
...✏️✏️✏️...
Suara kendaraan truk terdengar lagi dan lagi putaran ban besar itu berhasil menggetarkan tanah. Entah sudah berapa kali aku terbangun dari tidurku karena terganggu oleh perlintasan truk-truk pengangkut pasir lewat di depan rumah yang menggetarkan tanah.
Cahaya matahari yang menembus celah dinding menyusup masuk dan menyilaukan kedua mataku. Cahaya matahari itu benar-benar menyilaukan mata dan berhasil membuat aku terbangun dari tidur.
Aku duduk di atas karpet sambil menggaruk rambutku yang tidak terlalu gatal. Aku menguap lebar dan mengusap kedua mataku yang masih mengantuk.
Aku terdiam sejenak mengumpulkan nyawa sebelum akhirnya memutuskan untuk bangkit dan berdiri di depan jendela menatap pemandangan yang setiap harinya selalu aku lihat, ya tentu saja kendaraan truk-truk yang berlalu-lalang
Aku melipat kedua tanganku, meletakkan dagu di atas lipatan tangan yang aku letakkan di pinggiran jendela yang telah terbuka, kepalaku bergerak mengikuti gerakan mobil yang melintas di depan rumah hingga akhirnya lenyap setelah berbelok di tikungan.
Sekali lagi aku dibuat terkagum pada sungai yang berada tak jauh dari rumahku. Setiap harinya para truk-truk itu selalu mengambil pasir dan bebatuan namun, tak pernah menghabiskan pasir di sana begitu pula juga dengan bebatuan kecil perlengkapan pembangunan
Cahaya matahari pagi ini begitu sangat terik, bergerak naik seiring waktu membuat hari semakin begitu cerah. Burung-burung berterbangan aku bisa melihatnya saat aku sekali mendongak ke langit serta hawa pagi ini begitu hangat. Matahari saat seperti ini begitu hangat mengenai kulit.
Pagi-pagi sekali aku telah berada di sungai tepatnya di atas bebatuan besar sambil mengusap tubuhku dengan sabun batang dan sedikit shampo sisa dua hari yang lalu untuk rambut yang sudah terasa kotor karena debu.
Suara lonceng sapi berbunyi dan alhasil aku menoleh sejenak menatap pak Santoso yang menarik beberapa sapi miliknya untuk menyeberangi sungai menuju padang rerumputan yang berada di seberang. Rerumputan di sana cukup panjang dan tumbuh subur pasalnya padang di sana jarang diletakkan hewan-hewan ternak.
"Syu!!!" teriak pak Santoso saat anak sapi yang berada paling belakang keluar dari jalur, berpisah dengan saat induk.
Pak Santoso nampak terlihat panik, aku bisa melihat wajah panik dari ekspresi wajahnya. Bagaimana ia tidak panik jika sapi itu bergerak keluar dari jalur dan mungkin saja anak sapi tersebut akan tenggelam jika lewat di sisi sungai yang tidak jauh darinya.
Melihat pak Santoso yang kewalahan membuat aku tidak tinggal diam. Aku langsung bangkit dan berlari walau hanya menggunakan celana pendek.
"Iya usir di belakang, Ari!" teriak pak Santoso yang melihat kedatanganku.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku membantu pak Santoso untuk mengusir anak sapinya itu agar mengikut pada induk sapi.
"Syu! Syu!" usirku sambil menggerakkan kedua tanganku mengusirnya.
Tanpa sadar aku telah berada di sisi seberang sungai, anak-anak sapi yang telah aku usir itu telah berlari ke sebuah padang.
"Tunggu! Tunggu di situ biar kita sama-sama menyeberang sungai!" ujar pak Santoso sambil membelakangiku.
__ADS_1
Aku menggangguk, ya aku juga cukup takut jika harus menyebrang sendiri pasalnya beberapa bulan yang lalu pernah seorang anak kecil yang nyaris seusia dengan aku telah tenggelam di sungai ini walaupun jaraknya cukup jauh dari sungai ini tapi tetap saja bagiku hal itu cukup menakutkan.
"Tunggu di sini Ari! Aku ikat sapu-sapiku dulu, ya!"
Aku menggangguk sedikit tersenyum dan kemudian pak Santoso melangkah ke arah sapinya. Ia menarik tali panjang dan menancapkan sebuah besi ke atas tanah lapang, menumbuknya dengan batu hingga besi itu tertancap dengan kuat.
Aku mencabut beberapa rumput, melemparnya ke sembarang arah untuk menghabiskan waktuku sambil sesekali menatap ke arah pak Santoso yang masih sibuk dengan sapinya.
Entah mengapa pak Santoso sangat suka sekali mengembala sapi tapi kata Ami, anak pak Santoso setiap sapi yang ia jual maka akan mendapatkan uang yang banyak. Aku sering berharap jika aku juga memiliki sapi seperti yang dimiliki oleh pak Santoso, pria kaya yang baik hati kadang pak Santoso juga memberikan aku sedikit uang.
Pak Santoso duduk di dekatku lalu mengusap keningnya setelah cukup melelahkan mengikat sapi-sapinya.
"Kemarin aku tidak melihat kau mendaftar sekolah."
"Bapakku memang tidak datang ke sekolah, pak."
"Kenapa tidak datang? Lalu hari ini kau pergi mendaftar sekolah?"
Aku tersenyum dan menggeleng pelan.
"Aku juga tidak tahu, pak kata emakku hari ini akan dilihat kalau hari ini aku mendaftar sekolah maka aku akan sekolah tapi kalau tidak-"
"Ari sangat ingin sekolah seperti Ami, pak."
"Yah kemarin sudah bapak daftarkan. Aku juga bertemu dengan orang tua Ririn dan Cai mereka juga akan sekolah."
"Kalau begitu kalau kau ingin mendaftar sekolah maka kau harus pulang sekarang. Kau mandi dan kau pulang katakan pada emakmu kalau pendaftaran hanya sampai jam 12.00 setelah lewat dari itu maka pendaftaran sudah akan ditutup. Sana cepat pulang!"
Kedua mataku membulat mendengar hal itu membuat jantungku berdebar-debar, berarti pendaftaran sekolah akan segera ditutup jika jam telah menunjukkan lewat dari jam 12.
"Ditutup jam 12, pak?"
"Iya, sekarang cepat pulang lah dan panggil emakmu pergi mendaftar sekolah!" pintanya membuat aku menggangguk lalu bangkit dan berlari namun, baru beberapa langkah aku terhenti.
Aku menoleh menatap pskt Santoso yang nampak kebingungan.
__ADS_1
"Kenapa?"
Aku tersenyum kecil, menggaruk kepalaku yang tak gatal lalu bicara, "Bolehkah pak Santoso menemani aku menyebrang? Aku takut tenggelam."
Pak Santoso langsung tertawa, dia bangkit dan menghampiriku.
Setelah membantu aku menyeberang sungai aku berlari kencang menuju rumah bahkan emberku terhempas-hampas saat aku berlari begitu kencang. Aku membuka pintu tanpa mengucapkan kata salam dan berlari mencari sosok emak di rumah.
Aku melangkah ke arah kamar kosong sunyi dan sepih, tak ada emak di sana tak sampai di situ.
"Emak!" teriakku begitu kencang.
"Apa?"
"Emak di mana?"
"Emak di belakang."
Mendengar teriakan itu aku berlari ke arah dapur dan senyumku merekah menatap sosok emak yang sedang sibuk mengaduk beras yang hampir mendidih.
"Emak!" panggil aku lagi.
Emakku menghentikan gerakan tangannya yang mengaduk beras dengan sebuah kayu. Menopang pinggang l, menatapku dengan tatapan sedikit kesal.
"Ada apa? Kenapa berteriak?"
"Emak, hari ini emak jadi, kan pergi ke sekolah untuk mendaftar? Kata pak Santoso hari ini adalah terakhir pendaftaran, setelah lewat jam 12 maka pendaftaran akan ditutup."
"Ayo, mak kita pergi! Nanti kita terlambat," ajakku yang begitu tak sabar.
Raut wajah Emakku seketika berubah setelah aku mengucapkan hal. Raut wajah emak menggambarkan seakan dia tidak senang. Tidak senang dengan apa yang telah aku katakan.
Seiring dengan perubahan raut wajah Emak membuat ia kembali pada kegiatan awalnya, menyibukkan diri dengan dapur. Aku dibuat terdiam, mematung dengan wajah yang sedikit kecewa. Apa emak marah saat ini? Aku tidak mengerti, dia tidak mengatakan apa-apa hingga akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari dapur.
Aku menghela nafas duduk panjang dan duduk di atas kursi plastik hingga kedua mataku bergerak menatap ke arah dinding yang berpusat pada sebuah jam yang telah menunjukkan pukul 08.00 masih banyak waktu bukan untuk mendaftar.
__ADS_1
Ari hanya ingin mendaftar.
...📗📗📗...