Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
22. PERSIAPAN SEKOLAH


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


Aku mematuhi kembali pada kebiasaanku setiap pagi dan sore hari yang lebih memilih menikmati pemandangan alam yang setiap harinya pula selalu kukagumi. Seperti biasanya pegunungan dengan area persawahan yang kini terlihat menjadi sunyi sepertinya Paman Santoso telah benar-benar menyelesaikan tugasnya.


Udara sore ini benar-benar begitu menyenangkan bagiku walaupun tubuhku berada di atas tanggul ini tetapi pikiranku tertuju pada satu hal yaitu, harga seragam yang aku dengar dari wanita yang mirip penyihir di toko itu. Aku pikir wanita itu salah mengucapkan harga tapi ternyata tidak, harganya benar-benar mahal.


Aku sama sekali tidak mengerti mengapa harga seragam memiliki harga yang begitu mahal. Aku pikir harga seragam yang teman-temanku gunakan itu tidak memiliki harga yang sangat tinggi tapi ternyata harganya di luar dari dugaanku. Mengapa harga seragam sekolah itu sangat mahal jika saja harga seragam sekolah itu tidaklah mahal mungkin bapak akan memberikannya untukku, ya mungkin saja jika dia punya uang lebih.


"Ari!!!"


Suara teriakan kompak itu berhasil membuat aku menoleh menatap teman-temanku yang berlari ke arah aku dengan senyum yang membias dari raut wajah mereka yang begitu sangat ceria sore ini. Aku juga bisa melihat sosok Angga yang membawa sebuah buku, aku tidak tahu buku apa itu tapi aku bisa melihat ada beberapa gambar di sana.


Mereka menghentikan langkahnya lalu duduk tepat disampingku membuat aku memandanginya satu persatu.


"Kalian semua kenapa? Apakah kalian ingin bermain?" tanyaku.


"Ari!" ujar Angga yang menepuk bahuku dengan keras membuat aku tersentak.


"Jangan memikirkan tentang bermain! Kau ingin sekolah kan? Tahun ini kau akan sekolah. Kau akan mendaftar dan akan bergabung di sekolah kami-"


"Maka sebelum itu kau harus belajar," potong Ami membuat Angga membicarakan bibirnya dengan kesal.


"Belajar?" tanya aku kebingungan.


"Iya belajar. Aku akan memberitahu kau sebuah rahasia."


"Rahasia?"


"Iya rahasia. sebenarnya kami sudah bekerja sama akan membantumu membaca jadi kalau kau sudah masuk ke kelas setelah mendaftar sekolah kau akan menunjukkan kepada ibu guru kalau kau adalah anak pintar," jelas Angga.


"Betul, Ari. Kalau kau pintar membaca sebelum kau masuk sekolah maka kau akan mendapat sanjungan kepada ibu guru dan kau akan menjadi siswa yang paling disayangi," jelas Angga melebih-lebihkan.


"Betul itu," sahut Cai dan Ririn dengan kompak.

__ADS_1


"Tapi kau jangan lupa kalau aku yang menjadi guru dan aku yang akan mengajarimu membaca."


"Kalau ibu guru kau bertanya siapa yang mengejarmu membaca maka kau harus berdiri di atas kursi dan mengucapkan nama aku sambil menepuk dada dengan rasa bangga kalau anggahlah yang telah mengajarimu membaca," ujar Angga yang bangkit dari tanggul sambil menepuk dadanya dengan bangga.


"Bener dan aku akan mengajarimu menghitung menghitung 1 sampai 10," hai madahut Ami.


"1 sampai 10? Itu sangat mudah. Ari!" panggil Angga yang menarik bahu Ari membuat aku tersentak ke ketarikan tangan Angga.


"Ari, jangankan 1 sampai 10, aku akan mengajarimu 1 sampai 100."


"Jangan terlalu banyak-banyak! Ari tidak akan bisa jika 1 sampai 100. Kita akan mengajarinya yang lebih mudah yaitu 1 sampai 10."


"Kalau kau sudah besar maka kau akan mencoba menghitung 1 sampai 100," lanjut Ami.


"Nah, kalau kau sudah bisa menghitung 1 sampai 10 bahkan 100 berarti kau sudah jadi orang pintar," bisik Angga dengan suara yang mirip dengan hasutan.


"Benarkah?"


"Iya tapi tidak semudah itu menjadi orang pintar karena sesungguhnya orang pintar harus pintar membaca kalau hanya sekedar menghitung anak kecil juga bisa," jelas Angga.


Jika aku pintar membaca dan menghitung sebelum pendaftaran sekolah maka aku akan menjadi anak yang lebih pintar di sekolah seperti yang dikatakan oleh teman-temanku yaitu, Ari, Ami, Angga, Cai dan Ririn.


Semenit kemudian setelah kami berkeliling mencari tempat yang nyaman untuk belajar kami memutuskan untuk tetap berada di tempat tanggul tepatnya di sekitaran dekat pohon kayu cina yang memiliki daun lebat.


Selain di tempat ini tidak jauh dari tempat bekerjanya emak dari di sini juga kami tak mendapat sengatan matahari yang akan mengganggu aku belajar.


Angga membuka bukunya lebar-lebar, sedikit ada beberapa sobekan dan terlihat agak kusut serta kotor sepertinya buku ini telah lama dan telah sering digunakan saat belajar. Aku bisa melihat dari ujungnya yang banyak terlipat dan berwarna kecoklatan bahkan ada beberapa sobekan di sana.


"Lihat ini!"


Kedua mataku membulat menatap huruf yang aku tidak pernah lihat sebelumnya tengah ditunjuk oleh Angga dengan ujung jari telunjuknya dengan kuku yang terlihat kotor, ya mungkin sebelumnya Angga telah menggaruk tanah tadi.


"Ini adalah huruf A."

__ADS_1


Aku mengangguk dan mengerti.


"Cepat bilang A!"


"A."


"Lebih panjang!"


"Aaaa--ahahaha," aku sedikit tertawa saat mengucapkannya membuat Angga juga ikut tertawa.


Aku tak mengerti sebenarnya apa yang lucu tapi melihat Angga yang menyebutkannya begitu terlihat sangat lucu.


"Yang ini huruf B. Cepat bilang huruf B!"


Aku kembali tertawa saat aku menirukan suara kambing membuat Cai dan Ririn ikut tertawa.


"Kau terlalu bermain-main, Ari! Kalau kau ingin pintar maka kau harus serius," jelas Ami menggurui.


Aku menghela nafas pendek berusaha untuk bersikap serius. Dari sekian beberapa temanku hanya Ami yang memiliki sikap yang sedikit tegas sementara Angga memiliki sikap yang sering menghasut, sering menyombongkan diri dan masih banyak lagi.


Semenit kemudian aku sudah mengetahui beberapa huruf seperti A B dan C, tak mudah untuk harus menghafalkannya kadang aku dibuat garuk-garuk kepala saat Angga atau Ami menunjuk huruf dan aku harus menebaknya. Awalnya aku pikir membaca adalah hal yang sangat mudah tapi ternyata sangatlah susah.


Hanya tiga huruf dan aku rasanya telah sangat lelah tapi satu hal yang membuat aku harus lah bersemangat yaitu, teman-teman yang aku miliki lebih bersemangat maka aku harus jauh lebih semangat daripada mereka.


Mereka sepertinya begitu sangat bersemangat mengajari aku dan aku tidak boleh bermalas-malasan atau menghabiskan waktuku dengan banyak tertawa seperti apa yang dilakukan oleh Cai dan Ririn. Aku tak mengerti apa yang lucu bagi kedua temanku itu yang sesekali tertawa, ya mungkin mereka tertawa karena aku yang sesekali salah dalam pengucapan.


Hal yang paling menguntungkan dalam diriku adalah mempunyai teman-teman seperti mereka. Kata orang memiliki teman memanglah mudah tapi memiliki sahabat begitu sangat susah. Teman dan sahabat memang sangat sulit untuk harus dibedakan.


Kadang seseorang yang kita sebut sahabat bisa saja berubah menjadi teman dan teman biasa saja berubah menjadi sahabat tapi aku yakin teman dan sahabat jika tidak bisa mengajak kita pada sebuah perubahan maka itu tidak ada saja gunanya.


Terima kasih teman-temanku.


Pengetahuan yang aku ketahui hari ini adalah hal yang sangat berarti bagi diriku.

__ADS_1


Ari sayang kalian.


...📗📗📗...


__ADS_2