
...✏️✏️✏️...
suara kebisingan terdengar diiringi suara langkah yang dipercepat dan sesekali sentuhan suara keras dari barang-barang yang terdengar bergeser membuat aku berusaha mengelokkan posisi tidurku.
Aku berusaha mengabaikan suara kebisingan yang entah datangnya dari mana namun, semakin aku mencoba untuk tidak mendengarnya maka semakin keras suara itu terdengar jelas di indra pendengaranku. Aku tak mengerti dan juga tak tahu mengapa suara itu begitu sangat jelas terdengar. Kedua mataku terbuka. Aku mengerjapkan beberapa kali kedua mataku saat sinar matahari menyilaukan mata.
"Sudah pembukaan ke berapa?"
"Bayinya sudah keluar."
"Angkat saja! Berapa tekanan darahnya?"
"Kita angkat saja dan kita rujuk ke rumah sakit terdekat! Sekarang!"
Kalimat itu yang terdengar. Kata rumah sakit berhasil membuat aku bangkit dari tempat tidurku. Entah siapa yang sakit di rumah ini sehingga ada kata-kata seperti itu yang terlontar dan entah dari siapa. Suara itu sama sekali tidak pernah aku dengar sebelumnya.
Aku berlari kecil, tak memperdulikan kotoran di mata serta jejak bekas tidur di dekat bibir. Aku berlari keluar kamar mendapati banyaknya orang di dalam rumah. Aku tak mampu menghitung berapa jumlah orang yang sedang sibuk di dalam rumahku terlebih lagi sosok emak yang sedang terbaring di atas karpet dan seorang wanita tua paruh baya yang berada di bawah kedua kakinya yang dibiarkan mengangkang.
Aku juga bisa melihat bayi mungil tanpa busana yang sedang dipegang oleh wanita tua itu. Aku melangkah mendekati emak yang terlihat tersenyum menatapku sejenak lalu ia mengelus pipiku dengan wajah serta tatapan yang penuh haru.
"Bayinya persis seperti wajah Ari," ujar wanita tua itu lalu tertawa cengengesan.
Aku menunduk menatap bayi mungil itu yang tak menangis dan aku bisa melihat tali panjang yang mirip dengan usus itu masih tersambung dari pusat bayi itu ke bagian bawah emakku. Tidak hanya itu. Aku juga tak bisa melihatnya dengan jelas karena tertutup dan terhalang oleh sarung panjang yang menutupi sampai ke bagian lututnya.
"Minggir! Minggir! Jangan terlalu dekat!"
Aku melangkah mundur saat beberapa wanita yang berseragam tim penolong itu berwarna merah nampak menyuntik emakku di bagian pergelangan tangannya lalu tak berselang lama mereka mengangkat tubuh emakku dan meletakkannya di atas sebuah tempat yang aku juga tidak mengerti apa namanya itu.
__ADS_1
Salah satu dari mereka nampak meraih gunting yang berada di dalam sebuah wadah besi lalu menggunting sesuatu yang mirip dengan usus itu yang kini baru ketahui juga namanya adalah tali pusat.
"Ari! Cieeee Ari punya adik baru," goda wanita yang tak asing lagi di penglihatanku.
Ya, ternyata aku baru sadar jika wanita yang sedang berdiri di bibir pintu itu adalah kakak dari Cai. Wanita itu yang selalu membantu emaknya membuat batu bata. Dia kakak Nur, aku baru mengingatnya.
Aku menggaruk kepalaku tak mengerti dengan apa yang kakak Nur katakan. Adik baru! Apakah itu berarti emak baru saja melahirkan dan bayi mungil yang tak memakai busana itu adalah adikku?
Dan sekarang aku baru sadar jika selama ini ternyata emak sedang mengandung. Tubuh emak yang besar itu bukan karena ia terlalu banyak makan tahun lalu tapi ternyata selama ini emak sedang mengandung dan aku tidak menyadarinya.
Beberapa menit kemudian emak digotong keluar rumah menaiki tandu berwarna hitam menuju area jalanan besar di mana di sana sudah ada mobil berwarna putih yang aku dengar-dengar namanya adalah ambulance. Aku tak bisa membaca huruf-huruf yang berada di depan mobil itu, hanya ada beberapa yang aku mengerti yaitu huruf A yang di ajari oleh Angga kemarin dan aku sempat ulang pelajaran itu saat malam hari.
Bukan hanya para tim penolong itu yang ada tapi ada begitu banyak orang yang sedang berada di dekat mobil ambulance. Mereka terlihat saling berbicara, berbisik-bisik sambil menoleh menatap ke arah rumahku dan juga diriku yang menjadi pusat perhatian.
Aku tak mengerti apa yang mereka katakan dan apa yang mereka pikirkan mengenai aku. Aku hanya diam sambil sesekali menoleh menatap emak yang dimasukkan ke dalam mobil. Mereka terlihat antusias.
Entah mengapa mereka yang dulunya tidak pernah menatap emak kini beralih menatap emak.
"Suami ibunya ini dimana?"
Suara pertanyaan itu berhasil terlontar dari wanita yang berada di mobil itu membuat bapakku dengan cepat berlari. Ia hendak masuk ke dalam mobil namun, langkahnya terhenti saat aku meraih pergelangan tangannya.
Aku tak ingin jika bapak dan emak meninggalkan aku sendiri di sini. Aku tak punya saudara atau kerabat yang lain yang bisa menemani aku. Bapak sebenarnya punya saudara yang berada tak jauh dari sekitar tempat ini tapi keberadaannya bagiku tak ada pengaruhnya. Ia seakan tak peduli dengan keluarga bapak lalu jika bapak pergi maka itu berarti Ari hanya sendiri di sini.
"Ari mau ikut, pak," ujarku begitu harap tetapi salah seorang para petugas medis marah-marahiku.
Ia marah dan mengatakan jika aku tidaklah boleh ikut karena ini bukanlah sebuah permainan. Aku ingin sekali mengatakan jika aku memang tidak ingin bermain tapi aku hanya ingin bersama Bapak dan emak.
__ADS_1
Aku tersentak kaget melipat bibir ke dalam berusaha untuk tidak menangis.
"Ari! Ari sama tante saja ya."
Aku mendongak menatap seorang wanita yang pernah aku lihat tapi entah kapan aku melihatnya.
"Ari sama tante saja. Emak, Ari akan dibawa ke rumah sakit untuk pengobatan."
Tak berselang lama suara mobil itu terdengar mengiung, memantulkan suara cukup keras ditambah lagi dengan lampu merah yang di berada di atas mobil itu terdengar dan terlihat menyala-nyala, berputar seakan ini adalah darurat.
Apakah emak ku sekeritis itu hingga harus diberikan peringatan seperti itu. Mobil melaju pergi meninggalkan aku yang kini terdiam. Beberapa orang kembali menoleh menatapku sambil berbisik-bisik. Mobil ambulance itu telah pergi tetapi tidak bagi mereka.
Mereka terlihat semakin berbisik, bahkan ada beberapa yang baru saja tiba dan nampak sedikit kesal karena tidak melihat kejadian di mana emak dimasukkan ke dalam ambulance.
Aku menghela nafas panjang lalu menoleh menatap Ami yang rupanya berada di belakangku.
"Apakah hari ini kita akan main?"
"Emak kau hari ini melahirkan, masa kau ingin bermain. Kau harusnya mengirimkan doa kepada emak kau agar dia selamat."
Kalimat itu terlontar dari bibir Ami lalu kemudian ia melangkah pergi meninggalkan aku dengan ekspresi yang tidak mengerti. Aku tidak mengerti dengan apa yang dikatakan kritis.
Apakah emakku memanglah kritis? Aku kembali menoleh menatap ke arah di mana mobil itu melaju pergi.
"Ari! Ayo ikut sama tante ke rumah tante. Tante ingin ke pasar, kalau kau ingin ikut sama tante ayo tutup pintu kau dan ikut dengan tante!"
Aku mengangguk lalu berlari ke arah rumah lalu menutup pintu, meraih sendal yang aku sandarkan di pinggir rumah lalu memakainya dan berlari pergi menghampiri wanita itu.
__ADS_1
Aku menggenggam pergelangan tangannya dan mengikuti kemana wanita itu pergi membawaku.
...📗📗📗...