
...✏️✏️✏️...
Rasanya aku begitu ketakutan, kedua mataku berair seakan aku ingin menangis setelah wanita itu memarahiku. Aku dengan cepat berlari pergi memasuki toko menghampiri bapak yang rupanya tidak mendengar suara wanita itu yang sedang marah-marah dan tentu saja sedang memarahiku.
Aku yang begitu sangat ketakutan itu melangkah mundur sembari kedua mataku yang menatap ke arah luar berusaha memastikan jika pemilik toko seragam sekolah itu tidak mengikutiku sampai ke dalam toko ini.
Aku tersentak kaget ketika tubuhku menabrak seseorang di belakang sana membuat aku menoleh menatap sang bapak yang sedang menatapku dengan wajah yang begitu kebingungan.
"Bapak!"
"Kau kenapa?" tanya bapak yang begitu bingung.
"Tidak aku tidak apa-apa," jawabku yang berhasil telah membuat aku berbohong.
Bapak nampak mengangguk dan sepertinya ia tidak memikirkannya terlalu panjang dan setelahnya ia kembali menawar beberapa harga setelah memilih beberapa pancing yang ia sukai. Aku menghembuskan nafas lega akhirnya bapak tidak lagi bertanya dan wanita itu tidak masuk dalam toko ini lalu kembali marah-marah dan tentu saja memarahiku.
Ya aku hanya tidak ingin jika bapak dan mungkin saja merupakan pemilik toko seragam sekolah itu beradu mulut hanya karena aku yang telah ceroboh dan berani menyentuh seragam putih sekolah itu.
Aku diam-diam menunduk menatap telapak tanganku yang terlihat begitu baik-baik saja.
"Tanganku tidak kotor, kok dan seragam sekolah tadi juga tidak terlihat kotor setelah aku menyentuhnya."
Aku mengalami nafas pendek dan kembali bicara, "wanita itu saja yang terlalu berlebihan, kalau aku punya uang lihat saja nanti aku akan membeli baju itu dan membuktikan pada wanita itu kalau aku juga bisa membeli seragam sekolah itu."
"Lihat saja, setelah aku membelinya aku akan langsung memakainya di hadapan wanita itu."
"Hah, dia bahkan seperti gadis penyihir, sangat-sangat jahat kalau dia berbicara kepada seluruh pembeli dengan seperti itu maka aku yakin tak ada orang yang mau membeli jualannya."
Setelah menawar beberapa harga aku dan bapak kini memutuskan untuk melangkah keluar dari toko menghampiri sepeda sementara aku terdiam menatap ke arah seragam sekolah yang telah aku sentuh tadi. Aku bisa melihat jika seragam itu benar-benar sangat keren, putih bersih dan celana yang tebal aku bisa merasakannya setelah aku menyentuhnya tadi.
__ADS_1
"Ari! Apa kau tidak ingin pulang?"
Pertanyaan itu sontak membuat aku menoleh menatap sosok bapak yang kini telah berada di atas sepedanya sambil kedua matanya menatap ke arahku. Aku tersenyum lalu tak berselang lama kembali menoleh ke arah seragam sekolah yang selalu mencuri perhatianku sejak tadi.
"Kau suka dengan seragam sekolah itu?"
Pertanyaan bapak membuat aku terbelalak dan membuat aku menoleh menatap ke arah bapak yang terlihat tersenyum.
"Aku suka dengan seragam itu."
"Apa kau ingin melihatnya?"
"Iya, pak. Ari mau. Sepertinya seragam itu sangat bagus. Tahun ini kata emak aku akan sekolah," ujarku begitu sangat semangat.
Mendengar hal itu membuat bapak kembali menuruni sepedanya dan kembali menyadarkannya di tiang.
"Kalau begitu mari kita lihat berapa harga dari seragam sekolah itu!" ajaknya lalu melangkah ke arah toko penjual seragam sekolah membuat aku terbelalak kaget.
"Apa kau suka ini?"
Pertanyaan itu terlontar dari mulut bapak sambil menyentuh seragam sekolah itu. Aku menggigit bibir, rasanya aku ingin berteriak agar bapak tidak menyentuh seragam sekolah itu. Aku tidak mau jika bapak juga ikut dimarahi oleh wanita yang mirip seperti penyihir setelah wanita itu memarahiku karena aku menyentuh seragam sekolah yang berwarna putih itu.
Aku menggaruk kepalaku dan tersenyum kecil saat bapak juga tersenyum menatap ke arahku. Rasanya aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahukan bapak agar tidak menyentuh seragam sekolah itu.
"Cari seragam sekolah bapak?" pertanyaan itu membuat aku dan bapak sontak menoleh menatap ke arah wanita yang seperti penyaring itu, hah rupanya wanita itu telah datang.
Aku menatap wanita itu takut saat wanita bak penyihir itu ikut menatapku dengan wajah sedikit tak senang dan melirik begitu sini seakan aku punya masalah besar dengannya.
"Berapa harga seragam sekolah ini?" tanya bapak tanpa basa-basi.
__ADS_1
Aku meneguk salifahku, berjalan sedikit mendekati bapak menyembunyikan wajahku dari tatapan tajam wanita penyihir itu.
"Bapak mau ukuran yang seperti apa?" tanya wanita itu ramah kepada bapakku.
Sudut bibirku terangkat menanggapi pertanyaan wanita itu. Entah mengapa kepadaku terlihat begitu sinis sementara kepada bapak begitu melihat manis. Apakah seperti ini cara merayu seorang pembeli.
"Kalau ukuran yang seperti ini berapa, ya?" tanya bapak sambil menyentuh seragam sekolah itu.
"Kalau harga ini 50.000 satu lembar beserta celana 30.000 berarti semuanya 80.000 ditambah perlengkapan yang lainnya seperti dasi, topi semua totalnya 105.000."
"Apa?" bisikku dengan wajah yang begitu sangat terkejut.
Semua yang diucapkan wanita itu mengenai harga seragam sekolah itu sangat mahal sekali. Bapak terlihat hanya mengangguk dan aku pikir bapak akan pingsan setelah mendengar harganya tetapi tidak. Dengan uang sebanyak itu mungkin bapak bisa membeli beberapa alat pancing dan jauh lebih bagus dari alat pancing yang beli saat ini.
"Kalau ukuran yang seperti anak saya ini?" tanya bapak sambil menepuk bahuku membuat wanita itu menatapku dari ujung kaki sampai kepalaku.
"Usianya berapa?"
"Delapan tahun, kira-kira harganya berapa ya?"
"Biasanya kalau orang membeli di sini selalu mengambil usia yang 9 tahun agar bajunya digunakan bisa lama terpakai."
"Oh seperti itu, kira-kira harganya berapa, ya? Apa mungkin juga jauh lebih mahal daripada itu?"
"Tidak juga tidak terlalu mahal, pak. Kita punya harga potongan untuk bapak. Satu harga baju itu bapak bisa membelinya dengan harga 55.000, celana dan beserta perlengkapan lainnya semuanya adalah 120.000 jelasnya membuat wajah bapak benar-benar mendatar sekarang.
Aku melongok dengan tatapan yang benar-benar tidak menyangka setelah mendengar harga seragam sekolah. Harga seperti itu bisa dengan santainya dikatakan tidaklah mahal. Aku bahkan merasakan jika jantungku berhenti berdetak saat aku mendengar harganya, itu terlalu mahal kami bahkan bisa makan ayam jika mempunyai uang sebanyak itu.
Bapak dengan cepat menjauhkan jemari tangannya dari seragam sekolah yang ia sejak tadi sentuh dengan santai. Sepertinya aku mengetahui apa yang sedang bapak pikirkan saat ini.
__ADS_1
Dan tak berselang lama bapak menatapku dengan tatapan yang terlihat begitu tidak bersemangat dan kini aku hanya mematung tepat di belakang bapak lalu tersenyum ragu.
...📗📗📗...