
...✏️✏️✏️...
Entah mendapat kekuatan dari mana, mungkin karena terlalu bahagia telah belajar bersama teman-teman aku jadi melompat-lompat melewati bebatuan kasar tanpa merasakan sakit walaupun aku tidak memakai alas kaki.
Sejujurnya aku memanglah jarang memakai alas kaki dengan alasan agar sendal yang diberikan emak tidaklah cepat rusak. Aku sungguh kasihan jika emak setiap bulannya harus membelikan aku sendal jika aku harus memakainya di setiap waktu dan aku akhirnya memutuskan memakai sendal jika aku pergi ke kota bersama dengan bapak untuk membeli alat pancing dan memakai sendal saat acara-acara tertentu.
Walaupun kadang sebenarnya emak marah jika aku tidak memakai sendal dan hal itu yang mengakibatkan kakiku kadang tertusuk dengan duri rerumputan atau bahkan pecahan beling.
Hari kini semakin gelap, satu persatu pekerja pembuat batu bata yang ada di seberang sana telah pulang, begitu pula juga dengan emak dari Cai yang juga telah pulang ke rumah. Rumahnya tidak terlalu jauh dari tempat ini hanya saja rumah Cai berada nyaris mendekati kota besar.
Suara lantunan ayat suci dari masjid yang ada di pinggir jalan raya terdengar mengisi keheningan menjelang malam yang begitu indah. Terdengar kicau burung-burung dan burung berwarna putih yang disebut dengan hewan kondo pun berterbangan kembali ke rumahnya sejak tadi diiringi dengan warna kekuningan di sudut langit dan diserta matahari yang perlahan-lahan tenggelam dihimpitan gunung besar yang melengkung melukis bagaikan lukisan indah yang terpampang dengan nyata.
Aku menghentikan langkahku tepat sebelum aku menginjakkan kaki ku di permukaan teras rumah. Aku menyirami kakiku dengan air lalu menggosoknya di atas bebatuan berwarna merah yang sedikit berlumut dan memutuskan langkah masuk ke dalam rumah setelah mengusap beberapa kali kakiku pada kain lap yang berada di bibir pintu.
Aku berlari masuk ke dalam kamar, sibuk di dalam kamar beberapa waktu hingga akhirnya kembali keluar menuju area dapur mendatangi sosok emak yang terlihat sedang sedang sibuk memasak.
Aku menopang dag sambil memantau pergerakan emak yang bergerak kiri kanan menyuarakan betapa sibuknya malam ini. Kedua mataku bergerak kiri dan kanan mengikuti langkah emak yang bolak-balik tak jelas tepat di depanku. Ini sepertinya kesibukan tingkat dewa pada sosok wanita yang kini semakin hari memiliki tubuh yang jauh lebih besar.
__ADS_1
Sepertinya tahun lalu emak terlalu sering makan banyak sehingga di tahun ini tubuhnya menjadi agak besar dari biasanya.
"Mau Ari bantu, Mak?" pertanyaan itu terlontar dari bibirku membuat emak menoleh dan tersenyum tipis lalu berujar, "Tidak perlu," tolaknya.
Aku menggangguk dan semenit kemudian aku sudah berada di atas karpet memandangi bapak dan emak yang kini sedang asyik makan malam seperti biasanya. Aku masih bersyukur bisa menyaksikan kedua sepasang ini berada di depan mataku.
Aku pernah sekali menangis di saat aku menonton salah satu film di TV yang Angga punya disaat Angga libur sekolah dimana.
Di film itu menayangkan beberapa adegan film dengan cerita perpisahan antara anak dengan kedua orang tuanya karena sebuah bencana alam dan di film itu dijelaskan bahwa kedua orang tua dari anak perempuan itu meninggal dunia meninggalkan anaknya sendiri di dunia ini hidup sebatang kara.
Setelah film itu aku berlari pulang lalu memeluk emak dan bapak secara bersamaan dan pada akhirnya aku menangis karena bapak dan emak memukulku secara bersamaan. Aku baru menyadari jika mereka itu mengeroyoki aku.
Aku makan dengan terburu-buru menghabiskan nasi dan lauk pauk yang ada di atas piringku dan setelahnya aku mencuci tangan yang berada di dalam wadah menatap sosok dan bapak satu persatu. Aku menyudahi makanku tanpa memperdulikan jemari tanganku yang masih tercium bau lauk pauk yang aku santap malam ini.
"Ari sudah selesai makan. Ari masuk ke dalam kamar ya," ujarku lalu berlari masuk ke dalam kamar.
Saat aku berlari masuk hari ke dalam kamar, emak dan bapak menoleh menatapku. Mereka berpandangan dengan tatapan herannya. Mungkin baru kali ini mereka melihat aku lebih dulu menghabiskan makananku dan meninggalkan tempat makan tanpa membantu emak mencuci piring yang kotor.
__ADS_1
Aku menutup pintu rapat-rapat, sedikit mengerutkan hidung saat aku mencium bau jemariku yang masih tercium bau tumis kangkung, ya malam ini tumis kangkung menjadi makanan kebiasaan. Emak pernah bilang jika tumis kangkung adalah makanan kesukaan emak tapi menurutku kangkung adalah sayur yang tumbuh dekat rumah dan itu sepertinya yang menjadi alasan mengapa emak sangat suka memasak sayur kangkung.
Aku menggerakkan paku yang melengkung menutup pintu agar tidak terbuka saat didorong dari luar lalu aku menekan saklar, menyalakan lampu di dalam kegelapan membuat ruangan kamarku menjadi terang walau sedikit remang-remang, maklum saja lampu yang aku gunakan adalah lampu yang bisa dikatakan sangat murah.
Aku berlari naik ke atas ranjang. Meraih bantal dan meletakkannya di depanku lalu menepuknya beberapa kali sampai bantal itu menjadi rata. Aku berlari menuju lemari lalu meraih sebuah buku yang sejak tadi tak akan terhentinya membuat aku tersenyum menunjukkan betah bahagianya aku memiliki buku itu.
Aku melebarkan buku itu di atas bantal, membuka lembaran yang telah aku pelajari tadi sore dan tentu saja angga lah yang menjadi guru pengajarnya.
Jika kalian masih ingat maka kalian akan tahu siapa pemilik buku ini, ya engkaulah yang telah memberikan buku ini untuk aku dan menyuruhku agar kembali belajar di rumah.
Angga sungguh baik karena dia telah memberikan aku buku ini dan membiarkan aku mengulang pelajaran yang telah ia ajarkan sore tadi. Walaupun Angga lebih cenderung kepada anak yang suka menyombongkan diri tapi dibalik itu dia juga teman yang sangat baik dan begitu peduli dengan teman-temannya.
Mungkin secara tidak langsung ia memberikan buku ini untuk bisa menyombangkan dirinya kepada Ami, Cai dan Ririn tapi bagiku Angga telah melakukan hal yang begitu sangat baik kepadaku.
Aku mengulang beberapa huruf yang telah disebutkan oleh Angga tadi sore. Tiga huruf itu telah aku hapal matang-matang dan esok harinya katanya Angga akan kembali menagih dan menguji. Sebut saja Angga adalah seorang guru dan tentunya guru yang sering menyombongkan diri.
Kata Angga dan teman-teman lainnya, aku harus rajin belajar selain Angga ingin menyombongkan dirinya karena telah berhasil mengajar aku membaca tentunya aku akan menjadi anak yang lebih pintar di sekolah nanti. Ari harap itu akan terjadi.
__ADS_1
...📗📗📗...