
...✏️✏️✏️...
Aku menghela nafas duduk panjang dan duduk di atas kursi plastik hingga kedua mataku bergerak menatap ke arah dinding yang berpusat pada sebuah jam yang telah menunjukkan pukul 08.00 masih banyak waktu untuk mendaftar.
Ari hanya ingin mendaftar.
Kini Ari hanyalah memutuskan untuk diam, di tempat duduknya dengan sebuah harapan yaitu ia pergi untuk mendaftarkan diri di sekolah dasar.
Mungkin ini adalah sebuah permintaan hal kecil, sebuah impian kecil yang mungkin saja bisa terwujud namun, akankah sosok seorang Ari gang sepertinya tidak mendapat sebuah dukungan untuk sekolah.
"Ari!" teriak emaknya membuat Ari tersenyum gembira.
"Iya, Mak," sahut Ari dengan raut wajah bahagia.
Ia tanpa berpikir panjang segera berlari masuk ke dalam rumah, mungkin saja emaknya sudah berubah pikiran dan telah memiliki sebuah niat untuk mengajaknya mendaftar sekolah, benar atau tidak tapi kini Ari harap akan seperti itu.
"Ada apa, mak?" tanya Ari yang telah menahan rasa kebahagiaannya yang siap meledak di detik ini juga.
Tanpa menoleh emaknya yang sedang mengangkat panci besar itu berujar, "Bantu emak mengangkat panci ini! Emal ingin masak air untuk minum kita nanti malam."
Seketika senyum Ari lenyap disaat itu juga. Ari berpikir jika emaknya memanggil dirinya untuk mengajaknya mendaftar tapi ternyata emaknya hanya membutuhkan bantuannya, bantuan kecil.
Diiringi dengan wajah cemberut Ari mendekati sang emak membantu untuk mengangkat panci berisi air itu ke atas tumpukan batu yang telah diatur menyerupai kompor.
Di sini tak ada tabung gas, hanya mengandalkan sebuah api dan kayu bakar kata emak emak tidak punya banyak uang untuk membeli tabung ataupun kompor ditambah lagi semakin hari semakin melonjak harga pembelian tabung gas
Ari mengangkat panci itu dengan susah payah dan setelahnya Ari terdiam kedua matanya kembali fokus menatap sang emak yang nampaknya tak peduli dengan dirinya setelah Ari membantunya untuk mengangkat panci ke atas tempat memasak tempatnya seakan tak peduli lagi dengannya. Dia tak pernah bertanya mengapa Ari terus diam di dekatnya ia tetap saja sibuk mendorong kayu agar apinya tetap menyala.
Namun, sepertinya ini bukan sebuah akhir, Ari harus semangat! Ari tidak boleh putus asa mungkin saja setelah memasak air emaknya akan mendaftarkan dirinya ke sekolah.
Ari mendekati sang emak dengan senyum tipis ciri khas anak-anak.
"Pendaftaran akan tertutup jam 12.00 Ari tunggu di luar ya!" ujar Ari yang kemudian melangkah walau sejujurnya langkah Ari begitu ragu ia tak yakin pada ucapannya sendiri.
__ADS_1
Ari kembali melangkah duduk di ruang tamu persis di tempat yang tadi di atas kursi plastik yang sedikit terkelupas menata permukaan jam dinding yang terus bergerak menunjukkan waktu.
Beberapa detik kemudian kedua matanya berkedip ia mengingat sesuatu jika ia menginginkan sesuatu maka ia harus berbuat sebuah kebaikan atau merebut hati sang emak agar emaknya mau mengizinkannya untuk mendaftar sekolah.
Ari bangkit, berlari kecil dan meraih tumpukan kain yang telah dicuci dan telah mengering. Ia meletakkan di atas karpet, melipatnya dengan sebaik-baiknya dan semampunya.
Ari tak pernah melipat pakaian dan emaknya yang selama ini selalu melakukannya tapi kali ini hari ingin merebut hati sang emak hari ini agar emaknya setuju jika ia mendaftar sekolah.
Ari sesekali bersenandung menikmati setiap gerakan lipatan yang ia lakukan pada pakaian yang ia lipat.
"Kalau ari sekolah nanti Ari akan beli tas yang bagus. Ari juga akan memakai seragam sekolah seperti teman-teman yang lain seperti Angga, Ririn, Cai dan Ami."
"Ari juga akan bermain bersama mereka berangkat sekolah sama-sama dan juga pulang sama-sama."
"Kalau Ari sekolah Ari pasti akan bahagia dan ketemu banyak teman mendapat teman baru dan mendapat uang jajan dari emak."
"Ari tidak sabar masuk dan duduk di dalam bangku dan tidak panas-panasan seperti ini."
"Ari akan janji kalau Ari sekolah nanti Ari akan datang paling cepat dan pulang paling lambat. Ari akan mengerjakan PR dan menyapu kelas."
"Ari mau seperti itu. Ari juga mau kalau setelah sekolah nanti Ari menjadi orang kaya seperti orang Cina itu, orang Cina itu yang memiliki toko, dia pintar menghitung uang berarti dia pernah sekolah dan sekolah bisa mendapatkan uang.
"Kalau Ari sekolah pokoknya Ari ingin sekolah," ujar Ari sambil melipat hingga tak berselang lama kedua alis Ari mengernyit.
Ia menatap cepat ke arah pintu di mana sosok Emaknya berdiri di sana.
"Emak," bisik Ari yang nyaris tak terdengar.
Emaknya terlihat meneguk salivanya, diam mematung menatap sang anak dan setelahnya ia melangkah masuk lagi ke dalam dapur meninggalkan sosok Ari yang kini memantung di tempat duduknya dengan tangan yang masih melipat pakaian.
Ari kini diam memikirkan satu hal apakah Emaknya mendengar ucapannya, ya mungkin saja.
Ari melangkah cepat mendekati sang emak yang nampak meraih kain kecil yang biasa digunakan untuk mencuci piring menatap aneh pada sang anak yang terlihat tersenyum seperti biasanya.
__ADS_1
"Hari ini biar Ari yang mencuci piring, ya, mak," ujar Ari membuat wanita di hadapannya itu semakin kebingungan.
"Apa kau ingin cuci piring?"
"Iya hari ini Ari yang cuci piring. Emak masak saja biar Ari ya cuci piring," ujar Ari yang langsung duduk di atas bangku kecil dan mulai melakukan aksinya.
Ia mengusap piring, gelas dan peralatan makan sambil tersenyum bahagia memberikan isyarat bahwa apa yang ia lakukan sekarang adalah hal yang menyenangkan.
Emaknya dibuat kebingungan, sosok Ari benar-benar berbeda dari yang biasanya, sepertinya Ari menginginkan sesuatu. emaknya melangkah keluar menatap kursi yang sudah tak dihuni oleh tumpukan pakaian yang telah ia jemur dengan rasa penasaran emaknya melangkah masuk ke dalam kamar, membuka lemari tua yang di dalamnya terdapat pakaian yang telah dilipat oleh Ari.
Putranya itu sepertinya berubah, seketika pria kecilnya menginginkan sesuatu sampai-sampai ia secara pelan-pelan sedang merayunya menginginkan satu hal yang diinginkan semua anak-anak, sekolah hal kecil itu yang diinginkan dari bocah berusia 7 tahun tapi harus bagaimana sekarang apakah ia harus mendaftarkan putranya tapi sebuah kenyataan pahit harus setia lihat jelas-jelas di depan mata.
Setelah beberapa menit ia duduk terdiam ia akhirnya memutuskan untuk melangkah keluar. Baru saja ia membuka pintu kamar ia mendapati sosok anaknya yang sedang menyapu lantai rumah.
"Ari!"
Ari yang sedang menyapu itu menoleh, ia tersenyum begitu ceria.
"Ari sedang menyapu. Ari lihat lantainya sedikit koto,r Ari akan menyapu, Mak," ujar Ari semangat.
Emaknya tersenyum lalu menghela nafas panjang dan kembali melangkah.
"Ke mana?" tanya Ari.
"Emak ingin mengambil air."
"Biar Ari yang ambilkan, airnya untuk mandi, kan?"
Emaknya mengangguk membuat Ari kembali bicara, "Biar Ari yang ambilkan."
Ari kemudian meletakkan sapu di dinding dan melangkah keluar rumah sedetik kemudian Ari kembali muncul di pintu masuk.
"Mak setelah Ari mengambil air di sungai kita akan pergi mendaftar sekolah, kan? Kalau ingin mendaftar sekolah tunggu Ari! Ari mengambil air dulu."
__ADS_1
Itu yang dikatakan Ari yang kemudian melangkah pergi meninggalkan sosok emaknya yang kini terdiam mematung menatap area pintu.
...📗📗📗...