ini. Setelah selesai aku duduk melipatkan kaki dengan sopan sambil menatap sosok yang terlihat bersiap untuk makan malam.
Aku menghembuskan nafas yang cukup panjang seakan tak sanggup lagi untuk bernafas. Walaupun ragaku berada di tempat ini tapi pikiranku mengarah pada penjelasan Angga tadi sore.
Mungkin penjelasan Angga juga ada benarnya jika aku mendaftar sekolah tahun ini maka aku akan sekolah dengan Ami, Cai dan Ririn yang seusia dengan aku tapi jika aku mendaftar dan sekolah tahun depan maka teman-temanku itu akan berada di atas ku sementara aku akan satu kelas dengan anak-anak yang usianya di bawah dariku.
Kini entah mengapa pikiranku mengarah pada hal itu membuat aku melamun dengan wajah datar seakan aku telah memiliki beban kehidupan yang begitu sangat banyak seperti orang dewasa.
Aku pikir hanyalah orang dewasa seperti bapak dan emak yang memiliki banyak sebuah beban dunia yang penuh dengan kesulitan.
"Kenapa kau diam?"
Pertanyaan itu lantas membuat aku tersentak kaget. Pertanyaan yang dilontarkan oleh emak membuat aku menoleh menatap ke arahnya. Kini sosok emak Dan bapak menjadikan aku sebagai objek penglihatannya.
__ADS_1
"Tidak ada," jawabku cepat.
"Kalau tidak ada cepat makan dan pergi tidur!" pintahnya membuat aku menggangguk pelan dan memulai aktivitas makanku.
Entah mengapa malam ini begitu tak ada nafsu makan persis seperti seorang pemuda yang sedang patah hati, ya sebenarnya aku tidak pernah merasakan itu. Umurku masih kecil kawan, aku belum tahu apa itu cinta dan aku hanya pernah melihatnya di sebuah adegan di televisi di mana seorang pria itu merasakan patah hati jika memiliki seorang kekasih atau perempuan.
Tapi patah hati yang aku rasakan ini adalah patah hati karena tidak mendaftar sekolah tahun ini.
Aku mengunyah makananku dengan gerakan rahang yang pelan sambil sesekali menghela nafas seakan tidak memiliki rasa semangat. Aku tahu aku benar-benar sangat sedih sekarang tapi aku tidak bisa mengatakannya langsung kepada emak dan bapak walaupun sepertinya emak tahu mengapa aku bersikap seperti ini.
Setelah makan malam aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar, menutup pintu rapat-rapat yang menggunakan pengaman sebuah paku yang dilengkungkan menahan pintu yang akan dibuka dari luar
Pandangan aku yang begitu samar menatap langit-langit rumah pada sarang jejaring laba-laba menjadi objek yang bergerak saat hembusan angin menerpa.
Aku meletakkan kedua tanganku di dada, menarik selimut berwarna putih kekuningan menutupi sampai ke dadaku dan meluruskan kaki menyilangkan berusaha merelaksasikan diri.
"Tuhan, apakah Ari tidak akan sekolah? Emak memang mengatakan Ari akan mendaftar sekolah tahun depan tapi mengapa Ari merasa jika itu adalah sebuah kebohongan."
__ADS_1
"Mengapa Tuhan tidak menakdirkan Ari saja menjadi anak yang lahir dari orang yang mengerti tentang pendidikan?"
"Tapi Engkau malah menakdirkan Ari ini lahir di keluarga yang tidak terlalu mementingkan sebuah pendidikan."
"Emak dan bapak tidak sekolah apa itu berarti Ari juga tidak akan sekolah?"
"Ari sangat ingin sekolah Tuhan! Ari ingin seperti Ami, Angga, Cai dan Ririn."
"Ari sangat ingin sekolah. Ari ingin merasakan apa yang namanya sekolah belajar dan bermain seperti teman-teman Ari."
Aku menghela nafas panjang melewati kedua bibir yang aku buka sedikit merasakan turunnya dada yang kembang kempis menikmati aliran udara yang mengisi paru-paru.
Sepertinya Ari harus sabar mungkin ini adalah cobaan dari Tuhan. Aku sejujurnya tidak mengerti apa tentang arti dari ujian dalam kehidupan tapi sepertinya ini adalah sebuah ujian, ujian agar Ari bisa bersabar.
Tahun depan sepertinya Ari bisa melewati tahun itu. Menanti tahun depan dimana Ari akan sekolah. Ari akan sekolah seperti teman-teman yang lain dan merasakan apa yang namanya sekolah dan Ari harap akan menjadi seperti itu.
Mimpi Ari untuk mendaftar sekolah dan belajar bersama semoga saja dapat terwujud. Ada yang mengatakan kesabaran adalah sebuah dari sebuah ujian maka itu berarti Ari harus banyak bersabar.
__ADS_1
"Tuhan, temani Ari dalam bersabar karena Ari ingin sekolah!"
...📗📗📗...