Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
29. PUNYA ADIK BERARTI TIDAK SEKOLAH


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


"Tapi kenapa Ari tidak sekolah?"


Emak tak menjawab. Ia hanya diam sambil sesekali menepuk bagian tubuh adik kecilku yang masih menyusui itu.


Air mataku ingin menetes tapi aku berusaha untuk tetap menahannya. Sekuat tenaga aku menahannya sampai tumbuh ku terasa bergetar.


"Semua teman-teman Ari sekolah, ujarku yang begitu tak terima dengan ujaran emak.


"Itu teman kau bukan diri kau. Kau dan mereka berbeda. Kau jangan menyamakan diri kau dengan teman-teman kau itu!"


"Tapi kenapa mak? Bukankah semuanya sama saja. Aku dan mereka tak ada bedanya."


Emak menarik nafas dalam-dalam sepertinya emak juga tak terima dengan apa yang aku katakan. Ia menoleh menatapku dengan wajah yang begitu sangat serius. Hari ini aku melihat sisi yang benar-benar berbeda dari emak yang selama ini tak pernah kulihat sebelumnya.


Emak menatap sangat serius ke arahku lalu kembali mengatakan, "Bagaimana caranya emak memberitahu ini kepada kau tapi takdir mengatakan kalau kau tidak bisa sekolah seperti teman-teman kau itu."


"Tapi kenapa?"


"Karena kau punya adik."


Aku dibuat terdiam dengan wajah kebingungan. Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang emak katakan.


"Punya adik? Apa masalahnya kalau Ari punya adik dan Ari tidak sekolah? Apa hubungannya?"


"Ada hubungannya. Kalau kau sekolah maka siapa yang akan menjaga adik kau itu? Lagi pula emak akan kerja di rumah saudara pak haji Asbar sebagai pembantu dan emak tidak akan berada di rumah cukup lama."


"Kau yang harus menggantikan emak dan menjaga Ara. Kalau kau sekolah itu berarti tidak ada yang menjaga Ara di rumah."


"Siapa yang menjaga Ara jika kau sekolah?"


"Ara bisa ikut sama emak," jawabku.


"Tidak bisa. Bagaimana bisa Emak harus membersihkan rumah sambil menjaga adik kau itu. Adik kau kan masih kecil kalau dia menangis di sana lalu siapa yang akan membersihkan."


"Bos pasti akan marah," sambungnya.


Aku hanya terdiam hingga enak kembali bicara.


"Emak tahu kau ingin sekali sekolah tapi takdir berkata dan menakdirkan kalau kau tidak boleh sekolah."


"Tapi Ari ingin sekolah, mak."


"Ari kalau kau sekolah siapa yang akan menjaga adik kau itu. Punya adik berarti kau tidak sekolah."


"Tapi teman-teman semuanya sekolah-"


"Karena mereka tidak punya adik-" potongnya.

__ADS_1


"Kau punya adik sedangkan mereka tidak punya adik. Mereka tidak punya adik untuk dijaga dan itulah mengapa mereka sekolah."


Kini air mataku benar-benar menetes membanjiri dan menbasihi pipiku yang terasa memanas. Rasanya hatiku dan dadaku ini terasa disayat-sayat serta ditikam dengan berlatih begitu sangat sadisnya. Aku terisak dihadapan emak sementara emak hanya terdiam seakan tak peduli dengan air mataku yang mengalir ini.


Aku tak menangis karena air mata bohongan atau buatan tapi ini real dari hatiku yang paling dalam. Aku benar-benar merasa sedih dengan kejadian ini, benar-benar menyakiti hatiku tapi aku tak bisa mengatakannya langsung kepada emak.


Aku tak bisa mengatakan kalau aku benar-benar merasa sakit hati dengan ujaran emak


"Tapi Ari ingin sekolah, mak," ujarku terisak tapi sepertinya mendengar suara isakan itu dengan jelas membuat emak kembali menoleh menatapku.


Ia mengeluh, menghela nafas panjang lalu ia mengelus kepalaku sambil tersenyum. Senyum yang samar-samar terlihat, tersenyum tapi rauut wajahnya terlihat sedih.


"Emak minta maaf tapi kau harus mengerti keadaan sekarang. Emak tidak bisa menyekolahkan kau."


"Kalau kau sekolah maka tidak ada yang menjaga adik kau dan itu berarti emak akan tinggal di rumah dan menjaga adik kau."


"Apa emak harus menolak pekerjaan dari saudara pak haji Asbar untuk menjadi pembantu sedangkan bapak kau itu tidak punya pekerjaan yang menghasilkan uang yang cukup untuk biaya hidup."


"Mata pencaharian bapak kau hanya di sungai dan kadang dia pulang tanpa membawa uang. Yang dihasilkan dalam setiap harinya tidak banyak, kalaupun ada itu tak cukup untuk membeli beras."


"Kalau hanya mengandalkan pekerjaan bapak kau saja yang hanya memancing ikan itu lalu menjualnya kepada orang-orang sekitar tidak cukup untuk kehidupan kita."


"Sekarang emak tidak hanya menghidupi kau seorang diri tapi menghidupi adik kau ini. Semakin berjalannya waktu semakin banyak pula biaya yang akan keluar."


"Emak tahu kau ingin sekali sekolah tapi kau juga harus mengerti tentang keadaan keuangan saat ini."


"Emak tahu kau benar-benar ingin sekolah tapi emak tidak tahu caranya menyekolahkan kau, nak."


"Emak sebenarnya ingin kau sekolah tapi biaya dan keadaan tidak mendukung kau sekolah."


"Kau dan teman-teman kau itu berbeda. Jangan melihat teman-teman kau itu! Teman-teman kau itu berbeda."


"Lihat saja Ami! Ami punya mobil, punya sawah yang luas, rumah yang tinggi besar dan hanya keadaan saja yang mengharuskannya tinggal di rumah tua seperti itu."


"Tapi dia memiliki penghasilan yang banyak. Kau jangan-jangan melihat teman kau yang bernama Cai dan Ririn itu. Mereka juga anak orang kaya. Dia punya banyak motor dan orang tua Cai punya dua anak yang sedang kuliah."


"Dia kerja sebagai pembuat batu bata dan penghasilannya banyak. Tidak seperti kita, nak."


"Lalu bagaimana dengan Angga?" tanya ku dengan nada terisak sambil sesekali mengusap air mata yang mengalir dan membasahi pipiku.


"Kau tahu, kan Angga juga keuangannya sering menipis tapi ada satu hal yang Angga punya dan kau tidak punya."


"Apa mak? Apa yang Agga punya sedangkan Ari tidak punya."


"Ada beberapa?"


"Apa Mak? Bagi Ari sama saja. Ari punya kepala untuk berpikir dan Angga juga seperti itu. Angga punya tas ataupun buku untuk belajar, Ari juga punya kalau emak membelikan untuk Ari."


"Tapi kalau memang emak tidak punya uang untuk membelikan seragam untuk Ari, Ari tidak apa-apa."

__ADS_1


"Daftarkan saja dulu Ari lalu setelah itu Ari akan membeli seragamnya nanti. Ari akan membantu Paman Santoso menabur pupuk di sawahnya."


"Paman Santoso selalu memberikan Ari uang dan uang itu akan Ari kumpulkan untuk membeli seragam sekolah."


Emak menarik nafasnya dalam-dalam, sepertinya ia sudah lelah menghadapi aku. Emak menyentuh kepalannya dengan erat dan menekannya dengan keras. Entah mengapa emak rasanya sangat benar-benar marah kepada Ari.


Aku tak tahu apakah kalimat ini terlalu berlebihan tapi inilah kemauanku. Aku benar-benar ingin sekolah.


"Cukup Ari. Emak sudah tidak bisa menahan kesabaran. Jangan membuat emak marah!"


"Emak tidak bisa menyekolahkan kau. Kau tidak sekolah. Sekali emak bilang tidak sekolah maka kau tidak sekolah."


"Tapi Mak, Ari sangat ingin-"


"Cukup Ari! Emak tidak bisa menyekolahkan kau! Kenapa kau tidak bisa mendengar?!!"


"Kau tidak sekolah karena kau punya adik!!! Kau harus menjaga adik kau itu-"


"Tapi Ari ingin-"


"Diamlah Ari!!!" teriak emak yang benar-benar membuat aku tersentak kaget.


Jantungku seakan ingin melompat keluar dari tempatnya. Jantungku berhenti berdetak hingga aku bisa merasakan seluruh tulangku terasa ngilu saat emak membentakku. Untuk pertama kalinya sosok wanita yang begitu sangat aku sayangi telah membentakku.


Sekarang aku percaya jika bentakan seorang emak benar-benar menyakitkan hati anak. Perlu kalian ketahui bahwa rasa sakit yang didapat dari seorang anak akan datang dari perkataan atau bentakan dari emaknya dan sekarang ini yang aku rasakan.


Aku benar-benar merasakan rasanya hati yang diiris-iris, ini tidak termasuk dengan kalimat puitis atau sebuah puisi tapi ini sebuah isi hati.


Aku berlari masuk ke dalam kamar karena tak tahan lalu menutup pintu rapat-rapat dan menyandarkan tubuh yang lemas ini pada permukaan pintu. Aku diam sambil menggigit ujung jejarin tangan dan membungkam mulutku rapat-rapat berusaha untuk menahan suara agar tidak keluar dari rongga jemari tanganku.


Aku menangis sesenggukan lalu berlari ke atas kamar dan akhirnya menumpahkan tangisan itu. Aku menutup mulutku dan menyumbatnya di sebuah bantalan berusaha untuk menahan tangisan yang benar-benar tak bisa lagi terkendali.


Kedua mataku memerah karena air mata yang mengalir membasahi hingga ke permukaan bantal. Kemauan yang begitu telah lama aku simpan menggugur dalam hati. Siang dan malam hal yang terus aku pikirkan akhirnya terdapat sebuah jawaban.


Jawaban yang begitu sangat menyakitkan hati. Kalimat tidak sekolah, hanya beberapa kalimat dan itu membuat aku begitu sangat sedih dan putus asa rasanya setelah mengetahui hal itu. Aku tahu ini benar-benar sangat menyakitkan.


Mungkin sebagian orang ini terlalu agak berlebihan tapi inilah sebuah kenyataan. Setiap hari aku membayangkan betapa indahnya sekolah bersama dengan teman-teman, bermain bersama mereka dan belajar bersama guru-guru yang hebat.


Aku pernah melihatnya saat aku melintasi sekolah. Aku melihat mereka semua terlihat begitu bahagia sambil menggendong tas yang beragam warna dan bentuknya membuat aku semakin semangat untuk sekolah tapi entah mengapa dengan kalimat itu meruntuhkan semua mimpiku, hancur rasanya.


Aku mendongak menatap langit-langit rumah yang terdapat beberapa sarang laba-laba. Aku mendongak seakan menatap Tuhan di atas sana.


Tuhan lihat aku!


Keadaan apa yang Engkau berikan kepada bocah kecil berusia 8 tahun yang hanya menginginkan untuk sekolah ini. Hanya sekolah yang aku inginkan. Aku tidak menginginkan hal yang lain tapi mengapa harus ditakdirkan seperti ini.


Keinginan Ari hanya itu, sekolah dan sekolah tapi semuanya berlalu begitu saja. Kalimat itu benar-benar menyakitkan dan intinya adalah, Ari tidak sekolah.


...📗📗📗...

__ADS_1


__ADS_2