
...✏️✏️✏️...
"Ari!"
"Ari! Bangun Ari!"
"Oi Ari!"
Seseorang memanggilku sambil menggoyang-goyangkan bahuku yang sejak tadi melemas karena tertidur. Suara itu yang sejak tadi memanggilku berhasil membangunkan aku dari tidur lelapku. Kepalaku bergerak diiringi kedua mataku yang perlahan terbuka mendapati sosok bapak yang nampaknya sedang menatapku.
Aku buru-buru bangkit dari teras rumah lalu menatap bapakku dengan senyuman yang begitu benar-benar sangat bahagia.
"Kenapa kau tidur di sini? Kenapa kau tidak masuk ke dalam rumah?"
Pertanyaan itu terlontar dari bapak lalu tak berselang lama ia kembali bicara, "Lihat tubuhmu! Banyak bintik-bintik karena digigit oleh nyamuk."
"Di sini kan malam dan tentu saja akan sangat dingin. Cepat masuk! Nanti kau bisa sakit," jelas bapak lalu membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Aku terdiam sejenak lalu menggerakkan kepala menoleh ke segala arah dan benar saja hari yang terang benderang tadi itu kini berubah menjadi gelap gulita. Yang aku lihat hanya ada sebuah lampu penerang pada rumah-rumah yang berjejer, tidak terlalu banyak hanya ada beberapa dan salah satu rumah itu adalah rumah Angga. Rumah Angga tidak terlalu jauh dari sini. Aku bahkan bisa melihatnya dari teras rumah.
Aku melangkah masuk ke dalam rumah menutup pintu rapat-rapat dan mengikuti langkah bapak yang rupanya masuk ke dalam dapur. Bapak nampak sibuk mengambil nasi di dalam panci dan meletakkannya di atas piring.
"Bapak, emak dimana? Apa Emak tidak pulang?" tanya ku setelah aku menoleh ke kiri dan kanan berusaha mencari sosok emak yang tak kunjung aku lihat.
Bapak duduk di kursi kayu tua lalu membuka penutup makanan yang ada di meja kayu mendapati sepotong ikan kering sisa makanan yang dimakan tadi malam. Ia menghentikan gerakan tangannya lalu menoleh menatapku yang sejak tadi menanti sebuah jawaban dari bapak.
"Emak kau masih ada di rumah sakit. Bapak akan makan sebentar lalu pergi lagi ke rumah sakit," jelasnya lalu melanjutkan kegiatan makannya.
Aku mengernyitkan dahiku sejenak memikirkan kalimat bapak yang ia utarakan tadi.
"Lalu Ari bagaimana, pak?"
Bapak tak menjawab. Ia diam dan hanya suara kunyahannya yang terdengar.
__ADS_1
"Pak, Ari bagaimana?"
"Ari tinggal di sini sendiri."
"Sendiri?"
"Hanya satu malam saja, besok emak dan bapak sudah boleh pulang. Kau menginap di rumah sendiri tidak apa-apa, kan?"
Aku terdiam setelah mendengar penjelasan serta pertanyaan yang terlontar dari bapak. Ia mengelus rambutku untuk sedikit merayuku agar aku mau menurut.
"Tapi Ari takut tidur sendiri di sini."
"Kenapa harus takut? Biasanya kau juga tidur sendiri di kamar."
"Tapi itu, kan beda, pak. Di rumah, kan ada bapak dan emak jadi Ari tidak takut. Kalau Ari tidur malam ini, emak dan bapak tidak ada berarti Ari hanya sendiri."
"Bapak tahu tapi emak kau akan lebih takut jika ia tidur sendiri di rumah sakit. Kau mau kalau emak kau menangis di sana karena kesunyian."
Kalimat itu berhasil membuat aku terdiam. Benar juga yang bapak katakan, harus ada orang yang menemani emak di sana. Aku tak mungkin memaksa bapak untuk menemaniku tidur di rumah sementara emak sedang sakit di sana.
Bapak mengangguk sambil meneguk air yang ada di rongga mulutnya, meletakkan gelas di atas meja dan menoleh menatapku.
"Iya, besok bapak dan emak kau akan pulang dan juga adik baru."
Wajahku yang sedang cemberut kini berubah menjadi sumringah. Senyum mengembang tiada tara mendengar kata adik baru.
"Benarkah? Apakah Ari punya adik baru?"
"Iya kau punya adik baru. Dia perempuan. Nanti malam kau pikirkan nama untuk adik yang bagus untuk adik kau itu dan setelah pagi kau yang akan memberitahu emak tentang nama itu."
Aku mengangguk bahagia. Rasanya tak ada rasa keraguan untuk membiarkan Bapak pergi meninggalkan aku sendiri di rumah.
Tak berselang lama kini aku telah berada di bibir pintu sambil menatap bapak yang nampak meraih sepeda yang ada di tiang rumah.
__ADS_1
"Tutup pintu rapat-rapat ya, Ri! Bapak pergi sebentar, besok bapak pulang."
"Iya, pak. Bapak hati-hati."
Tak ada jawaban lagi dari bapak. Ia meletakkan senter di atas kepala sepeda tuanya lalu mengayuh sepeda itu meninggalkan aku yang dengan cepat menutup pintu rumah.
Aku terdiam sambil menyandarkan tubuhku di permukaan pintu seketika tubuhku. Aku meneguk saliva dalam-dalam saat menatap ruangan rumah yang begitu sangat sunyi. Bergetar saat aku merasakan kesunyian di dalam rumah ini.
Andai saja Ari punya kakak atau pun adik mungkin saja air tidak akan setakut ini. Kalau saja Ari punya kakak mungkin ada yang menemani Ari di rumah ini. Sepertinya inilah resikonya jika menjadi anak tunggal dan anak pertama tapi kini aku kembali tersenyum saat aku mengingat jika aku telah punya adik baru.
Aku berlari masuk ke dalam kamar, menutup pintu rapat-rapat lalu naik keranjang dan menyelimuti seluruh tubuhku dengan selimut. Semoga saja tak ada suara-suara yang menakutkan di malam ini.
Tuhan tolong jaga Ari.
...****...
Keributan sudah terdengar di depan rumahku sejak tadi saat aku merapikan tempat tidurku. Aku membuka jendela rumah mendapati beberapa orang yang sedang bergosip di sana. Sepertinya mereka masih membahas tentang emak yang dirujuk ke rumah sakit. Aku tidak mengerti mengapa orang-orang sangat gemar menceritakan hal-hal yang sudah berlalu.
Emak sudah akan pulang hari ini tapi mereka masih menceritakan hal tersebut tanpa sebuah rasa bosan. Sampai kapan cerita itu akan berakhir? Ya, sebenarnya aku tidak terlalu mendengar apa yang mereka katakan namun, aku bisa melihat dari ekspresi wajah mereka sambil mereka sesekali menoleh ke arah rumah.
Mungkin mereka juga bergosip karena telah meninggalkan anak berusia 8 tahun di rumah sendirian. Ari tidak masalah. Yang akan menghadapi kesunyian malam adalah Ari, bukan mereka lalu mengapa mereka semua yang merasa pusing.
Aku membersihkan rumah, menyapu lantai dan mencuci piring bekas makan bapak semalam. Aku tak sarapan pagi hari ini. Seperti biasa adik kan tidak tahu memasak. Aku tidak tahu bagaimana caranya memasak sayur dan nasi.
Aku juga tidak ingin pergi bermain karena hari ini kan hari selasa, tak ada teman-teman di jam-jam pagi seperti ini karena mereka semua sibuk belajar.
"Assalamualaikum. Emak pulang."
Teriakan dari luar itu membuat kedua mataku terbelalak kaget. Itu suara emak. Aku bisa mengenali suara itu dengan jelas.
Aku segera beranjak dari kursi lalu berlari keluar rumah mendapati sosok emak yang nampak melangkah menuju masuk ke rumah sambil menggendong bayi mungil yang berselimutkan sarung.
Itu adalah adik baru, Ari!
__ADS_1
...📗📗📗...