Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
30. TERNYATA ITU ALASANNYA


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


Hari demi hari berlalu begitu cepat. Terasa tanpa aku perlu menghitungnya. Aku pernah menghitung hari hanya untuk menanti tahun ini tapi tahun ini mengajarkan aku arti dari kesedihan yang paling nyata. Adik yang aku jaga berusia beberapa bulan itu kini telah mampu berjalan dan berlari. Usianya kini telah genap 2 tahun.


Setiap hari aku harus menjaganya, mengurus makannya dan menemaninya bermain sementara emak sibuk bekerja. Semenjak emak bekerja kehidupan kami terjamin. Emak selalu pulang jam 09.00 malam sambil membawa makanan yang begitu enak.


Semenjak emak bekerja sebagai pembantu, emak selalu membelikan aku baju baru, membelikan adikku mainan dan makanan. Aku setiap hari akan mendapat uang jajan.


Dan setiap hari aku juga telah akrab dengan kebiasaanku dan beradaptasi dengan tugasku setiap hari. Jika pagi seperti ini emak sudah akan pergi ke rumah saudara pak haji Asbar itu. Aku tak tahu apa yang emak lakukan di sana tapi kata Angga kalau pembantu itu adalah orang yang membersihkan rumah seperti menyapu dan memasak.


Sebenarnya aku tidak mengerti mengapa orang-orang kaya seperti mereka tidak bisa melakukan kegiatannya sendiri. Apakah mereka tidak punya tenaga yang banyak untuk membersihkan rumah mereka sendiri ataupun memasak dan harus membutuhkan tenaga orang miskin seperti kami ini.


Aku tidak apa-apa jika emak bekerja sebagai pembantu di sana dan itu semua emak lakukan karena anak-anaknya, aku dan Ara. Tujuan emak bekerja hanya untuk aku berdua.


Sore itu tepat setelah salat asar aku dengan adikku sedang bermain bersama dengan teman-temanku yaitu, Angga, Ririn Cai dan Ririn. Kami sedang bermain lempar-lempar sendal tapi saat itu aku tak bisa bermain seperti biasanya.


Aku sesekali harus menjaga adikku yang ikut berlari di belakangku bagaikan ekor.


"Ari!" teriak kakak Nur.


Ia meneriakiku membuat aku mendekatinya.


"Ada apa kakak Nur?"


"Kenapa kau tidak sekolah? Pendaftaran sudah lewat."


Aku hanya tersenyum tipis.


"Kenapa? kau tidak suka tidak suka sekolah"

__ADS_1


"Aku tidak bisa sekolah karena aku harus menjaga adikku," jawabku lalu beranjak pergi meninggalkan kakak Nur sebelum ia kembali bertanya kepadaku.


Setiap kali pertanyaannya terlontar darinya membuat aku menjadi sangat sedih.


"Oh Ari! Ara!"


Suara itu terdengar membuat aku menghentikan lari.


"Ari! Emak kau datang," ujar Kakak Nur memberitahu.


Aku menoleh menatap ke arah emak yang terlihat duduk di samping tante Ati membuat aku kembali melanjutkan permainanku. Sepertinya Emak belum akan pulang ke rumah dan akan menghabiskan waktunya berbincang-bincang dengan emak Ati yang sedang sibuk bekerja itu.


Tanpa sengaja aku mendengar percakapan mereka. Aku diam sejenak hingga akhirnya kalimat ini terdengar membuat aku menghentikan lariku dan mendekatkan tubuhku pada permukaan batu bata yang disusun tinggi di atas.


Aku bisa mendengar suara percakapan mereka dari sini dengan jelas tanpa mereka ketahui kalau aku berada di belakang susunan batu bata itu.


"Kenapa tidak sekolah? Umurnya anak kau kan sudah 9 tahun seharusnya Ari itu sudah sekolah."


Aku mengintip di bagian celah menatap emak yang terlihat tersenyum tipis sepertinya senyuman itu bukanlah senyum tulus tapi senyum yang tidak nyaman dengan kalimat dari emak Cai.


"Aku tahu. Sebenarnya aku juga ingin menyekolahkan Ari tapi Ari tidak punya akte kelahiran karena sekolah itu kan tidak hanya sekedar mendatar tapi harus punya akte kelahiran dan Ari tidak punya akte kelahiran."


"Kau tahu kan kalau dulu aku dan bapaknya Ari itu kawin lari jadi aku tidak punya surat nikah untuk membuat akte kelahiran."


"Kalau masalah itu gampang. Kau kan sudah punya kartu keluarga jadi kau bisa mendaftar di sana di bagian pemerintah. Datang saja ke sana mereka akan melayani kau."


"Tidak semudah itu. Aku malu."


"Kenapa harus malu? Tahan saja malunya demi anak-anak kau. Kalau kau hanya mementingkan rasa malu berarti kau tidak bisa menyekolahkan anak-anak kau itu."

__ADS_1


"Biar saja mereka tidak sekolah daripada aku malu. Kau tahu kan pandangan orang-orang seperti apa?"


"Apalagi umurku dan umur bapaknya Ari juga tidak mudah lagi. Mereka pasti akan berpikir hal yang buruk jika mendengar kata kawin lari."


"Apalagi namaku sudah dihapus sebagai anggota keluarga pada keluarga emak aku. Aku sudah tidak punya apa-apa lagi selain mereka semua."


"Kau tahu kan aku meninggalkan suamiku dan beberapa anakku hanya untuk kawin lari bersama bapaknya Ari."


"Aku malu jika harus menghadap ke pegawai pemerintah untuk meminta akte kelahiran untuk Ari."


Aku kini terdiam saat mendengarnya. Ternyata itu yang menjadikan alasan kenapa aku tidak bisa sekolah dan inilah alasan emak mengatakan aku dan Angga berbeda. Ternyata inu yang membedakan aku dengan Angga.


Kini aku telah mengerti dengan semuanya. Angga punya akte kelahiran sedangkan aku tidak punya dan itu lah mengapa Angga sekolah sedangkan aku tidak.


Aku pikir mendaftar sekolah hanya sekedar mendaftar saja tapi ternyata harus memberikan beberapa surat-surat penting untuk bisa sekolah dan aku tidak punya itu. Yang aku ketahui juga adalah emak juga menginginkan aku sekolah tapi keadaan tidak bisa mewujudkan hal tersebut.


Kini aku terdiam di atas tanggul sendirian. Arah pandangan ku menatap ke depan sana. Ara sudah pulang ke rumah bersama dengan emak dan beberapa teman-temanku juga sudah pulang ke rumah.


Suara azan berkumandang telah berbunyi merdu. Langit yang berwarna orange terlihat di sudut langit memperlihatkan matahari yang sepertinya akan tenggelam di sana. Pemandangan yang begitu sangat indah tapi tidak dengan hatiku.


Kini pikiranku hanya tertuju pada kalimat emak dan sebuah fakta mengenai alasan mengapa aku tidak bisa sekolah.


Aku tidak bisa sekolah bukan karena masalah biaya ataupun adik baru tapi itu semua karena aku tidak punya akte kelahiran bahkan.


Aku bahkan baru mengetahui kalau bapak dan emak tidak punya KTP atau kartu tanda pengenal sehingga mereka tidak bisa mengurus akte kelahiranku. Pernikahan mereka yang tidak sah secara negara membuat aku tidak bisa mendaftarkan diri.


Jika seperti ini aku sudah tidak bisa memaksakan diri atau memaksakan emak agar aku bisa sekolah. Sekarang jika aku tidak sekolah maka tidak apa-apa. Tidak apa-apa jika aku tidak sekolah mungkin Tuhan telah menakdirkan aku tidak sekolah. Biarkanlah teman-temanku itu yang sekolah dan aku berharap teman-temanku akan menjadi orang yang sukses seperti orang-orang kaya yang aku lihat


Dan biarlah aku seperti ini dalam kehidupan sederhana dan menguburkan semua impian.

__ADS_1


...📗📗📗...


__ADS_2