Emak, Aku Ingin Sekolah

Emak, Aku Ingin Sekolah
17. SEKOLAH ITU MENYENANGKAN


__ADS_3

...✏️✏️✏️...


Aku kembali duduk di atas tepian pinggir tanggul pemandangan yang seperti biasanya selalu menjadi objek penghibur. Truk-truk yang lewat di depan sana menjadi hiburan tersendiri bagi diriku yang masih menanti sosok teman-teman yang tak kunjung datang padahal sekarang telah menunjukkan pukul 02.00 siang.


Biasanya kami sudah asyik bermain jika jam sudah seperti ini tapi mereka bahkan tak kunjung muncul. Apakah aku harus kembali menunggu kedatangan mereka seperti yang terjadi pagi tadi.


"Ari!" teriak teman-temanku dengan kompak sambil berlari ke arahku membuat aku menoleh menatap sosok Ami, Angga Cai dan Ririn.


Aku seketika tersenyum lebar menatap kedatangan teman-teman yang sejak tadi telah aku nantikan. Hari ini akhirnya aku bertemu dengan mereka semua.


"Kau sudah pulang dari sekolah?" tanyaku.


"Iya aku sudah pulang dari sekolah, seandainya kau sekolah seperti kami, Ari mungkin kau juga akan pulang di jam-jam seperti ini."


"Hah? Jadi kau baru pulang? Kata paman Santoso kau pulang di jam 10.00 atau di jam 11.00," jelas ku dan sedetik kemudian kami kini telah duduk di atas tanggul, tersusun rapi menatap ke arah pemandangan sawah yang luas yang terlihat masih dibajak ,sudah beberapa hari ini suara mesin traktor terdengar mengisi suara dicampur dengan suara alam yang terdengar begitu merdu.


Aku melirik menatap teman-temanku yang kini terlihat begitu tersenyum, raut wajah mereka kini menjadi lebih bahagia daripada sebelumnya. Aku terdiam sejenak, apakah mungkin itu karena mereka yang baru pertama kali sekolah, ya sepertinya memang seperti itu.


Mereka pasti sangat bahagia karena hari ini adalah hari pertama sekolah.


"Bagaimana rasanya sekolah hari ini?" tanyaku yang menatap satu persatu ke arah teman-temanku yang nampaknya masih tersenyum bahagia bahkan sangat-sangat membahagiakan.


"Aku melihat ada banyak teman-teman di sana, mereka memakai baju baru seperti aku. Kau tahu Ari, kami tadi belajar memperkenalkan diri."


"Benar kami memperkenalkan diri dan asal kau tahu tadi, Ririn menangis dalam kelas karena tidak ingin memperkenalkan namanya di depan teman-teman semua."


Semuanya tertawa tertawa saat Cai menceritakan kejadian tadi sementara Ririn malah menggaruk kepalanya dengan rasa malu. Aku juga ikut tertawa begitu pula dengan Angga yang tak berselang lama bersahut, "Kau tidak tahu, aku juga punya teman saat pengenalan pertama waktu sekolah dia juga menangis persis seperti Ririn tapi sayangnya dia setelah menangis turun dari depan dan memeluk mamanya karena malu."


"Lalu apa yang kau lakukan di sekolah selain memperkenalkan diri?" tanyaku.


"Kami juga bermain, ada banyak permainan di sana tapi waktu pertama sekolah banyak orang tua murid-murid yang datang ke kelas."


"Kenapa orang tua juga datang di sekolah?"


"Karena mereka malu ini kan pertama kalinya masuk sekolah?"


"Tapi aku lihat Paman Santoso tidak pergi ke sekolah."


"Ya iyalah karena kan aku pemberani tidak seperti teman-temanku yang harus ditemani oleh orang tuanya di sana."


"Wah, di sana pasti sangat seru."


"Sangat seru Ari, aku sekarang punya tugas."

__ADS_1


"Tugas?"


"Tugas itu artinya PR. Aku punya PR yang harus dikerjakan di rumah."


"Wah, itu sangat seru sekali," kagum ku.


"Bener Ari. aku punya dua tugas. Aku tidak sabar untuk mengerjakannya nanti."


"Kau tidak sabar mengerjakannya, Ami? Aku bahkan sudah menyelesaikan tugas itu."


"Wah, kau sudah menyelesaikannya? Cepat sekali."


"Ririn, jangan terlalu rajin!" ujar Angga.


"Bukan aku yang rajin tapi mamaku yang mengerjakannya."


Aku yang sejak tadi terdiam kini mengernyit bingung lalu kembali berkata, "Bukannya itu tugas untuk kau tapi kenapa mama kau yang mengerjakannya?"


"Tentu saja mamaku yang mengerjakannya, bocah kecil seperti aku mana mengerti pelajaran seperti itu. Ini kan pertama kali sekolah jadi aku belum tahu apa-apa tapi aku yakin sekolah ternyata sangat enak."


"Benarkah?" tanyaku yang begitu sangat penasaran.


"Benar, aku bahkan dapat uang jajan rp5.000 tadi," jelas Ami.


"Iya, Angga. Aku membeli teh gelas, roti dan gorengan. Ada bakwan yang dijual di kantin dan rasanya sangat enak."


"Besok aku akan bawa uang rp6.000 dan makan bakwan sebanyak-banyaknya pasti sangat lezat," sambung Ami.


"Oh ya, kau juga suka bakwan yang dijual Tante Mia?"


"Tante Mia!" tanyaku yang ikut mengambil alih pembicaraan.


"Iya Tante Mia, Tante Mia itu yang punya kantin di sekolah. Ia menjual banyak makanan di sana. Aku sering pergi beli di sana."


"Oh jadi ibu-ibu yang memakai jilbab besar itu namanya Tante Mia?"


"Iya namanya Tante Mia?"


"Iya. Aku punya rahasia kecil dengan Tante Mia."


"Apa?" tanya Cai, Ririn dan Ami yang begitu penasaran sementara aku menggangguk menandakan jika aku juga begitu penasaran.


"Aku akan menceritakannya tapi kalian jangan bicara dan memberitahukannya kepada siapa-siapa pun," bisiknya sambil menunjuk membuat kami dengan serentak saling mengganggu.

__ADS_1


"Aku akan memberitahunya. Aku pernah membeli bakwan di tempat Tante Mia dengan uang robek, tidak ada yang tahu uang itu dan aku dapat bakwan yang banyak dari uang robek itu."


"Hah, bukannya itu dosa?" tanya ku.


"Itu tidak dosa yang penting kan itu tetap uang yang salah itu cuma robeknya saja."


"Aku lihat Tante Mia itu masih muda."


"Ah muda apanya, dia sudah tua. Suaminya itu telah meninggal karena sakit. Dulu suaminya adalah satpam di sekolah tapi semenjak suaminya itu meninggal maka tidak ada lagi satpam di sekolah."


"Oh seperti itu," jawab Ami.


"Di sekolah banyak sekali teman-teman ya?" tanya ku.


"Ada banyak orang ternyata di sana dan aku pikir di sekolah itu hanya ada satu guru tapi ternyata ada banyak dan setiap kelas memiliki guru yang berbeda."


"Aku juga lihat tadi acara upacara banyak orang yang berbaris. Ada yang tingginya seperti Angga dan ada tingginya seperti kita semua yang masih kecil," jelas Ririn.


"Kalau kelas 1 SD memang kecil tapi kalau kau sudah kelas 3 seperti aku maka kau juga akan memiliki tinggi seperti aku," jelas Angga dengan bangga.


"Ari!" panggil Ami membuat aku menoleh.


"Andai kau sekolah mungkin kau akan melihat acara kegiatan upacara tadi."


"Benarkah?" tanyaku dengan perasaan begitu penasaran.


"Benar, aku tadi melihat ada anak-anak yang seusia dengan kami, mereka membawa bendera terus mengibarkannya di tiang sekolah dan banyak orang yang memberikan hormat."


"Ada juga musik yang dinyanyikan saat bendera itu dinaikkan."


"Wah, rasanya aku sangat senang dan semangat melihat bendera itu."


"Benar, ternyata aku baru tahu kalau Indonesia yang kujadikan tempat lahir ini memiliki bendera merah putih sama seperti seragam yang kita gunakan ini."


"Kau tahu kan seragam sekolah kita?" tanya Ami yang menatap aku sebelah mata.


"iya aku tahu. Aku pernah melihatnya saat aku pergi ke kota bersama bapak membeli alat pancing," jelas ku.


Tentu saja aku masih mengingatnya bahkan hal itu yang membuat aku menjadi semangat agar bisa sekolah.


"Selain itu kami juga memberi hormat seperti ini," ujar Ami sambil ia memberikan hormat membuat aku mengangguk bahkan aku baru tahu ternyata seperti itu jika memberi hormat.


...📗📗📗...

__ADS_1


__ADS_2